Bab. 10 Tirai Kelabu

1007 Kata
Senopati tampak memejamkan mata, lalu membukanya dengan perlahan dan mulai bercerita, "Laurensia Federica, seorang putri bangsawan dari Eropa. Terlibat skandal dengan seorang pengawal pribadinya. Dia tahu pasti keluarganya akan menentang bila sampai mengetahui. Namun, besarnya cinta membuatnya nekat dan mereka melakukan hubungan terlarang. Apa yang ditakutkan pun terjadi." Laura tampak mendengarkan dengan saksama. "Kenapa bisa ketahuan Pi?" tanya gadis itu penasaran. "Lauren hamil keluarganya sangat murka sekali dan dia dipaksa untuk menggugurkan kandungannya, tetapi gagal. Ternyata janin itu sangat kuat dan untuk menutupi aib, dia diasingkan ke sebuah rumah di tengah hutan," jawab Senopati yang mulai teringat kejadian dua puluh lima tahun yang lalu. Sungguh malang nasib Laurensia, mencintai seorang pria miskin. Namun, cinta tidak mengenal kasta, hingga asmara itu membawa petaka. Malam itu Lauren melahirkan seorang bayi perempuan yang prematur. Tidak lama kemudian pria yang dicintainya datang secara sembunyi-sembunyi. "Ed, bawa pergi anak kita. Sebelum keluargaku membuangnya. Berjanjilah untuk menjaganya dengan segenap jiwa ragamu!" pesan Laurensia sambil berderai air mata. "Baiklah Lauren, ayo kita tinggalkan negeri ini!" ajak Ed yang siap membawa kekasihnya pergi. Laurensia menggeleng seraya berkata, "Mereka akan terus memburu kita. Pergilah Ed, aku akan baik-baik saja!" "Aku tidak mau pergi tanpamu!" tolak Ed yang tidak tega meninggalkan kekasihnya menanggung derita cinta seorang diri. "Jangan egois Ed, ingat kita punya anak. Berjanjilah kepadaku jangan pernah ceritakan kisah cinta kita, sampai waktunya tiba! Dengan kau membahagiakannya aku akan merasa bahagia," tolak Lauren yang siap berkorban demi cinta dan buah hatinya. Edward pun terisak pilu meratapi penderitaan cinta ini. Andai waktu dapat diputar kembali, ia akan mencintai wanita itu dalam diam saja. Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari luar rumah. "Ambil anaknya dan buang yang jauh! Lalu cari terus pria itu dan habisi dia!" "Cepat pergi Ed!" seru Lauren dengan ketakutan. Tanpa berpikir panjang lagi, Ed langsung menggendong bayi itu dan ke luar lewat jendela dan masuk ke dalam hutan. Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan Laurensia yang sangat menyayat hati. Senopati tampak mengepalkan tangan dengan kuat, menahan amarah yang mulai berkobar. Dadanya terasa sesak mengingat masa lalu yang pilu. Sehingga membuat matanya berkaca-kaca. Laura juga terisak mendengar cerita itu. Sambil sesenggukan ia pun berkata, "Pasti bayi itu aku, hu... hu...." Senopati memeluk putrinya dengan erat. Sambil mengelus rambut Laura dengan perlahan. "Sekarang kamu paham kan? Kenapa papi sangat menjagamu dengan ketat karena dirimu lahir prematur jadi gampang pingsan." "Kenapa Papi baru cerita sekarang?" tanya Laura sambil menyeka air matanya. "Karena papi menunggu waktu yang tepat untuk memberitahumu. Aku tidak mau kehilanganmu Laura, cukup Lauren saja. Kaulah alasanku untuk tetap bertahan," jawab Senopati dengan hati yang lebih plong sedikit karena masih banyak rahasia yang tidak perlu Laura ketahui. Laura kembali bertanya, "Terus bagaimana dengan nasib ibu, apakah masih hidup?" Senopati tampak menggeleng dan menyahuti, "Tiga minggu setelah melahirkan, dia meninggal karena pendarahan. Lalu aku memutuskan untuk menetap di Indonesia karena negeri ini cukup aman untuk kita." "Sekarang ceritakan kenapa Papi bercerai dengan mami?" tanya Laura yang merasa harus tahu semuanya. "Mami, tidak mau nurut sama papi. Dia selalu membangkang dan melawan. Akhirnya aku memberikannya pilihan untuk tetap bertahan atau berpisah," jawab Senopati secara garis besarnya saja. "Meskipun Mami Meta bukan ibu kandungku. Laura tetap sayang kepadanya, kenapa Papi sangat membenci mami?" tanya Laura yang ingin mendamaikan kedua orang tuanya. Dengan wajah yang menegang Senopati kemudian menjawab, "Karena Meta ingin merebutmu dariku." Laura terdiam dan teringat dengan ajakan Meta untuk melawan Senopati. Sebenarnya ia kurang puas dan tidak percaya begitu saja dengan jawaban ayahnya. Laura harus mendengarkan alasan kedua belah pihak karena merasa ayahnya masih menyembunyikan banyak rahasia. "Aku harus bicara sama mami secara langsung, tetapi papi pasti tidak akan mengizinkan. Untuk saat ini lebih baik aku menuruti semua perintah papi." Laura bertekad untuk menyingkap semua rahasia itu. "Kenapa terdiam, apakah Meta sudah menghasutmu?" tanya Senopati dengan curiga. Laura tampak menggeleng dan mengalihkan pembicaraan, "Terus siapa keluarga kita Pi. Seperti paman, kakek dan sepupu?" "Papi yatim piatu, itulah kenapa hubungan kami tidak direstui. Sementara itu semua keluarga Lauren sudah tiada, tewas dalam kebakaran rumah," jawab Senopati sambil tersenyum senang. Laura merasa miris mendengarnya. Kini ia mengerti kenapa ayahnya keras dan suka mengatur. *** Genta sudah mantap dengan keputusannya. Mengikuti perasaan yang menuntunnya untuk menghadapi kenyataan. Mungkin dengan kesibukan, ia bisa melupakan masa lalunya yang kelam, meskipun itu tidak mungkin. Cukup sudah dirinya selama ini hidup dalam kesunyian untuk menghindari kenyataan hidup. Jaka datang ke kamar Genta sambil membawa surat rekomendasi. Jika calon pekerja yang akan dikirimnya adalah orang pilihan. Dengan skill dan memiliki pengalaman dalam bidang keamanan. Ia melihat Genta sudah siap, penampilannya juga lebih rapi dari biasanya. "Kau tampan dan macho sekali," puji Jaka sambil menatap pria itu dengan saksama. "Seharusnya Aisyah yang datang memujiku," sahut Genta sambil tersenyum simpul. "Jangan, Ai masih terlalu muda untuk patah hati," ujar Jaka secara tidak langsung menyindir Genta yang anti perempuan. Genta tidak menjawab dan segera menyambar berkas itu, lalu membacanya sesaat. Entah mengapa hatinya begitu resah dan berdebar seolah akan terjadi sesuatu, tetapi ia segera menepis. Baginya pantang mundur bila sudah memutuskan. "Oh ya, kamu dapat salam dari Laura. Padahal dia berharap sekali bisa bertemu denganmu," ujar Jaka memberitahu. "Keadaannya baik-baik saja kan?" tanya Genta dengan acuh tak acuh. Jaka tersenyum dan menjawab, "Dia sedih kamu tidak mau datang ke rumahnya." "Hemm...." Genta tidak menanggapi dan meraih tas ransel. "Aku jalan," pamitnya sambil memeluk Jaka. "Hati-hati semoga sukses!" ujar Jaka sambil menepuk bahu Genta. Berat sebenarnya Jaka melepas Genta yang sudah dianggap seperti adik sendiri. Mereka telah bersahabat cukup lama. Dipertemukan oleh takdir ketika keduanya merantau ke Ibukota. Bersama merasakan pahit dan kerasnya kehidupan. Akan tetapi, setiap orang harus menjalani garis hidupnya masing-masing. Tidak lama Aisyah juga datang dan ikut mengantar Genta sampai depan teras. "Hati-hati ya Bang," ujar gadis itu terlihat sedih. "Iya, kamu belajar yang rajin!" pesan Genta dan berucap, "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," sahut Aisyah dan Jaka melepas kepergian Genta. Genta segera menghidupkan motor dan melaju dengan perlahan. Setelah pria itu hilang oleh jarak, tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah Jaka. Aisyah dan ayahnya saling pandang dan merasa heran siapa gerangan yang datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN