Kirani melangkah gontai ke areal parkir rumah sakit. Tubuhnya lelah. Hatinya lelah. Kejadian hari ini terasa amat berlebihan dan di luar batas ambang kemampuan Kirani.
Kirani keluar dari areal parkir, lalu melajukan sepeda motornya pelan-pelan. Kirani tak mau kejadian tabrakan motor yang menimpanya barusan terulang lagi. Jujur saja, sebetulnya Kirani agak trauma dengan peristiwa tabrakan dengan Fadhil. Tangan Kirani yang memegang setang sepeda motor sampai gemetaran saking gugupnya.
Kirani sampai di rumah menjelang sore hari. Cuaca panas dan terik telah berganti menjadi lebih teduh, tapi rasa gerah semakin meraja. Keringat membanjir dari tengkuk dan anak-anak rambut Kirani dan membasahi kerudungnya. Bagian ketiak baju Kirani bahkan sudah lama basah dan membentuk pulau besar. Kirani mandi keringat.
Kirani memarkir sepeda motornya di halaman depan pelan-pelan.
“Assalamu’alaikum,” kata Kirani saat memasuki pintu depan.
Demi mendengar suara salam Kirani, Marni, ibu Kirani keluar dari dalam ruang keluarga. Sudah menjadi kebiasaan Marni setiap sore untuk menonton teve.
“Wa’alaikumussalam. Ya ampun, kok pulangnya baru sekarang, Ki?” tegur Marni.
Kirani diam. Ia memilih melepas kerudung terlebih dahulu. Kepalanya sudah basah dan mengeluarkan bau tak sedap.
“Kamu pergi ke mana saja? Kok pulangnya sampai terlambat begini. Oya, kamu jadi ketemu dengan lelaki yang ingin dikenalkan oleh Laila?” cecar Marni bertubi-tubi.
Rasanya Kirani ingin lari dan menceburkan diri ke dalam kolam renang sekarang juga untuk mendinginkan badan dan pikiran. Apalagi ditambah dengan cecaran pertanyaan Marni barusan.
“Kamu bau keringat banget. Cepat mandi,” titah Marni sambil menutup hidung.
“Iya, Bu. Ini juga Kirani mau mandi. Ibu seperti tidak tahu saja risiko berbadan subur. Ibu sendiri kan juga sama dengan aku,” cetus Kirani kesal.
Kirani melirik badan Marni yang tinggi besar dengan berat badan 100kg lebih. Kirani yakin, tubuh gemuknya merupakan turunan dari sang ibu. Perbedaannya, Kirani gemuk dan pendek, sedangkan ibunya tinggi besar.
“Tapi kan Ibu nggak pernah sampai keringatan seperti kamu,” tuding Marni sambil mendengkus.
Kirani berlalu dengan mulut cemberut. Sambil mengambil handuk yang tergantung di jemuran pakaian, Kirani teringat akan sosok ayahnya yang telah tiada. Ayahnya tidak terlalu tinggi, bahkan dapat dikatakan tubuhnya termasuk pendek untuk ukuran lelaki.
Kirani tidak mengerti, apa yang membuat ayahnya tertarik kepada ibunya di masa muda. Konon, Marni sudah memiliki tubuh gemuk semasa masih gadisnya, sama seperti Kirani.
Kirani memasuki kamar mandi sambil terus melamun dan berkhayal. Andaikan saja, ia mewarisi tubuh tinggi ibunya dan tubuh ideal ayahnya, mungkin ia tak akan pernah diolok-olok orang karena bentuk tubuh.
Eh! Astagfirullahalazim. Kirani beristigfar. Lekas-lekas ia mengusir pikiran berandai-andai barusan. Kata ustazah di pengajiannya, khayalan berandai-andai seperti itu bisa menjadi jalan masuk setan untuk menggoyahkan iman.
Usai mandi dan mengenakan bedak talk ke seluruh tubuh, Kirani mengenakan pakaian rumah andalannya yang paling nyaman dikenakan, daster batik.
Kirani mendekati ibunya yang masih berada di depan teve sambil mengemil tempe goreng yang terlihat menggoda selera. Kirani menggeleng-gelengkan kepala melihat tumpukan tempe goreng di dalam piring. Kalau begini kebiasaan ibunya, wajar apabila tubuh Marni awet gemuk.
Tapi, apa betul ibunya gemuk karena makanan yang serba digoreng? Kirani mengingat-ingat lagi. Ia sudah mengurangi memakan makanan yang serba digoreng, tapi berat badannya tidak pernah berkurang. Kirani menghela napas. Nasib!
Marni menoleh saat mendengar derap langkah kaki Kirani yang menghasilkan bunyi berdebum.
“Sudah mandinya? Ayo duduk di sini.”
Marni menepuk-nepuk kursi sofa yang kosong di sebelahnya. Kirani menurut. Ia memang ingin mengobrol bersama Marni saat ini. Kursi sofa itu berderit saat tubuh Kirani menindihnya.
“Bagaimana hasil dari perkenalanmu? Cocok dengan lelaki yang dikenalkan oleh Laila?” tanya Marni seraya mengunyah tempe goreng.
Kirani menggeleng lesu.
“Dia nggak mau terima aku karena aku gemuk, Bu,” jawab Kirani.
Tiba-tiba rasa sesak memenuhi rongga d**a Kirani. Bahkan sepasang mata Kirani sudah mulai berkaca-kaca.
“Hm, lagi-lagi karena itu,” sungut Marni.
“Kamu sabar, ya. Memang agak sulit mencari lelaki yang mau menerima keadaan kita apa adanya. Mendiang ayahmu merupakan orang yang langka,” lanjut Marni sambil menepuk-nepuk pelan punggung Kirani.
“Tapi Ibu yakin, lelaki seperti itu ada dan kamu akan menemukannya,” lanjut Marni optimis.
Kirani menyandarkan tubuh ke sofa. Dilihat dari kondisinya saat ini, ia tak yakin akan menemukan lelaki yang mau menerima tubuhnya apa adanya.
“Nih, makan gorengan dulu,” Marni menyodorkan piring berisi tempe goreng tepung.
Kirani mendelik. Bisa-bisanya sang ibu menawarinya tempe goreng yang dapat membuatnya bertambah gemuk, padahal barusan saja mereka mempermasalahkan bentuk tubuh.
“Nggak ah, Bu. Nanti aku semakin gemuk,” tolak Kirani.
“Rugi! Nggak makan karena takut gemuk,” celetuk Marni.
“Nggak masalah bagi Ibu karena Ibu sudah laku,” ceplos Kirani yang merasa tersudut.
Tanpa diduga, Marni tersenyum mendengar ceplosan Kirani.
“Betul juga katamu, hehehe,” sahut Marni santai.
Kirani merengut. Akibat pengalaman pahit tadi siang, Kirani ingin diet agar bisa langsing.
Tiba-tiba Kirani teringat akan peristiwa tabrakan dengan Fadhil yang belum diceritakannya.
“Bu, tadi aku menabrak orang makanya telat pulang,” ujar Kirani lirih.
“Heh? Nabrak orang? Mati?” seru Marni dengan mata melotot kaget.
“Nggak, Bu. Hanya motornya ringsek,” jawab Kirani terburu-buru.
Marni mengembuskan napas lega. Ia kembali mencomot tempe goreng, lalu mengganti saluran teve.
“Kok bisa, sih? Lalu kamu lama karena ke bengkel dulu?” lanjut Marni.
“Aku juga nggak tahu. Perasaan kok motornya berhenti mendadak di tengah jalan raya,” sahut Kirani seraya mengingat-ingat.
“Terus?” desak Marni.
“Kebetulan tabrakan terjadi di depan bengkel. Jadi motornya langsung masuk bengkel. Tapi dia memaksaku bertanggung jawab untuk mengantarnya ke rumah sakit, karena ibunya sedang kritis,” urai Kirani.
“Oh, begitu,” kata Marni pendek.
Untuk sesaat, Kirani ragu-ragu untuk menceritakan tentang salah paham Mira dan perjanjian yang diminta olehnya.
Kirani masih sibuk menimbang-nimbang untuk menceritakan kejadian tersebut, saat sebuah salam merdu terdengar dari arah pintu depan.
“Assalamu’alaikum,” kata si pemilik suara.
Kirani kenal betul suara itu, makanya ia terhenyak lantaran tidak menyangka. Itu suara Laila!
Huh, mau apa lagi dia kemari, gerutu Kirani di dalam hati.
“Wa’alaikumussalam. Eh, Nak Laila! Masuk, masuk. Coba ceritakan apa yang terjadi kepada Kirani siang tadi,” ujar Marni antusias.
Tanpa Kirani sadari, Marni telah begitu saja menyambut Laila mendahului dirinya. Kirani heran, meskipun gemuk tapi ibunya sangat lincah bergerak.
“Ba—baik, Tante,” jawab Laila yang terkejut langsung ditembak pertanyaan oleh Marni di depan pintu.
“Eh, Laila. Bagaimana, La?” Kirani masuk ke ruang tamu.
Kirani sengaja bertanya cukup keras agar perhatian Laila teralih dari pertanyaan Marni. Menyakitkan rasanya bagi Kirani apabila kejadian tadi siang diungkit-ungkit lagi.
