Obsesi

2005 Kata

Fadhil memejamkan mata, sementara kedua tangannya menutupi telinga. Ia sudah tak tahan lagi mendengar ocehan Miya yang semakin lama semakin mirip dengan ocehan mendiang Mira. Oh, Tuhan! Apa semua perempuan harus sebawel ini setelah berstatus menjadi istri? Keluh Fadhil di dalam hati. Belum menikah saja aku sudah kena omel begini, apalagi setelah menikah? Bisa-bisa setiap hari harus mendengarkan kebawelan istri. Huft! Fadhil meneguk ludah dengan perasaan tersiksa. “Mana janjimu untuk menyewa jasa bersih-bersih daring, Mas? Ya, ampun! Baru seminggu aku nggak kemari, rumah sudah seperti hutan,” oceh Miya tak henti-henti. Miya mendesah, lalu berdecak saat melihat laba-laba besar yang tengah bersantai di sarangnya yang tebal di sudut ruang tamu. Laba-laba itu tidak sendiri. Sepupu si laba-

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN