Fadhil mempercepat langkah kakinya agar lekas sampai di depan Adam.
“Kemo Ibu sudah selesai? Cepat sekali,” cetus Fadhil heran.
“Cepat? Ibumu sudah dikemo selama dua jam. Kamu ini dari mana? Kok lama sekali baru kembali kemari,” marah Adam.
Fadhil memilih diam dan tak melawan kemarahan Adam.
“Bagaimana keadaan Ibu, Om?” tanya Fadhil cemas.
“Kondisi Ibumu semakin lemah. Sekarang Mbak Mira bahkan tak sadarkan diri. Kondisinya masih terus dipantau,” jawab Adam dengan raut wajah gelisah.
Kegalauan tampak nyata dari wajah Adam, sehingga membuat Fadhil merasa ketakutan.
“Jadi apa yang harus kita lakukan, Om?” tanya Fadhil linglung.
“Berdoa yang banyak,” jawab Adam singkat.
“Di mana Miya, Om?” tanya Fadhil lagi.
“Miya harus pulang dulu sebentar. Di sini hanya ada kita berdua,” jelas Adam.
Fadhil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bayangan harus kehilangan ibu menghantui benaknya.
***
Miya berjalan terburu-buru sambil menggendong bayinya. Ia harus segera pulang untuk mengambil beberapa baju bersih sebagai pengganti baju kotor milik Mira. Saat melewati bagian administrasi rumah sakit, petugas jaga memanggilnya.
“Mbak, Mbak! Mbak keluarga dari pasien yang tadi ada di ruang Anggrek?” sapa petugas wanita yang dari wajahnya terlihat berumur sepantaran dengan Miya.
“Iya, Mbak. Ada apa, ya?” sahut Miya dengan hati bertanya-tanya.
“Tadi petugas kebersihan menemukan perhiasan ini di lantai kamar. Silakan,” ujar petugas wanita tersebut seraya mengulurkan seuntai kalung emas.
“Oh, iya. Terima kasih, Mbak,” balas Miya tanpa berpikir panjang.
Miya menerima uluran kalung tersebut tanpa memerhatikan lagi. Miya langsung memasukkan untaian berkilau itu ke dalam tas selempang yang melingkari pundaknya.
“Mari,” kata Miya seraya berlalu pergi.
Pikiran Miya dipenuhi dengan keinginan untuk segera sampai di rumah Mira, kemudian kembali lagi dengan barang-barang yang diperlukan sang ibu. Miya tak ingin terlalu lama di luar rumah sakit, karena ia mengkhawatirkan keadaan Mira.
***
“Pak Adam, silakan menemui dokter,” panggil seorang perawat.
Adam dan Fadhil sama-sama menoleh. Dahi Fadhil mengernyit.
“Boleh saya ikut, Om?” pinta Fadhil penuh harap.
“Ikut saja,” jawab Adam singkat.
Adam mengikuti langkah kaki perawat yang sudah berjalan lebih dulu menuju ke ruangan dokter. Fadhil mengekor di belakang Adam. Jantung Fadhil bertalu kencang akibat rasa gugup dan kekhawatiran yang melanda hatinya.
Mereka bertiga tiba di depan pintu sebuah ruangan yang berwarna putih. Perawat mengetuk pintu yang tertutup sebanyak dua kali.
“Silakan masuk,” terdengar suara berat dari dalam ruangan.
Perawat membukakan pintu, lalu tangannya terulur sebagai kode mempersilakan Adam dan Fadhil untuk masuk. Setelah Adam dan Fadhil berada di dalam ruangan, barulah pintu ditutup dari arah luar oleh si perawat.
“Silakan duduk, Pak,” kata dokter paruh baya berjas putih itu mempersilakan.
Segera saja Adam dan Fadhil mengambil tempat di hadapan sang dokter. Raut wajah dokter yang keruh semakin membuat perasaan Fadhil semakin galau.
“Bapak dan Adik, sebelumnya saya ingin mengingatkan kembali akan risiko dari kemo kali ini,” mulai sang dokter.
Seketika Adan dan Fadhil merasa tegang. Raut wajah kedua lelaki itu kaku dengan sikap tubuh yang tegak.
