Bab. 7 Kritis

1087 Kata
Genta yang berada tidak jauh dari sungai, mendengar teriakan Aisyah minta tolong. Ia segera berlari ke arah sumber suara dan langsung menceburkan diri ke dalam air. Begitupun dengan Jaka dan Soni yang sedang bercakap-cakap langsung menuju ke tempat kejadian. Laura berhasil diselamatkan dalam keadaan pingsan. Genta langsung memberikan napas buatan, tetapi gadis itu tidak juga sadarkan diri. "Non bangun Non!" ujar Soni dengan panik. "Cepat bawa Laura ke rumah sakit!" seru Jaka yang melihat Laura tidak bereaksi juga. Bersama Jaka dan Aisyah, Soni segera membopong tubuh Laura ke mobil. Ketika sampai di rumah sakit terdekat, Laura langsung dilarikan ke UGD untuk mendapatkan pertolongan. Soni langsung melaporkan kejadian itu kepada Senopati. Dengan kejadian yang nyaris menelan jiwa. Jaka segera mengintrogasi Aisyah kenapa mengajak Laura ke sungai yang mempunyai aliran cukup deras itu. "Ayah sudah bilang berkali-kali jangan berenang di sungai tanpa pengawasan. Kenapa kamu melanggarnya?" tanya Jaka dengan serius. "Maaf Ayah, Ai nggak bermaksud mencelakai Kak Laura," ucap gadis itu dengan penuh penyesalan. Jujur Jaka sangat takut sekali, jika tadi tidak ada Genta, pasti tubuh Laura sudah hanyut terbawa arus. Ia kemudian berpesan kepada putrinya. "Ayah mohon, jangan lakukan lagi!" pesan Jaka dengan penuh kekhawatiran. Aisyah tahu apa yang dirasakan oleh Jaka. Ia kemudian memeluk ayahnya dengan erat seraya berucap, "Maafkan Ai yang sudah membuat ayah cemas." Jaka tampak mengangguk kecil dan mengelus hijab putrinya dengan penuh kasih sayang. Sejam kemudian Senopati sudah datang ke rumah sakit tempat Laura dirawat. Terlihat wajahnya sangat panik dan takut. Ia langsung menemui dokter yang menangani Laura. "Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Senopati dengan cemasnya. "Putri Bapak terlalu banyak minum air. Kami telah melakukan yang terbaik dan seharusnya korban sudah siuman. Akan tetapi, sebuah benturan di kepala membuatnya koma," jelas dokter memberitahu. Senopati tampak terkejut mendengarnya dan menegaskan, "Apa Dok, putri saya koma?" Ia langsung lemas seketika. Pria itu langsung memanggil Soni untuk menanyakan kenapa Laura bisa sampai tenggelam, meskipun sudah memberikan penjelasan. Pria itu tetap menyalahkan Soni, Jaka dan Aisyah karena sudah lalai. "Jika terjadi sesuatu terhadap Laura kalian harus bertanggungjawab!" ujar Senopati dengan marahnya. *** Laura tampak senang sekali bermain di sebuah taman yang indah. Ia juga bertemu banyak orang di sana. Dari yang masih bayi, anak-anak, orang dewasa bahkan para manula. Semua sangat ramah dan baik. Akan tetapi, dirinya tidak tahu di mana tempat itu berada. "Laura," panggil seorang wanita cantik yang memakai sebuah gaun berwarna putih. Laura menoleh dan tampak terkesima melihat wanita itu yang seperti seorang putri kecantikan dunia. "Ibu memanggil saya?" tanya Laura sambil mendekati. "Kemarilah kita duduk di sini?" ajak wanita itu dari bangku di pinggir kolam. Tanpa rasa takut Laura pun mendekati dan duduk di sebelah wanita itu. "Ibu cantik sekali," puji Laura mengagumi. Wanita itu pun tersenyum dan balik menyanjung, "Kamu juga sangat cantik." "Tapi ibu lebih cantik dariku," ujar Laura kembali. Lagi-lagi wanita itu hanya tersenyum dan mengajak Laura berdiri. "Lihatlah kamu jauh lebih cantik dari ibu!" Laura menatap pantulan dirinya dan wanita itu di atas kolam air. Ia tampak tercengang ketika menyadari wajah mereka sangat mirip. Hanya saja Laura memiliki mata yang lebih indah. "Siapa ibu, kenapa wajah kita begitu mirip?" "Aku adalah--" "Laura cepat pulang, sebentar lagi taman ini mau ditutup!" seru seorang penjaga dengan bertubuh tegap. "Iya tunggu sebentar Pak!" pinta Laura yang segera menengok ke