Angka Sepuluh

1195 Kata
Untung motor segera dihentikan oleh Jong Suk KW. Kalau tidak, bisa-bisa Kirani kembali jatuh untuk kali kedua.   “Huft!” Kirani mengembuskan napas karena gemas.   Ia langsung turun dari motor, lalu berucap datar.   “Tadi saya mau bilang kalau lebih baik saya saja yang di depan. Mas keras kepala, sih,” sesal Kirani.   Lee Jong Suk KW terlihat malu. Wajahnya memerah dadu.   Tatapan prihatin Kirani lemparkan ke tubuh Lee Jong Suk KW di depannya. Sama seperti Jong Suk asli, KW-nya ini juga bertubuh sama kurus. Malah mungkin lebih kurus lagi.   “Saya sudah menduga Mas nggak akan kuat,” lanjut Kirani lantang.   “Hei! Jangan menghina, ya! Sadar nggak kalau kamu sudah melakukan body shaming!” bentak Jong Suk KW, kembali ke sifatnya yang mengesalkan.   Kirani membelalakkan mata, tak percaya pemuda di depannya masih bisa marah-marah padahal dia yang salah.   “Sudah cepat setir! Saya sudah telat!” salaknya lagi.   Dasar!   Kirani mengambil anak kunci tanpa komentar. Kirani menunggu Jong Suk KW naik ke motornya. Tapi kok pemuda itu nggak naik-naik? Kirani heran.   “Sudah, belum?” tanyanya.   “Sudah dari tadi ini. Kamu nggak merasa memangnya?” kata si pemuda, tepat di telinga kiri Kirani.   “Oh, kirain belum. Kok nggak terasa, ya,” Kirani cekikikan.   Ia mulai melajukan sepeda motor dengan lincah.   “Seringan bulu,” cetus Kirani spontan.   “Apa kamu bilang?!” desis pemuda di boncengan Kirani.   “Eh, nggak kok,” Kirani gelagapan.   “Jangan sembarangan, ya. Saya tusuk pakai jarum bisa kempes kamu,” ancamnya.   Dih, sadis! Kirani menggerutu di dalam hati.   “Kita mau ke rumah sakit mana, Mas?” tanya Kirani, mengalihkan topik.   “Rumah Sakit Harapan Semua,” jawab si pemuda.   Kirani melajukan motor dengan kecepatan sedang. Sesekali ia menyalip kendaraan yang berada di depannya dengan gerakan gesit. Biarpun gemuk, tapi dia amat lihai mengendarai sepeda motor.   Sebentar saja mereka sudah sampai di RSHS. Kirani menghentikan motor di depan gerbang RS.   “Kok nggak masuk?” tanya Jong Suk KW.   “Ya sampai di sini saja, Mas. Kan—“   “Mau ke mana kamu?” Jong Suk KW melotot dari balik punggung Kirani.   Ia bergeming, tak mau turun dari sepeda motor Kirani.   “Ibu saya sakit. Sepeda motorku ringsek nggak bisa dipakai. Kalau saya ada perlu kemana-mana jadi nggak bisa. Kamu harus tanggung jawab!” ujar Jong Suk KW geram.   “Maksud Mas?” Kirani mengerutkan dahi.   “Kamu harus ikut saya ke dalam. Kalau ada apa-apa kamu harus antar saya kemana-mana,” tegasnya.   “Hah?!” Kirani ternganga.   “Siapa suruh kamu nabrak saya,” timpalnya cuek.   Sadar akan kesalahannya, Kirani menuruti kemauan Jong Suk KW. Ia melajukan sepeda motor untuk masuk ke halaman RS, kemudian memarkirkan pada tempat yang disediakan.   Bersama-sama mereka berjalan berdampingan melalui lorong-lorong rumah sakit. Ehem, awalnya berdampingan tapi akhirnya menjadi beriringan. Kirani tertinggal di belakang Jong Suk KW.   Kirani megap-megap saat berusaha menyusul Jong Suk KW yang berjalan amat cepat di depannya.   “Tung—tunggu!” serunya terengah-engah.   Akan tetapi, permohonan Kirani tak diindahkan. Jong Suk KW terus berjalan cepat, tak melambatkan langkah kakinya. Sampai di sebuah belokan, Jong Suk KW menghilang dalam sekejap.   “Hosh! Hosh!”   Sekuat tenaga Kirani menyusul Jong Suk KW. Terlalu! Ini cowok memang tak berperasaan. Kirani menyeret langkah kaki agar lebih cepat lagi bergerak. Kirani memutar langkah ke belokan jalan tempat lenyapnya Jong Suk KW.   Bruk!   Seorang anak lelaki berkaos bola menubruk tubuh Kirani yang berbelok secara tiba-tiba.   “Maaf!” seru anak itu spontan.   Sebetulnya bukan salah si anak. Kelokan membuat orang yang berada di dua sisi jalan tak melihat satu sama lain.   “Nggak … apa-apa,” jawab Kirani lemah. Ia kehabisan napas.   “Ck! Lamban betul,” gerutu Jong Suk KW yang tiba-tiba sudah muncul kembali di depan Kirani.   Anak berkaos bola yang sudah siap berlari lagi mendadak mematung. Sepasang matanya memicing mengamati Kirani dan Jong Suk KW.   “Ayo lekas!” kata Jong Suk KW tak sabaran. Ia menarik tangan kiri Kirani.   Kirani terkejut disentuh tanpa permisi. Kontan ia menarik tangannya. Gemuk-gemuk begini dia masih punya harga diri. Seenaknya saja main pegang gadis perawan seting-ting ini! Bibir Kirani cemberut.   “Ahahahaha! Angka sepuluh!”   Anak berkaos bola menuding Kirani dan Jong Suk KW seraya terpingkal-pingkal.   Kirani melupakan kemarahannya pada Jong Suk KW. Ia beralih memandang anak berkaos bola dengan sorot mata keheranan.   “Eh, anak nggak sopan!” Jong Suk KW memaki.   Ia berkacak pinggang dan melotot ke arah anak berkaos bola.   “Hiiiy, takut!” si anak berlari menjauhi Kirani dan Jong Suk KW seraya terus tertawa-tawa.   Kirani memandang Jong Suk KW. Ia baru sadar maksud perkataan si anak tadi. Bila berdiri bersisian begini, dia dan Jong Suk KW memang mirip angka sepuluh. Kirani gemuk seperti angka nol, sedangkan Jong Suk KW kurus seperti angka satu.   “Dasar anak kecil,” umpat si Jong Suk KW.   Kirani jengah dengan pemuda ini. Meskipun setampan artis, tapi mulutnya sering mengeluarkan kata-k********r. Kirani risi.   “Ayo kamu cepat jalannya,” Jong Suk KW melirik Kirani dengan sudut mata.   Tanpa menunggu Kirani, Jong Suk KW kembali berjalan cepat mendahului Kirani. Kejadian tadi terulang kembali. Jong Suk KW berjalan cepat karena tubuhnya ringan, sementara Kirani yang gemuk tunggang langgang menyusulnya.   Jong Suk KW berhenti di depan pintu tertutup dengan cat berwarna putih. Cat warna khas rumah sakit. Kirani berdiri di belakang Jong Suk KW.   Ruang Anggrek. Kirani membaca tulisan tersebut di samping pintu. Apakah ini kamar perawatan VIP? Kirani membatin.   Jong Suk KW mengetuk salah satu dari dua daun pintu berwarna putih tersebut. Sebentar saja terdengar bunyi langkah kaki kecil mendekat, menyusul bunyi gerendel pintu digeser. Kemudian, salah satu daun pintu terbuka pelan. Seraut wajah tua berhiaskan senyuman muncul.   “Den Fadhil sudah datang,” cetusnya ceria.   “Iya, Mbok Yah,” jawab Fadhil lembut.   Oh, jadi nama si Jong Suk KW ini Fadhil, cetus Kirani di dalam hati. Namanya bagus, sayang perilaku si Fadhil berkebalikan dengan arti namanya yang berarti berbudi luhur, cela Kirani masih membatin.   Jangan meremehkan Kirani. Gemuk-gemuk begini Kirani pernah belajar bahasa Arab bersama teman-temannya sepengajian.   Mbok Yah membuka satu pintu lebih lebar, sehingga bisa dilewati oleh satu orang. Fadhil masuk ke dalam kamar.   “Ayo,” ajaknya dingin pada Kirani.   Kirani berusaha memasuki pintu yang terbuka, tapi ternyata tubuhnya tidak muat untuk lewat.   “Oh, nggak muat ya, Non,” cetus Mbok Yah polos.   Kirani tersentil dan gondok. Soal badan, ia memang sensitif dan cepat naik darah.   Mbok Yah membuka daun pintu yang lain. Barulah tubuh Kirani bisa masuk.   “Uhuk! Sama siapa kamu, Fadh?” tanya sebuah suara serak wanita dari dalam.   Kirani menoleh. Terlihat olehnya seorang wanita paruh baya yang pucat berbaring di ranjang serba putih. Kepalanya ditutupi topi jenis beanie.   Kirani merasa kikuk. Ingin rasanya ia tak berada di ruangan ini, tapi sudah telanjur masuk.   “Ibu, dia hanya—“   “Wah, gadis berkerudung. Coba kamu kemari, Nak,” panggil wanita yang terbaring di ranjang serba putih.   Setengah ragu Kirani mendekat. Ia ingin mengelak, tapi takut bersikap kurang pantas.   “Assalamu’alaikum, Bu,” sapa Kirani rikuh.   Tanpa pikir panjang, Kirani mencium tangan wanita di ranjang.   “Alim dan santun. Kamu calon istri yang tepat buat Fadhil,” celetuknya.   Eh, gimana? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN