Ditolak Karena Gemuk
"Maaf, saya nggak bisa terima kamu karena ternyata kamu gemuk," ujar pemuda berjanggut tipis itu seraya menunduk.
Mata Kirani terbelalak. Ia tak menyangka akan ditolak mentah-mentah, bahkan pada perjumpaan pertama dengan pemuda yang baru akan dikenalnya lewat biodata.
"Lho, kamu nggak bilang kalau mau calon istri yang langsing?" tanya teman si janggut tipis tak kalah terkejut.
Alis tebal si pemuda sampai terangkat sebelah saking tak terima.
“Memang sih, tapi juga nggak segemuk ini,” sahut si janggut tipis seraya melirik Kirani dengan sudut mata.
“Di biodata kan sudah tercantum berat badannya,” tambah Laila, teman Kirani yang menjadi perantara perkenalan ini.
“Ya, tapi saya nggak menyangka kalau 70kg itu sebesar ini,” kilah si janggut lagi.
"Pokoknya saya nggak bisa, Maaf, permisi. Assalamualaikum," pungkasnya seraya bangkit dari kursi dan berlalu pergi.
Kirani, si alis tebal, dan Laila sama-sama terperangah. Semua tak menyangka akan reaksi di janggut tipis.
"Maafkan saya Mbak Laila dan Mbak Kirani. Saya kurang teliti memilih calon. Saya batalkan perkenalan ini. Maaf sekali lagi. Assalamualaikum," ujar si alis tebal seraya menangkupkan kedua belah telapak tangan di d**a.
Usai melempar salam, si alis tebal bergegas menyusul si janggut tipis yang telah jauh berjalan.
"Seno, tunggu!" serunya kencang.
Kirani dan Laila terbengong-bengong menatap kepergian kedua pemuda tersebut yang menggunakan sepeda motor. Kepulan asap putih dari knalpot motor tertinggal di belakang.
"Aku nggak akan mau ta'aruf lagi!" jerit Kirani disertai lelehan air mata di pipi.
Kirani bangkit dan mengambil tas bahunya, lalu bergegas keluar dari rumah Laila.
"Kirani! Tunggu!" pekik Laila yang kaget mendengar jeritan Kirani.
Kirani tak menghiraukan teriakan Laila, juga permohonannya yang meminta untuk tetap tinggal.
Kirani memacu sepeda motornya keluar dari pagar rumah Laila. Raungan sepeda motor yang digas dalam-dalam menutupi panggilan Laila di belakangnya.
Cukup! Cukup sudah selama ini Kirani bersabar. Ini sudah kali ketiga Kirani ditolak terang-terangan saat ta'aruf. Kirani kapok!
Ta'aruf pertama, Kirani ditolak karena merupakan anak tengah di keluarga.
"Maaf, saya mencari gadis yang anak sulung. Saya kan anak bungsu di keluarga, jadi ingin istri yang lebih dewasa dan bisa lebih mengayomi," ujar pemuda pertama.
What?! Apa hubungannya urutan kelahiran dengan kedewasaan, coba? Nggak masuk akal.
Saat pemuda pertama menolaknya, Kirani tidak kecewa. Ia bahkan merasa bersyukur batal berkenalan dengan lelaki yang kekanak-kanakan tersebut. Istri mengayomi suami? Enak saja!
"Maaf, saya nggak bisa teruskan perkenalan ini. Saya nggak menyangka kamu tidak bergamis," tolak pemuda kedua.
Kirani ternganga. Ia sampai kesulitan bernapas lantaran tak percaya mendengar alasan penolakan itu.
"Saya pikir karena di foto kamu berkerudung lebar, maka pasti bergamis besar juga," lanjut si pemuda.
“Ta--tapi saya--”
"Maaf, ya," potongnya sebelum pergi.
Tadinya Kirani hendak mengatakan bahwa ia bersedia bergamis, namun ucapannya keburu dipotong sebelum selesai. Bahu Kirani lunglai saat menyaksikan pemuda kedua pergi dengan tergesa-gesa.
Saat itu Kirani menangis karena ditolak dengan alasan yang sama sekali tak diduganya.
Setelah dua kali ditolak dengan alasan yang aneh, sekarang dia ditolak lagi karena alasan bentuk badan. Sangat menyakitkan.
"Cukuuup!" Teriak Kirani dari atas motor.
Emosi yang meluap membuat Kirani tak peduli tengah berada di jalan raya yang ramai. Bahkan ia sampai tak sadar telah menekan gas lebih dalam. Akibatnya ...
Brakkk!
Motor Kirani menabrak bagian belakang sebuah sepeda motor di depannya yang tiba-tiba berhenti begitu saja.
Kirani dan pengendara di depannya terpelanting jatuh. Kirani terduduk di aspal. Tubuhnya yang gemuk membuat ia tak bisa berguling jauh dari motornya yang tergeletak.
Nyeri terasa di seluruh p****t besarnya, tapi tak ada tulangnya yang terasa sakit. Ada untungnya juga memiliki tubuh yang gemuk. Bantalan lemak di seluruh tubuh membuat tulangnya selamat dari benturan.
"Mbak, kamu harus tanggung jawab!" seru seorang pemuda yang menghampiri Kirani dengan berkacak pinggang.
Kirani terbelalak. Belum hilang pusing di kepala, tiba-tiba sudah ada orang yang membentaknya.
Kirani menatap pemuda yang berdiri tepat di depannya. Wajah pemuda itu berbayang menjadi dua. Kirani heran, kenapa ada dua Lee Jong Suk di matanya?
"Motor saya ringsek akibat ulahmu, Mbak. Padahal saya harus menemui ibu saya yang sedang kritis," sentak Lee Jong Suk di depan Kirani.
Ah, bukan Lee Jong Suk. Mana mungkin Lee Jong Suk bicara bahasa Indonesia. Mana nyolot lagi.
Kirani menatap lekat sosok cemberut di hadapannya. Biarpun bukan Lee Jong Suk, asli, tapi tetap tamvan. Eh …..
"Apa lihat-lihat?!" bentak pemuda itu dengan mata melotot.
Ih, galak. Kirani mencibir. Meskipun ganteng maksimal, lelaki terseksi sejagat, kalau semenyebalkan ini mana ada gadis yang mau. Janda juga ogah kali.
"Mbak harus antar saya ke rumah sakit. Sekarang!" sentak si pemuda.
"Oh, eh, iya Jong Suk. Eh, iya, Mas …," jawab Kirani gelagapan.
Si pemuda menarik tangan Kirani agar lekas bangkit. Ia ngos-ngosan.
"Beuh! Berat betul kamu, Mbak," cetusnya spontan.
Ucapan yang sukses membuat Kirani merasa malu sekaligus terusik. Ini kedua kalinya berat badannya disinggung dalam satu hari. Ralat, dalam waktu kurang dari satu jam. Apes!
Kirani cepat bangun sendiri tanpa mengandalkan tarikan tangan si Jong Suk KW.
"Ayo, Mas. Saya antar," ujar Kirani gagah.
Kirani berjalan menuju sepeda motornya yang sudah kembali berdiri di tepi jalan. Beberapa orang yang menyaksikan tabrakan telah membantu menepikan motor. Berkat aksi gotong royong tersebut, kemacetan jalan akibat peristiwa tabrakan tidak berlangsung lama.
"Motornya nggak apa-apa ini, Mbak. Paling hanya miring sedikit shockbreaker-nya, nggak kayak punya si Mas yang harus masuk bengkel sana," kata bapak-bapak bertubuh ceking di dekat motor Kirani.
Sambil berbicara, si bapak ceking mengarahkan pandangan mata ke bengkel yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Kirani mengikuti arah pandang mata si bapak. Sepeda motor yang tadi ia tabrak sedang diperiksa oleh seorang montir di sana. Kebetulan sekali tabrakan motor Kirani dan Jong Suk KW terjadi tepat di depan sebuah bengkel.
"Oh, ya. Terima kasih, Pak," kata Kirani sopan.
Di dalam hati Kirani terasa nelangsa. Mengapa bukan dia yang ditanyakan kondisinya? Malah motornya lebih diperhatikan. Sedih.
"Cepat, Mbak! Saya sudah telat ini!" desak Jong Suk KW.
Huh! Jutek. Gerutu Kirani di dalam hati.
Saat Kirani siap memasukkan kunci untuk menyalakan motor, tangan si pemuda terulur dan merebut anak kunci.
"Eh?!"
Kirani kaget.
"Biar saya yang di depan. Apa kata orang kalau saya yang dibonceng?" ujar Jong Suk KW.
Suaranya terdengar jemawa di telinga Kirani.
"Tapi, Mas--"
"Nggak ada tapi. Saya ini lelaki, kamu perempuan nurut saja!" potongnya.
Jong Suk KW menyalakan sepeda motor Kirani.
"Ayo!" ajaknya pada Kirani yang masih berdiri bengong.
"Tapi," Kirani masih berusaha untuk protes.
"Naik!" titahnya tegas.
Kirani menurut. Begitu motor dilajukan oleh Jong Suk KW, seketika setangnya oleng.