“Ehem! Ibu, dia sebetulnya—“
“Jadi ini pacarmu yang baru itu, Fadh? Ibu senang kamu nggak cari cewek berbaju mini lagi,” potong ibunya Fadhil.
“Hem, gadis ini—“ Fadhil berusaha menjelaskan.
“Siapa namamu tadi?”
Ibu Fadhil menatap Kirani, sama sekali tak menghiraukan ucapan Fadhil.
“Kirani, Bu,” jawab Kirani jengah.
Ia merasa terjebak dalam situasi tak menguntungkan. Apapun masalah keluarga ini, ia tak mau terlibat.
“Cantik namamu, secantik orangnya,” puji ibu Fadhil seraya menatap lekat ke arah Kirani.
Kirani tersipu. Baru kali ini ia dipuji cantik.
Kriettt!
Bunyi pintu dibuka mengalihkan perhatian semua orang yang berada di dalam kamar.
Masuklah seorang wanita muda yang menggendong bayi dengan kain batik. Wajahnya yang belia tampak terkejut ketika melihat keberadaan Kirani di dalam kamar.
Kirani tersenyum seraya mengangguk sopan. Wanita itu balas tersenyum ke arah Kirani, lalu beranjak menuju ranjang.
“Ibu sudah baikan?” tanyanya lembut.
Ia meraih dan mencium punggung tangan wanita paruh baya di ranjang.
“Lumayan. Oya Miya, Ibu senang Masmu sudah bawa pacarnya kemari,” ujar ibu Fadhil ceria.
“Ha, pacar Mas Fadhil?” Miya menoleh ke arah Kirani dengan mata terbelalak.
“Oh! Saya—“
“Assalamu’alaikum,” sapa seseorang dari arah pintu.
Ucapan Kirani yang ingin menyanggah tenggelam oleh suara lelaki yang baru masuk ke dalam kamar.
“Wah, Om Adam sudah datang?” tanya Fadhil terkejut.
“Jawab salam dulu baru bicara,” tegur lelaki yang dipanggil Om Adam.
“Hehe. Iya, wa’alaikumussalam,” Fadhil cengengesan.
“Om baru datang sejam yang lalu. Tadi Om sudah ke sini tapi ibumu masih tidur, jadi Om ketemu dokter dulu,” jelas Adam.
Tatapan Adam mengedar ke seluruh ruangan dan berhenti pada Kirani dengan sorot mata penuh tanya.
“Syukurlah kamu sudah datang, Dam. Mbak jadi agak tenang. Oya, itu pacarnya Fadhil,” sahut ibu Fadhil. Tatapan beliau mengarah pada Kirani.
“Apa, Mbak Mira? Pacarnya Fadhil? Wow ...” Adam menatap Kirani dari atas sampai ke bawah.
“Permisi Bapak dan Mbak.”
Tiba-tiba datang seorang perawat. Semua orang menoleh.
“Saya harus mengecek kondisi Ibu sebelum kemo. Mohon maaf agar semua keluarga keluar terlebih dahulu,” pinta perawat sopan.
“Oh, baik. Ayo semua,” ajak Adam, memberi komando untuk keluar.
Fadhil, Miya, Mbok Yah, dan Kirani sama-sama berjalan di belakang Adam seperti anak bebek mengekor induk.
“Oh, iya! Pak Adam? Dokter ingin bicara lagi dengan Anda,” seru perawat tiba-tiba.
Adam menoleh, lalu menjawab cepat,
“Oh, ya? Baik. Siap, siap.”
Semua orang keluar dari kamar. Perawat menutup rapat pintu. Adam langsung pergi ke ruangan dokter. Tinggallah Kirani, Fadhil, Miya, dan Mbok Yah di luar kamar.
“Mas, aku pulang, ya,” kata Kirani.
“Tunggu! Kalau mau pergi, tinggalkan motormu di sini,” cegah Fadhil seraya mencekal lengan Kirani.
Kirani menepis kasar tangan Fadhil. Enak saja lelaki ini memegang tangannya.
“Apa? Nggak mau ...” tolak Kirani tegas.
“Harus! Kamu—“
“Mas, cewek ini betul pacarmu, bukan?” potong Miya.
“Bukan, Miy. Aku nggak jadi bawa Rena pacarku menemui Ibu, karena dia mendadak ada urusan keluarga,” sanggah Fadhil.
“Jadi ini siapa?” Miya menatap Kirani dengan dahi mengernyit.
“Dia menabrakku dalam perjalanan ke sini. Motorku rusak dan masuk bengkel. Jadi aku suruh dia yang mengantarku kemari,” jelas Fadhil panjang lebar.
“Oooh,” Miya mengangguk-angguk.
“Owaaa!” Bayi dalam gendongan Miya menangis. Tangannya menggapai-gapai d**a ibunya.
“Aku cari ruang laktasi dulu ya, Mas. Ini Zizah mau mimik,” pamit Miya seraya beranjak pergi.
“Kamu nggak bisa menahanku terus di sini. Memangnya aku siapamu?” lanjut Kirani geram.
“Kamu baru boleh pergi kalau urusanku di sini sudah beres,” ujar Fadhil bersikukuh.
Kedua tangannya bersidekap di d**a. Dagunya terangkat saat menatap tajam Kirani.
“Itu kan banyak saudaramu. Kamu nggak butuh motorku,” tukas Kirani lagi.
“Mereka nggak ada yang bawa motor. Kalau perlu apa-apa yang harus cepat, kami nggak ada kendaraan,” tangkis Fadhil.
“Hei, kalian,” tegur Adam yang tiba-tiba sudah kembali mendekati Fadhil dan Kirani.
Pertengkaran Fadhil dan Kirani terputus lagi.
“Ke mana Miya?” tanya Adam, celingukan.
“Ke ruang laktasi, Om. Bayinya rewel,” jawab Fadhil.
Adam mendesah dan mengusap wajah.
“Ada apa, Om? Apa kata dokter tadi?” tanya Fadhil khawatir.
“Duduk semua di sini,” ajak Adam.
Adam mendahului duduk di kursi panjang yang disediakan untuk pengunjung kamar pasien. Fadhil dan Mbok Yah ikut duduk, sementara Kirani berdiri bergeming. Ia sedang memikirkan cara untuk kabur dari Fadhil.
“Kirani, kamu sebagai calon anggota keluarga juga kemari,” panggil Adam.
Kirani meringis. Raut wajahnya terlihat tak rela. Ia ingin membantah, tapi waktunya belum tepat. Akhirnya, Kirani tetap mendekat walaupun segan.
“Ini kemo terakhir ibumu. Kemungkinan berhasilnya lima puluh persen. Bisa jadi ibumu selamat, bisa juga tidak,” urai Adam seraya menatap Fadhil lekat-lekat.
Fadhil dan Mbok Yah menunduk. Kirani sebagai orang luar ikut merasa tegang. Perkara hidup dan mati selalu membuat hatinya mencelus.
“Kita sudah memutuskan untuk mengambil kemo. Jadi, sebelum kemo dilakukan sebaiknya kita bicara yang baik-baik dengan ibumu,” lanjut Adam.
Fadhil terus menunduk, sementara Mbok Yah mengusap bulir bening di sudut matanya dengan ujung baju.
Krek!
Semua menoleh saat pintu kamar dibuka dari dalam. Wajah perawat muncul dan ia tersenyum.
“Kondisi fisik Ibu sudah dicek, Pak. Silakan jika ingin masuk kembali,” ujarnya ramah sebelum berlalu pergi.
“Ingat kata Om tadi, Fadhil. Sekali ini, jadilah anak yang baik jangan selalu membuat ibumu susah,” omel Adam dengan nada suara penuh penekanan ke arah Fadhil.
Adam bangkit dan masuk ke dalam kamar. Fadhil dan Mbok Yah mengikuti langkah Adam. Kirani sengaja tinggal di luar kamar. Ia tak mau terlibat dengan urusan keluarga Fadhil.
Saat pintu kamar menutup di depan matanya, Kirani mengembuskan napas lega. Sekarang kesempatan kabur terbuka lebar. Kirani berbalik lalu berjalan pergi.
Di dalam kamar, Adam dan Fadhil mendekati ranjang Mira.
“Kemo akan segera dilakukan, ya?” tanya Mira kepada Adam.
Adam mengangguk. Raut wajahnya sedih dan resah.
“Jangan cengeng, Dam. Mbak tahu resiko kemo kali ini. Kita hanya berikhtiar, selebihnya pasrah,” ujar Mira tegar.
“Bila sudah tak ada waktu lagi, aku minta maaf atas semua kesalahanku kepadamu, Mbak,” ujar Adam serak.
Mira mengangguk. Pandangannya teralih ke arah Fadhil.
“Fadhil, kamu anak sulung harapan Ibu. Kalau terjadi apa-apa terhadap Ibu nanti, Ibu mau kamu berjanji,” ujarnya.
“Janji apa, Bu?” tanya Fadhil bergetar.
“Mana Kirani? Ibu ingin dia ada di sini,” Mira celingukan.
“Oh, dia ...” Fadhil kebingungan untuk memberi penjelasan.
Belum sempat Fadhil memutuskan sikap, Adam sudah beranjak dan membuka pintu.
“Kirani, Kirani!" panggil Adam kepada Kirani yang belum jauh pergi.
Kirani terpaksa membalikkan badan kembali.
"Kamu ikut masuk,” seru Adam lagi.
“Sa—saya?” Kedua bola mata Kirani membulat. Perasaannya mendadak tidak enak.
Adam menatap ke belakang Kirani.
“Miya! Ayo lekas masuk ketemu ibumu,” ujar Adam senang.
Kirani menoleh ke belakang, ia dapati Miya berjalan mendekat secara tergesa-gesa dari kejauhan. Bayinya tidur dalam dekapan.
Miya tak berbicara, ia langsung masuk ke dalam kamar dengan raut wajah tegang.
“Ayo, Kirani,” Adam menatap tajam ke arah Kirani.
Mau tak mau Kirani terpaksa ikut masuk ke dalam kamar.
“Ini Kirani, Mbak,” ujar Adam setelah Kirani masuk.
“Kemari, Nak,” panggil Mira.
Tatapan dan panggilan itu begitu lembut. Kirani semakin tak enak hati. Ia mendekat dengan penuh keraguan.
Mira memegang tangan Kirani di tangan kanan, dan memegang tangan Fadhil di tangan kiri.
“Bila Ibu tak selamat kali ini, Ibu ingin kalian segera menikah. Berjanjilah, Fadhil,” kata Mira tegas.
Kirani ternganga dengan raut wajah tak karuan. Pandangannya berkunang-kunang dan seisi kamar serasa berputar.
Kemudian gelap. ***