“Sedari awal, kita telah menyadari bahwa kemo merupakan salah satu upaya untuk kesembuhan Ibu Mira. Kemungkinan berhasil dengan gagalnya sama kuat, 50:50,” ujar dokter lirih.
“Jadi bagaimana keadaan ibu saya sekarang, dok?” tanya Fadhil dengan suara bergetar karena tak sabar.
Sang dokter menghela napas, lalu dengan raut wajah yang sedih menatap Fadhil.
“Usai kemo keadaan Ibu Mira bertambah lemah. Pantauan akan organ-organ tubuh vitalnya juga semakin lemah,” jawab dokter lirih.
Bahu Fadhil melorot jatuh. Ia mengempaskan punggung ke sandaran kursi di belakangnya. Adam juga tampak tertunduk. Tarikan napasnya terdengar panjang, lalu ia mengembuskannya dengan keras.
“Apa yang bisa kami lakukan sekarang, dok?” tanya Adam pilu.
Dokter menggeleng-gelengkan kepala dengan sedih.
“Mungkin, Ibu Mira sudah bisa mulai ditalkin,” saran dokter pelan.
Seketika pandangan mata Fadhil berkunang-kunang, lalu berubah menjadi gelap. Fadhil memejamkan mata. Ada air yang merembes dari kelopak matanya yang tertutup.
Jadi ibunya sudah sekarat, sehingga dokter menyarankan Adam dan Fadhil untuk menuntun Mira mengucapkan kalimat terakhir di penghujung hidupnya.
“Apakah kakak saya sempat sadar, dok?” Adam bertanya.
Kembali dokter menggeleng.
“Maafkan saya. Saya sudah berusaha semampu saya,” ujar dokter penuh duka.
Mendengar hal itu, Fadhil tak kuasa menahan tangis. Laju air mata yang merembes melalui sela-sela kelopak matanya semakin deras. Hanya saja, ia masih cukup gengsi untuk tidak mengeluarkan suara. Rasa malunya masih lebih kuat daripada kesedihannya.
“Baik kalau begitu, dok. Terima kasih,” ujar Adam dengan suara bergetar.
Adam dan Fadhil keluar dari ruangan dokter dengan raut wajah murung yang tak dapat disembunyikan. Ekspresi duka tampak nyata. Seolah-olah ada mendung yang amat hitam sedang menggelayuti wajah mereka berdua.
Fadhil melangkah gontai. Tujuan kakinya adalah ruangan perawatan Mira. Tatkala mereka berdua sudah berada di dalam kamar, tiba-tiba Fadhil tertarik mundur ke belakang. Penyebabnya, lengan kanannya dicegat oleh Adam. Tubuh Fadhil yang ringan tak dapat menahan tarikan tangan Adam yang kokoh.
“Tunggu dulu, Fadhil,” ujar Adam tegas.
“Ada apa, Om?” tanya Fadhil heran.
“Kita bicara dulu di sana,” Adam menunjuk salah satu sofa panjang yang disediakan di sudut ruangan.
Fadhil menoleh ke arah sang ibu di ranjang perawatan. Mira terbaring kaku, sama sekali tak ada gerakan. Bahkan d**a Mira tak terlihat naik turun, gerakan yang menandakan bahwa ia masih bernapas. Wajah Mira juga amat pucat, sehingga Fadhil ketakutan melihatnya. Apakah ibunya masih hidup?
Adam mencolek lengan Fadhil. Fadhil refleks menoleh dan melihat kode tangan Adam untuk segera duduk di kursi yang telah ditunjuknya. Fadhil menurut meskipun perasaannya campur aduk saat melihat Mira.
Fadhil duduk dan menunggu ucapan yang keluar dari mulut pamannya. Adam berdeham sebelum berbicara.
“Ada yang harus Om sampaikan kepadamu,” mulai Adam.
Untuk kesekian kalinya, Fadhil merasa tegang dan berkeringat dingin. Hanya saja, karena badannya terlalu kurus, keringat tak sampai keluar dari pori-pori tubuhnya selain di ketiak.
“Sebelum menjalani kemo, Mira sempat menitipkan wasiat untukmu,” kata Adam pelan.