arah wanita tadi, tetapi sudah tidak ada di tempat. "Eh... kemana ibu tadi?" tanya gadis itu dengan heran. Laura melihat taman itu tiba-tiba sudah sepi dan memutuskan untuk pulang. Semoga saja dirinya bisa bertemu dengan wanita itu lagi besok hari. Ia tampak menunggu Soni untuk menjemput, tetapi bodyguardnya itu tidak kunjung datang. Tidak lama kemudian gadis itu melihat seseorang yang dikenalnya, turun dari mobil dan menuju ke arah berlawanan dari tempat Laura berdiri. "Om Rudi!" panggil Laura kepada pengacara keluarganya itu. Ia merasa heran kenapa pria itu tidak mendengar dan melihatnya. Laura segera mengikutinya sampai di depan sebuah rumah sakit. "Om Rudi, mau jenguk siapa ya?" tanya Laura dengan heran dan kembali membuntuti. Laura terus mengikuti ternyata pria itu masuk ke salah satu kamar pasien. Dari balik kaca pintu ia melihat Rudi sedang berbicara dengan ayahnya. "Papi sedang menjaga siapa?" tanya Laura dengan heran. "Jangan-jangan mami masuk rumah sakit," tebaknya yang segera masuk ke kamar itu. "Sudah tiga hari Tuan di sini, makanlah barang sedikit!" saran Rudi sambil membawakan nasi kotak dan minum. "Aku tidak mau makan sebelum dia sadar. Rudi, jika dirinya tidak selamat. Tolong urus jasad kami dan kuburkan secara berdampingan!" pesan Senopati dengan penuh kesedihan. "Tuan tidak boleh berkata seperti itu. Bunuh diri sangat dilarang dalam agama. Rohnya tidak akan diterima oleh bumi dan langit!" Rudi memberikan nasihat kepada Senopati. Sambil menyeka air matanya Senopati pun menyahuti, "Aku tidak perduli, daripada hidup tanpa dirinya. Dia alasanku untuk tetap bertahan selama ini." Laura belum pernah melihat ayahnya sangat sedih seperti itu. Selama ini ayahnya terlihat tegas dan sangat percaya diri. Kini tidak punya semangat dan gairah hidup lagi. Bahkan sudah seperti mayat hidup. "Maafkan aku, cintaku, hidupku, nafasku," ucap Senopati dengan rasa sedih yang teramat pilu. Mendengar itu Laura merasa terenyuh. Ternyata ayahnya sangat penyayang, "Mami, jangan tinggalin aku!" teriak Laura sambil menerobos untuk melihat ibunya. Akan tetapi, ia tampak tertegun ketika melihat sosok yang sedang terbaring. Tampak selang infusan, alat bantu pernapasan terpasang di tubuh ramping itu. Laura pun tersadar jika orang itu dirinya sendiri. "Laura maafkan papi sayang, bangunlah aku akan mengabulkan semua permintaanmu. Jangan tinggalin papi sendiri!" ujar Senopati yang sangat terpuruk sekali. Senopati sungguh menyesal telah memberikan hukuman kepada Laura. Andai waktu itu dirinya tidak mengikuti emosi. Pasti semua ini tidak akan terjadi. Ia bisa gila kehilangan putri semata wayangnya. "Papi ini aku," panggil Laura sambil terisak. Ia kemudian memeluk ayahnya tetapi tidak bisa tersentuh. "Kenapa aku tidak bisa memegang?" tanya gadis itu dengan heran. Senopati menatap monitor detak jantung yang semakin lambat. Ia kemudian mengecup kening Laura dengan penuh cinta. Lalu pria itu menatap Rudi dengan saksama. "Jaga Laura dan segera kabari aku, ingat pesanku Rudi!" serunya sambil berlalu. "Baik Tuan," sahut Rudi dengan patuh. Dengan tubuh lunglai Senopati memutuskan untuk pulang. Ketika sampai di rumah, pria itu langsung masuk ke kamarnya. Ia lalu menatap sebuah lukisan seorang wanita cantik. "Maafkan aku Lauren, sebentar lagi kita akan bersama-sama," ucap Senopati sambil menitikkan air mata. Pria itu kemudian mengambil sebuah botol kecil yang berisi racun. Lalu Senopati duduk di depan lukisan itu dengan ponsel di sebelahnya. "Ya Allah, tolong selamatkan Laura. Aku bersedia menukar nyawa untuknya," doa Senopati dengan tulus. Tidak lama kemudian handphone itu pun berbunyi. Senopati segera menerima panggilan dari Rudi. "Tuan, Laura telah...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN