Bab. 9 Bara Masa Lalu

1052 Kata
Malam mulai merambat ketika sebuah mobil berhenti di depan rumah sederhana. Seorang lelaki berbadan tegap turun dari kendaraan itu. Lalu membukakan pintu untuk pria berpenampilan parlente. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi lagi. "Kenapa kamu ke sini?" tanya seorang wanita dengan terkejut. "Kamu harus ikut denganku sekarang juga!" sahut pria itu dengan serius. Wajah wanita itu pun tampak pucat dan menyahuti, "A-aku belum siap, tolong beri waktu beberapa hari lagi!" "Jangan kebanyakan alasan, aku tidak punya banyak waktu!" Ia kemudian menarik wanita itu untuk ikut dengannya. "Tunggu, aku belum menyiapkan baju!" pinta wanita itu kemudian. "Tidak perlu, aku akan membelikan yang baru," sahut pria itu dengan memaksa. Tiba-tiba seorang anak kecil datang dan bertanya, "Ibu mau pergi ke mana?" Bocah lelaki berusia sekitar lima tahun itu segera mengejar sambil terus memanggil, "Ibu, aku ikut!" pintanya yang tidak mau ketinggalan. Wanita dan pria itu menghentikan langkah dan berbalik menatap bocah itu dengan saksama. "Tolong biarkan aku bicara dengannya untuk yang terakhir kali!" pinta wanita itu dengan penuh harap. "Jangan lama-lama!" seru pria itu sambil melepas cengkeramannya. Wanita itu kemudian kembali dan bersimpuh di hadapan seraut wajah yang tidak berdosa itu. "Ibu mau pergi kerja dulu ya, buat beli mainan. Kamu jangan nakal dan harus nurut sama ayah!" pesan wanita itu sambil menahan tangisnya. "Ibu kapan pulang?" tanya bocah itu dengan polosnya. Wanita itu kemudian memeluk putranya dengan erat seraya berkata, "Besok sore ibu akan pulang!" Ia kemudian segera berdiri dan pergi tanpa menoleh lagi. "Ibu, aku ikut!" bocah itu kemudian mengejar, tetapi terjatuh di jalan dan menangis. "Ibu tunggu! Hu.., hu...." Namun, kendaraan itu terus melaju. Kian menjauh sampai hilang oleh jarak, sedangkan bocah itu terus memanggil ibunya sambil menangis tersedu. "Ibu...!" Genta tampak terjaga dengan napas yang tersegal. Ia kemudian membasuh mukanya yang tegang. Terlihat peluh bercucuran dari pelipis dan menjalar ke tubuh kekarnya. Entah mengapa mimpi buruk itu sudah beberapa hari ini terus menghantuinya. Pria itu menatap jam yang baru menunjukan pukul dua pagi. Ia segera turun dari ranjang dan menuju ke serambi rumah. Lalu menatap sekeliling yang masih gelap. "Tumben bangun, habis mimpi buruk lagi?" tanya Jaka yang tiba-tiba datang. "Gerah cari angin, kamu sendiri kenapa belum tidur?" Genta balik bertanya tanpa menoleh. Jaka kemudian bersandar di tiang dan menjawab, "Biasa habis tahajud." "Apa yang kamu dapatkan?" tanya Genta kembali. "Harus aku jawab?" Kini giliran Jaka yang balik bertanya. Genta menatap ke langit di mana bulan dan bintang tampak bersinar. Hanya Pemandangan itu yang bisa menenangkan hatinya sejak bertahun-tahun. "Dengan melihat langit kamu hanya mendapatkan ketenangan sesaat," ujar Jaka seolah tahu apa yang sedang Genta rasakan. "Aku belum mengantuk." Genta memberikan sanggahan jika dirinya baik-baik saja. Jaka tersenyum seolah tahu apa yang Genta rasakan. "Salat malam bisa membuat hati yang gusar jauh lebih tenang. Selain itu bisa ibadah dengan khusyuk dan doa kita akan cepat terkabul oleh Allah," timpalnya memberikan nasehat. "Aku rasa kamu terlalu sering mendongeng buat Aisyah sebelum tidur," ujar Genta sambil berlalu dan merebahkan tubuhnya di balai bambu dengan kedua tangan sebagai bantal. Genta menganggap apa yang dikatakan oleh Jaka seperti angin lalu. Entah sudah berapa malam ia bersujud memohon agar seseorang yang dicintainya cepat kembali. Namun, setelah bertahun-tahun lamanya. Tidak pernah sekalipun terkabul. Sampai hatinya lelah meminta dan mengikis kepercayaan pria itu. "Dia tidak pernah ada," tegasnya dengan sebuah kemarahan yang terpendam. "Terkadang, Allah menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkan doa kita," sahut Jaka kembali. "Aku tidak perlu nasihatmu, lebih baik kamu carikan aku pekerjaan!" Genta ingin kesibukan agar mimpi itu tidak kembali terulang. Jaka kemudian menyanggupi dengan sebuah syarat, "Baiklah aku akan bantu, tetapi besok kamu jemput Aisyah ya!" Genta menoleh dan menatap Jaka dengan tajam. Sorot matanya seolah meminta penjelasan kenapa harus dia. *** Pada siang harinya Jaka sampai di rumah Senopati. Ternyata Genta menolak untuk menjemput Aisyah. Padahal Senopati akan menawarkan pria itu pekerjaan. Laura terlihat sedih dan merasa Genta kian menjauh darinya. "Pak Seno, Mbak Laura kami pulang ya. Maaf kalau Aisyah merepotkan selama menginap di sini," pamit Jaka ketika menjemput Aisyah. Senopati tampak mengangguk dan menyahuti, "Sama-sama Pak, Aisyah tidak merepotkan sama sekali. Laura sangat senang mempunyai teman sebaik Aisyah." "Kak, Aisyah pulang dulu ya," pamit Aisyah sambil memeluk Laura dengan hangat. "Jangan lupa chat Kakak, kalau sudah sampai rumah. Ini hadiah buah kamu!" pesan Laura sambil memberikan beberapa paper bag buat Aisyah. Aisyah kemudian menerimanya sambil berkata, "Tidak usah repot-repot Kak!" "Anggap saja kenang-kenangan!" Laura tidak mau pemberiannya ditolak. Ia memberikan gadis itu banyak hadiah. Mulai dari baju baru, sepatu, dan tas kesayangan Laura. Aisyah menoleh ke arah Jaka yang tampak mengangguk kecil. Ia kemudian berucap, "Terima kasih banyak Kak." Ia lalu menyalami Senopati. "Assalamualaikum...," ucap Aisyah dan Jaka. "Waalaikumsalam...," balas Laura dan ayahnya secara bersamaan. Laura kemudian melambaikan tangannya sampai mobil yang mengantarkan Aisyah ke luar dari pintu gerbang. "Jangan sedih sayang! Kapan-kapan kita main ke rumah Aisyah. Papi juga bisa menyewa bodyguard yang jauh lebih hebat dari Genta." Senopati berusaha menghibur Laura agar tidak merajuk lagi. "Aku maunya Genta, Pi," sahut Laura yang tetap pada keinginannya. Senopati tampak berpikir sejenak dan menyanggupi, "Ya sudah nanti papi akan suruh Om Rudi untuk datang ke Bogor. Biar bicara dengan Genta secara langsung." Mendengar itu Laura tampak tersenyum dan berucap, "Terima kasih, oh ya katanya Papi mau cerita siapa wanita yang mirip dengan aku!" tagihnya kemudian. Ia sangat antusias sekali untuk mengetahui siapa wanita itu. "Ayo ikut Papi!" ajak Senopati sambil merangkul Laura menuju ke kamar pribadinya. Laura memang jarang masuk ke kamar pribadi ayahnya. Itupun ketika masih kecil dan di rumah yang lama. Mereka kemudian menuju ke sebuah dinding yang tertutup. Senopati lalu menarik tali untuk membuka tirai itu. Laura tampak tercengang ketika melihat sosok wanita yang terdapat di sebuah lukisan besar. Ia masih ingat betul wajah itulah yang menemuinya pada saat koma. Di mana wajah, warna kulit, rambut persis sepertinya. Hanya warna mata saja yang berbeda. "Perhatikan baik-baik! Apakah wanita ini yang kamu lihat?" tanya Senopati sambil menatap lukisan seorang wanita sangat cantik dan terlihat berkelas dengan penuh cinta. "Iya benar dia wanita itu. Bagaimana mungkin Papi punya lukisannya, siapa dia?" jawab Laura sambil balik bertanya. Ia sudah tidak sabar untuk mendengarnya. Senopati tampak menghela napas panjang. Mungkin sudah waktunya Laura mengetahui sebuah rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan. Dirinya takut tidak sempat menceritakan karena hanya dia yang tahu sepenggal kisah cinta yang tragis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN