Tuan Senopati tampak tersenyum getir mendengar Rudi mengatakan Laura telah bangun dari komanya. Pria itu berpikir mungkin putrinya ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya, sungguh ia tidak sanggup.
"Katakan kepada Laura aku sangat mencintainya dan sampaikan salam maafku!" pesan Senopati dengan air mata yang berjatuhan.
"Laura telah melewati masa kritisnya Tuan dan dia sekarang sedang diperiksa oleh Dokter. Kalau tidak percaya saya vido call ya," ujar Rudi mengakhiri percakapan itu beralih penggilan lainnya.
Senopati melihat Laura sudah membuka mata dan memanggilnya.
"Papi, jangan tinggalin aku!"
Tanpa membuang waktu lagi, Senopati mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Ia langsung menuju ke rumah sakit karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Laura.
"Alhamdulillah.., terima kasih Ya Allah," ucap Senopati yang tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur.
Ketika sampai di rumah sakit, Senopati tampak tergesa-gesa menuju ke kamar inap Laura. Ternyata benar putrinya sudah sadar yang masih ditemani oleh tenaga medis dan Rudi
"Laura," panggil Senopati langsung memeluk putrinya dengan erat.
"Papi," lirih Laura yang masih terlihat lemas.
"Tadi detak jantung Laura sangat lemah. Saya kira tidak akan sanggup bertahan, tetapi Laura tiba-tiba sadar," ujar Rudi yang tidak menyangka Laura bisa melewati masa kritis karena harapan hidupnya sangat tipis sekali.
"Takdir manusia sudah ditentukan oleh Allah, kita tidak tahu kapan waktunya akan tiba," sahut dokter yang juga tidak
percaya karena semua terjadi di luar kemampuan manusia.
Senopati tidak henti-hentinya menciumi Laura dan berucap, "Maafkan papi sayang, jangan pergi lagi!"
"Laura yang seharusnya minta maaf, aku janji akan jadi anak yang baik," ucap Laura sambil terisak.
"Kamu tidak salah, papi yang egois," sanggah Senopati sambil memeluk putrinya kian erat. Ia berjanji akan menjaga Laura dengan sepenuh hatinya.
Rudi dan dokter menyaksikan semua itu dengan haru. Senopati yang tegas kini bisa rapuh karena rasa cintanya.
Dengan pelan-pelan Laura menceritakan, jika musibah itu terjadi karena kelalaiannya sendiri. Ia juga memberitahu kebaikan Aisyah, Jaka terutama Genta. Laura mengaku bisa siuman karena mendengar suara gadis itu mengaji.
"Laura tidak tahu bagaimana jadinya, kalau tidak ada Genta dan diriku berhutang nyawa kepadanya. Aku mau bertemu mereka Pi!" pinta Laura yang ingat semuanya.
"Kita akan ke sana bersama-sama. Tapi, setelah kamu sudah fit. Sekarang makan yang banyak ya!" Senopati menyetujui keinginan putrinya.
Laura tampak mengangguk lemah dan menyahuti, "Aku mau makan bareng papi!"
Senopati menyuruh Rudi untuk membeli makanan. Tidak berapa lama kemudian, ayah dan anak tampak makan bersama. Senopati dengan telaten menyuapi putrinya. Sehingga membuat Laura senang mendapat perhatian dan kasih sayang, meskipun harus melewati cara yang menguras emosi dan air mata.
"Pi, boleh Laura tahu sesuatu?" tanya Laura yang dijawab anggukan oleh Senopati. "Ketika koma, aku bertemu dengan seorang wanita cantik yang mirip denganku. Kira-kira siapa orang itu Pi?"
Senopati tampak tersenyum haru dan menjawab, "Nanti kalau sudah pulang ke rumah Papi kasih tahu siapa wanita itu sebenarnya!"
"Kenapa tidak beritahu di sini saja?" desak Laura kembali.
"Karena ada sesuatu yang harus kamu lihat dulu," sahut Senopati yang sudah siap memberitahu semuanya.
Senopati ambil cuti demi menemani Laura. Ia tidak lagi gila kerja dan lebih ingin menghabiskan waktu bersama putrinya. Pria itu tidak mau melakukan kesalahan yang sama lagi. Musibah dan selamatnya Laura melewati masa kritis. Seolah menamparnya dengan keras agar tidak lalai dan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diberikan Allah.
***
Setelah kondisi Laura kian membaik, dokter memperbolehkannya pulang. Senopati mengadakan syukuran besar-besaran atas selamatnya Laura melewati masa kritis. Untuk memenuhi keinginan Laura, ia menyuruh Soni untuk menjemput Genta yang telah menyelamatkan nyawa putrinya beberapa kali, tetapi hanya jaka dan Aisyah yang datang. Mereka disambut sebagai tamu istimewa.
Senopati tidak sungkan meminta maaf kepada kepada Jaka dan Aisyah karena telah menyalahkan mereka atas musibah yang menimpa Laura. Ia menyadari awal masalah karena keputusannya sendiri.
"Saya minta maaf dan berterima kasih. Atas apa yang telah terjadi dan memperlakukan Laura dengan baik selama tinggal di rumah kalian," ucap Senopati yang sudah berburuk sangka.
Jaka mengangguk kecil dan menyahuti, “Iya Pak, saya sangat mengerti perasaan anda, tetapi lain kali tolong dipertimbangkan kembali jika ingin meninggalkan Laura di tempat asing!”
“Saya memang salah, sudah mengikuti emosi. Sikap dan perbuatan Laura benar-benar menguji kesabaranku waktu itu.” Senopati mengakui kekeliruannya dalam mendidik Laura.
“Semoga apa yang telah terjadi menjadi pelajaran yang berharga untuk kita,” ujar Jaka yang membuat Senopati mengangguk.
“Sayang sekali kenapa Genta tidak hadir dalam acara ini, padahal saya ingin mengucapkan rasa terima kasih secara langsung kepadanya,” ujar Senopati yang sangat berharap bisa bertemu dengan Genta.
“Genta sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Dia titip salam untuk Laura dan Bapak,” jawab Jaka memberitahu.
Senopati tampak heran kenapa Genta tidak meminta imbalan kepadanya. Ia menduga mungkin pria itu sedang berpikir untuk meminta bayaran yang setimpal.
Sementara itu Laura dan Aisyah terlihat sedang bercakap-cakap di kamar. Kehadiran gadis berkerudung itu membuat Laura merasa senang dan terhibur. Bahkan ia meminta Aisyah untuk menginap.
“Kamu temani Kakak ya beberapa hari, please!” pinta Laura dengan penuh harap.
“Nanti Aisyah bilang sama ayah dulu ya Kak, boleh atau tidak,” sahut Aisyah yang dijawab anggukan oleh Laura.
Setelah acara syukuran selesai, Jaka langsung berpamitan pulang malam itu juga, “Terima kasih atas undangan Pak Senopati, semoga Mbak Laura selalu diberi kesehatan. Kami pulang dulu ya.”
“Ayah bolehkah aku menginap untuk beberapa hari?” tanya Aisyah meminta izin.
“Boleh ya Pak Jaka, hanya untuk beberapa hari saja.” Laura juga ikut membujuk.
Jaka tampak berpikir sesaat rasanya tidak enak karena tidak mau dibilang aji mumpung.
“Pak Jaka jangan khawatir, saya akan menjaga Aisyah dengan sebaik mungkin,” ujar Senopati yang ikut mendesak secara tidak langsung.
“Baiklah, tetapi lusa kamu sudah harus pulang.” Akhirnya Jaka mengizinkan putrinya untuk menginap. Sehingga membuat Laura dan Aisyah terlihat senang sekali.
Laura kembali meminta, “Pak Jaka, kalau bisa nanti yang menjemput Aisyah Genta ya!”
Jaka tampak mengangguk dan berpesan, “Aisyah jangan nakal dan tidak boleh merepotkan!”
“Baik Ayah,” jawab Aisyah dengan patuh.
Baru saja mereka hendak masuk ke rumah, tiba-tiba sebuah mobil datang.
Seorang pria tampan turun dari kendaraan mewah itu.
"Selamat malam Laura," ucap Roby sambil tersenyum dengan mempesona.
"Malam, ayo Aisyah!" sahut Laura sambil buru-buru masuk.
"Laura tunggu, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya!" pinta Roby yang hendak mengejar, tetapi dihalangi oleh Senopati. "Kenapa aku dilarang untuk bertemu dengan Laura?" protesnya kemudian.
Senopati menatap Roby dengan tajam dan menyahuti, "Waktunya tidak tepat, aku sedang memperbaiki hubungan kami. Setelah itu baru dirimu berusaha untuk mendapatkan kepercayaan Laura kembali. Sekarang pulanglah jangan membuat keadaan jadi semakin buruk Roby!" serunya dengan tegas.
Roby mendengus kesal dan tahu jika Senopati masih menyalahkannya atas apa yang telah terjadi terhadap Laura. Saat ini Ia tidak mungkin memaksakan kehendak. Itu akan membuat Senopati murka dan bisa fatal buat pertunangannya dengan Laura.
"Oke Laura, aku akan mengalah untuk saat ini!" desis Roby sambil meninggalkan rumah itu dengan kecewa.