Mendengar kata ‘wasiat’ disebut, Fadhil kembali memejamkan mata penuh kesedihan. Apakah ibunya telah merasa bahwa ia tak akan selamat dalam menjalani kemoterapi kali ini?
“Wasiat apa, Om?” tanya Fadhil dengan suara yang parau, setelah ia berhasil kembali menguasai diri.
Adam merogoh sakunya, lalu mengeluarkan dompet dari dalamnya. Dengan gerakan yang berhati-hati, Adam mengeluarkan sebentuk benda kecil dari dalam dompet.
Fadhil mengernyitkan dahi melihat benda mungil itu.
“Cincin?” tanya Fadhil keheranan.
Fadhil menyipitkan mata, mencoba mengamati lebih teliti ke arah cincin tersebut. Ia seperti pernah melihat cincin itu di ...
“Ini Mira berikan untukmu. Katanya, berikan cincin ini kepada Kirani. Cincin ini cincin warisan dari nenekmu saat ibumu menikah. Mira ingin, cincin ini diterima oleh calon menantu yang telah direstui olehnya,” urai Adam panjang lebar.
Fadhil tertegun. Ia menadahkan tangan begitu saja, menerima cincin yang diberikan oleh Adam ke dalam telapak tangannya. Fadhil mengamati cincin yang tampak mulai buram penampilannya itu sekali lagi.
Sekarang Fadhil ingat. Cincin itu cincin kawin yang selalu dikenakan oleh ibunya. Tak pernah Mira melepaskan cincin itu, walaupun ia pergi ke kamar mandi.
Fadhil itu menatap cincin di telapak tangannya, lama sekali. Ia bingung harus mengatakan apa kepada Adam. Dalam kondisi berduka begini, rasanya tak patut ia berbantah-bantahan dengan Adam. Tak mungkin ia menyanggah bahwa Kirani bukanlah kekasih pilihan hatinya, bahwa mereka semua telah salah paham.
“Terima kasih, Om,” kata Fadhil akhirnya.
Fadhil memasukkan cincin itu ke dalam dompetnya yang memiliki ritsleting, sama seperti Adam. Sebetulnya, Fadhil tak punya tempat lain yang dipikirnya aman untuk menyimpan benda seberharga cincin Mira.
Adam menepuk-nepuk pundak Fadhil, lalu menghela napas panjang.
“Ayo kita talkinkan ibumu,” ujar Adam berat.
Adam dan Fadhil bersama-sama bangkit secara perlahan, lalu bergerak mendekati Mira yang masih terbujur diam. Melihat kondisi Mira, d**a Fadhil kembali terasa sesak.
Derit pintu dibuka membuat Fadhil dan Adam menoleh. Miya muncul di ambang pintu. Miya tak lagi menggendong bayinya. Sebagai gantinya, sebuah tas besar tersandang di bahunya.
Miya meletakkan tas besar berwarna cokelat kopi yang dibawanya ke sebuah kursi, lalu mendekati Adam dan Fadhil.
“Bagaimana kondisi Ibu, Om?” tanya Miya dengan raut wajah prihatin.
Adam menatap Miya. Sorot matanya menyiratkan kesedihan. Miya menoleh ke arah Mira.
“Ibu masih belum siuman? Mungkin butuh waktu lama buat Ibu untuk pulih,” desah Miya pelan.
“Tidak begitu kata dokter,” sahut Fadhil tak kalah pelan.
“Maksudmu, Mas?” Miya menatap Fadhil dengan dahi mengernyit.
Pandangan mata Miya menuntut jawaban. Fadhil mendengkus untuk membuang rasa sedihnya.
“Dokter sudah menyarankan kita buat menalkinkan Ibu,” ujar Fadhil lirih.
Seketika wajah Miya menjadi pucat. Tubuhnya merosot pelan hendak jatuh, tapi tangannya masih sigap meraih ujung ranjang besi dari tempat tidur Mira. Miya bertumpu pada besi tersebut, sementara wajahnya sudah dibanjiri air mata.
“Ibu ... Ibu ...,” rintih Miya seperti anak kecil. ***