Tubuh Kirani doyong dan meluncur turun.
“Aaa!” jerit Miya tertahan, saat tubuh Kirani miring ke arahnya. Raut kengerian terpancar dari wajah Miya.
“Wah, wah!” seru Fadhil kaget.
Fadhil sigap bergerak dan menangkap tubuh Kirani. Sayangnya, badan kurus Fadhil tak sanggup menahan beban seberat itu. Fadhil terjatuh lebih dulu ke lantai, sebelum tubuh Kirani menindihnya sampai terdengar bunyi berdebum.
Malang tak dapat ditolak. Sudah jatuh tergencet pula.
“Aaargh!” teriak Fadhil kesakitan.
Miya tak sanggup melihat kejadian itu. Ia menutup kedua matanya dengan sebelah telapak tangan, tapi jari jemarinya direnggangkan karena penasaran ingin mengintip.
“Astaga!” seru Adam syok.
Lekas-lekas Adam menggulingkan tubuh Kirani agar Fadhil terbebas dari gencetan. Fadhil mengerang lagi.
“Sudah jangan cengeng begitu. Makanya kamu rajin nge-gym biar badanmu kekar,” marah Adam.
Sudah celaka, masih dimarahi lagi. Apes!
Adam membantu Fadhil untuk bangkit. Fadhil mengusap-usap pinggulnya yang sakit karena tertimpa badan Kirani.
Kirani tergolek di lantai, terlupakan.
“Kirani kok tiba-tiba pingsan?” tanya Mira kebingungan.
“Mungkin dia lupa sarapan, Bu. Biasanya orang gemuk kan sering diet,” jawab Fadhil asal-asalan.
“Tadinya Ibu ingin Kirnai juga berjanji bersamamu, tapi apa boleh buat,” ujar Mira pasrah.
“Kamu mau kan memenuhi keinginan Ibu kali ini?” lanjut Mira serius. Tatapan mata Mira mengarah lurus ke arah Fadhil, menuntut jawaban.
“Aku—aku—“ Fadhil terbata.
“Fadhil, kamu sudah semakin tua. Bukan lagi saatnya pacaran untuk bersenang-senang. Menikah, itu yang Ibu ingin. Penuhilah keinginan Ibu sekali ini saja,” desak Mira lirih.
Sepasang mata Mira berkaca-kaca.
Fadhil memutar otak. Ia tak mungkin berjanji menikahi Kirani. Memangnya siapa dia? Teman bukan, pacar apalagi. Maaf saja, Kirani bukan tipe gadis idamannya.
Setelah puas memeras otak, --kalau cucian mungkin air perasannya sudah dapat satu ember—Fadhil mendapatkan akal bulus.
“Ya, Bu. Fadhil berjanji akan segera menikah,” ujar Fadhil seraya menunduk takzim.
Mira memejamkan mata seraya menghela napas lega. Mira tak tahu, Fadhil sengaja berjanji tanpa menyebutkan nama Kirani. Ia hanya berjanji menikah, tapi tidak menyebutkan bahwa akan menikah dengan Kirani.
Jauh di lubuk hatinya, Fadhil sudah berniat melamar Rena pacar barunya. Rena merupakan gadis seksi berbadan semlohai yang bekerja sebagai model.
“Nah, begitu. Jadi sekarang Ibu tenang. Jika terjadi apa-apa terhadap Ibu, hidupmu sudah akan ada yang mengurusi,” desah Mira puas.
Fadhil menggaruk-garuk daun kupingnya yang mendadak terasa gatal mendengar alasan yang diberikan oleh sang ibu. Hatinya ingin memberontak dan mengatakan bahwa ia sudah cukup dewasa untuk mengurusi diri sendiri. Ia bukan anak kecil lagi. Akan tetapi, kondisi kesehatan Mira membuat Fadhil memilih bersikap bijak untuk tidak membantah.
Kriet!
Suasana damai tiba-tiba terusik oleh bunyi kayu berderit. Mira, Fadhil, dan Miya menoleh. Terlihat Adam mengusap peluh di pelipis. Di depan Adam, Kirani terbaring pingsan di kursi panjang yang terbuat dari kayu.
Sesaat sebelumnya, Adam teringat akan Kirani yang masih tergeletak di lantai. Demi rasa perikemanusiaan, ia berjuang menyeret tubuh Kirani dan memindahkannya ke kursi.
“Sejak pertama melihat Kirani, Ibu punya perasaan bahwa Kirani itu gadis yang baik. Kamu tidak akan sengsara bersamanya,” cetus Mira lagi.
Fadhil menunduk, hingga Mira tak melihat bibir putranya yang maju satu senti. Di dalam hatinya Fadhil merutuk. Ia menyesalkan keadaan dirinya yang harus tertabrak motor Kirani. Andaikan ia tidak ditabrak oleh Kirani, pastilah dia tidak akan mengalami situasi serumit ini.
Bumyi pintu diketuk mengalihkan perhatian semua orang.
“Permisi. Sudah waktunya Ibu Mira dikemo,” kata perawat yang muncul di ambang pintu.
Keluarga Fadhil menyaksikan Mira yang dibawa oleh perawat menuju ruang kemo dengan brankar. Sorot mata mereka semua cemas dan penuh harap dalam doa. Setelah Mira berlalu, satu demi satu mereka keluar dari kamar perawatan.
Setelah beberapa meter keluar dari kamar, Miya menyadari sesuatu.
“Eh, Mbak Kirani bagaimana?” tanya Miya yang baru teringat kepada Kirani.
“Urus, Fadh. Dia kan calon istrimu,” kata Adam spontan.
“Hah? Dia bukan—“ mendadak Fadhil menutup mulut dengan telapak tangan.
Fadhil belum ingin mengungkapkan kenyataan tentang Kirani kepada Adam di tengah situasi genting begini. Daripada nanti dia ditanya-tanya, lebih baik diam dulu.
“Huh, jadi beban saja,” gerutu Fadhil pelan.
Ia kembali masuk ke dalam kamar dengan setengah hati.
Di dalam kamar, Fadhil bingung tentang cara membangunkan Kirani dari pingsan. Ia berjalan mondar-mandir di dekat tubuh Kirani.
“Lebay, pakai pingsan segala lagi,” omel Fadhil.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak Fadhil. A-ha! Fadhil menjentikkan jempol dan telunjuk. Senyumnya terkembang lantaran merasa idenya sangat brilian. Bergegas Fadhil masuk ke dalam kamar mandi, lalu keluar lagi dengan segayung air di tangan kanan.
Fadhil menghampiri Kirani yang terbaring tak berdaya. Fadhil duduk di tepi kursi, lalu ia memercikkan air dari gayung ke wajah Kirani. Tetes-tetes air serupa hujan membuat Kirani terpaksa membuka mata. Ia terkejut dan menjerit saat mendapati wajah Fadhil di depan wajahnya.
“Aaa! Mau apa kamu?!” bentak Kirani ketakutan.
Lekas-lekas Kirani bangun, lalu memeriksa kerudung dan seluruh bajunya kalau-kalau ada yang terbuka tanpa ia ketahui.
Fadhil mencebik melihat aksi Kirani.
“Nggak usah ge-er, ya. Siapa juga yang berminat membuka bajumu,” cela Fadhil.
“Eh, biar begini aku ini gadis terhormat. Siapa tahu kamu khilaf dan berniat mem—memper—“ Kirani terbata-bata.
Fadhil tertawa mengejek. Kirani merasa benci setengah mati kepada Fadhil. Seluruh rasa simpatinya yang pernah ada kini sirna, hingga yang tertinggal hanya rasa muak.
Kirani cepat menurunkan kaki, lalu bergerak pergi keluar dari kamar. Rasa geram Kirani sudah sampai ke ubun-ubun. Hanya satu tujuan Kirani saat ini, lekas pergi dari rumah sakit menyebalkan ini.
“Hei, tunggu!” seru Fadhil dari belakang Kirani.
Kirani tak memedulikan panggilan Fadhil. Ia terus berjalan dengan raut wajah yang marah. Fadhil berlari menyusul Kirani keluar dari kamar perawatan.
“Hei, hei!” panggil Fadhil lagi.
Dengan cepat Fadhil sudah berhasil menyusul Kirani. Tubuh kurus Fadhil membuat ia mampu berjalan dan berlari seperti angin. Dalam waktu singkat Fadhil berhasil menyejajari langkah kaki Kirani.
“Kamu marah, ya? Maaf, maaf,” ujar Fadhil lirih.
Kirani melirik Fadhil dari sudut mata, tapi tetap tak menghentikan langkah kakinya.
Huh, si Sombong ini masih punya perasaan juga rupanya? cela Kirani di dalam hati. Meskipun hati Kirani menyahut, tapi mulutnya tetap bungkam.
Fadhil mengamati wajah masam Kirani, lalu berkata lagi,
“Kamu pasti tersinggung, ya? Maaf, ya. Aku keterlaluan.”
Kirani kembali melirik Fadhil. Ada kesungguhan yang terpancar dari wajah serius Fadhil. Kebekuan hati Kirani sedikit mencair. Akhirnya Kirani bersedia membuka mulut lagi.
“Kamu jawab apa tadi tentang permintaan ibumu?” tanya Kirani mengalihkan topik.
Fadhil yang melihat Kirani sudah mau bersuara lagi, menganggap Kirani sudah memaafkannya.
“Ya, aku berjanji akan menikah,” jawab Fadhil ringan.
“Apa?! Aku nggak mau!“ pekik Kirani lantang.
Seketika Kirani menghentikan langkah kaki. Fadhil ikut berhenti.
“Heh! Ge-er banget jadi cewek. Siapa yang sudi menikahimu,” sergah Fadhil.
“Lha, itu. Katamu tadi—“
“Aku jnaji akan menikah, tapi nggak bilang mau menikah denganmu,” potong Fadhil tak sabar.
“Oooh,” desah Kirani lega.
Jujur saja, Fadhil ini sebetulnya tipe idaman Kirani. Tapi melihat mulut lemasnya dalam berkata kotor membuat simpati Kirani berubah menjadi antipati. Apalagi cowok ini terlihat tak menghargainya sama sekali.
“Ya sudah, aku pulang. Kayaknya ibumu nggak perlu motorku,” Kirani mengeloyor pergi.
Kali ini Fadhil membiarkan Kirani. Rasa khawatir akan keselamatan ibunya membuat Fadhil tak bisa memikirkan hal lain lagi. Fadhil berbalik langkah ke arah sebaliknya dengan arah kepergian Kirani.
Fadhil melangkah gontai menuju ruang kemoterapi Mira. Ia berjalan sambil menunduk, dengan wajah muram dan mulut yang mengerucut. Pikiran Fadhil terasa kalut, akibat banyaknya peristiwa yang terjadi bersamaan pada hari ini.
Pertama-tama, Renata kekasihnya menolak untuk ikut menjenguk Mira di rumah sakit. Fadhil masih terbayang-bayang percakapannya dengan Renata di rumah indekos pacarnya tadi pagi.
“Maaf, Mas. Adikku tiba-tiba mau datang. Aku harus menjemputnya di stasiun kereta sekarang juga,” kata Renata.
“Lho, kok mendadak begitu sih, Ren? Kan sudah sejak tiga hari yang lalu kita janjian mau mengenalkanmu kepada ibuku di rumah sakit?” sergah Fadhil tak terima.
“Iya, Mas. Aku juga baru ditelepon Mama barusan. Lain kali saja kita bertemu ibumu,” sahut Renata.
“Ya sudah kalau begitu. Besok atau lusa saja kita ke rumah sakit,” kata Fadhil mengalah.
“Ehm, Mas? Antar aku ke stasiun, dong? Nanti pulangnya aku bisa sewa taksi bersama adikku,” pinta Renata seraya menggelayut manja.
Fadhil melotot. Sebetulnya ia ingin berkata bahwa waktunya tidak banyak. Bahwa ibunya akan menjalani kemoterapi yang penting pada hari ini. Akan tetapi, sikap centil Renata yang mengedip-ngedipkan mata saat menatap wajah Fadhil membuat Fadhil tak bisa berkutik.
“Ayo, deh aku antar,” kata Fadhil akhirnya.
“Makasih, Mas,” cetus Renata gembira.
Sebuah ciuman ringan dilayangkan Renata ke pipi kiri Fadhil. Fadhil merasa wajahnya memanas. Mereka berdua berangkat menuju stasiun kereta yang arahnya berlawanan dengan arah ke rumah sakit.
Akibat mengantarkan Renata, Fadhil terlambat memenuhi janjinya untuk datang ke rumah sakit. Sepulangnya dari stasiun kereta, Fadhil memacu gas sepeda motornya dalam-dalam.
Entah karena belum diservis atau memang motornya protes, tiba-tiba sepeda motor Fadhil mogok di tengah jalan raya. Mesin yang mati begitu saja di tengah jalan membuat beberapa pengendara di belakang motor Fadhil terkejut, lalu lekas-lekas memiringkan setang untuk menghindari tabrakan.
Sepeda motor Kirani tiba-tiba saja muncul dan menabrak motor Fadhil dari belakang. Fadhil yang hendak menepikan sepeda motor menjadi terpental. Perasaan Fadhil yang sudah tidak enak sejak Renata menolak ikut ke rumah sakit menjadi bertambah buruk dengan keteledoran Kirani.
Langkah kaki Fadhil sudah mendekati ruang kemoterapi Mira.
“Fadhil, cepat kemari! Kemo sudah selesai dan ibumu kritis!” panggil Adam dari kejauhan.
Fadhil yang sedari tadi menunduk, langsung mendongak ke arah Adam. Fadhil tercekat mendengar panggilan Adam. ***