“Begini, Kirani. Aku mau minta maaf soal tadi siang,” jawab Laila sungguh-sungguh.
“Nah, itu! Itu yang Ibu ingin tahu sejak tadi,” tukas Marni puas.
Huh! Percuma saja Kirani berusaha mengalihkan perhatian Laila tadi. Ternyata tujuan Laila datang kemari masih hendak mengungkit-ungkit tentang ta’aruf yang gagal. Kirani merasa dongkol luar biasa. Apalagi saat Kirani melihat senyum puas di bibir ibunya. Pastilah di dalam hatinya, Marni bersorak, “Pucuk dicinta, ulam tiba!”
“Coba Nak Laila ceritakan kepada Ibu,” ujar Marni manis.
Bahkan Marni menggandeng mesra tangan Laila untuk duduk, tak peduli Laila yang terbengong-bengong karena bingung.
Marni dan Laila duduk bersisian di kursi sofa yang panjang, sedangkan Kirani mengambil tempat duduk berseberangan dengan sahabat dan ibunya. Marni tak memedulikan Kirani. Tatapan matanya fokus menatap Laila.
“Jadi lelaki yang dikenalkan itu menolak Kirani karena gemuk?” tanya Marni lugas.
Kirani memalingkan wajah dengan perasaan jengah.
“I—iya, Bu. Maafkan saya yang kurang teliti menyeleksi calon suami yang hendak dikenalkan,” sahut Laila yang merasa tak enak hati.
“Ah, kebanyakan lelaki memang begitu. Mereka lebih sering memandang fisik daripada hati. Padahal Kirani anak yang baik dan berakhlak mulia,” Marni memuji putri tunggalnya.
Hidung Kirani kembang kempis karena merasa melayang dipuja-puji.
“Tapi Ibu percaya, suatu hari Kirani akan menemukan jodoh yang tepat. Seperti Ibu dulu dengan ayah Kirani,” lanjut Marni penuh semangat.
Laila bertepuk tangan gembira. Kirani sampai kaget karena tindakan Laila yang tiba-tiba.
“Cocok, Bu! Saya setuju seribu persen dengan Ibu,” sahut Laila berapi-api.
Kirani menatap Laila heran. Ada apa kok Laila sampai bersemangat begini. Jangan-jangan ...
“Saya punya calon lain buat dikenalkan kepada Kirani!” Lanjut Laila menggebu-gebu.
“Weh, apa betul itu Nak Laila? Ibu setuju Kirani berkenalan lagi dengan lelaki lain. Siapa tahu saja, lelaki yang baru ini jodohnya Kirani,” sambut Marni tak kalah bersemangat.
Kirani mengusap wajah. Ia tak percaya dengan pendengarannya barusan. Laila dengan mudahnya ingin mengenalkannya dengan orang lain. Rasanya ia seperti baru ditawarkan obral kesana kemari dengan harga murah.
Kekesalan Kirani semakin bertambah saat melihat reaksi Marni. Ibunya sama sekali tak menanyakan pendapatnya terlebih dahulu, seolah-olah ia manusia yang tak punya perasaan sendiri. Dari sikap yang ditunjukkan Marni, terlihat betul kalau ibunya sudah kebelet punya menantu.
“Jadi, kapan Nak Laila mau mengenalkan calon baru buat Kirani?” tuntut Marni.
“Cukup, Bu!” pekik Kirani dengan suara yang cukup keras.
Nada suara Kirani membuat Marni maupun Laila sama-sama tersentak. Mereka berdua menoleh ke arah Kirani dengan bola mata yang terbelalak.
“Kenapa kalian tidak menanyakan pendapatku terlebih dahulu? Bukankah aku yang akan berkenalan?” protes Kirani geram.
“Memangnya kamu nggak mau, Ki?” tanya Marni dengan nada suara meninggi.
“Nggak, Bu. Aku nggak mau berkenalan lagi. Aku masih trauma,” tolak Kirani seraya menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat.
“Wooo, jangan konyol begitu. Kamu harus realistis, Ki. Ingat, umurmu semakin tua,” cela Marni.
“Tapi ini terlalu terburu-buru, Bu,” kilah Kirani lagi.
“Apanya yang terburu-buru? Soal jodoh itu harus disegerakan. Semakin cepat semakin baik, apalagi umurmu sudah sangat cukup untuk menikah,” Marni menceramahi Kirani.
“Atau jangan-jangan sebetulnya kamu sudah menyukai seseorang selama ini? Makanya selalu enggan dan rewel ketika dikenalkan dengan orang baru?” tuduh Marni dengan tatapan penuh selidik.
Kirani ternganga. Tiba-tiba sosok Fadhil berkelebat tanpa permisi di dalam benak Kirani. ***