“Bukan, Bu! Bukan karena Fadhil si Jong Suk KW!” celetuk Kirani tanpa sadar.
“Haaa?!”
Marni dan Laila sama-sama terperangah. Seketika Kirani menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangan. Sial! Dia keceplosan bicara. Padahal, ibunya dan Laila tak tahu apa-apa soal Fadhil karena ia belum menceritakan hal itu.
“Siapa Fadhil?” tanya Marni dan Laila bersamaan.
Kirani salah tingkah. Sekarang ia sudah kepalang basah. Tak ada pilihan lain baginya selain mengaku bersalah.
“I—itu, dia—“ suara Kirani tertahan di tenggorokan.
“Aku nggak menyangka, lho. Ternyata diam-diam kamu punya gebetan,” cetus Laila yang merasa syok.
“Hayo! Mengaku saja sekarang. Siapa Fadhil?” timpal Marni seraya berkacak pinggang.
Kirani ketar-ketir. Bahkan tangannya sampai gemetar lantaran rasa gugup dan grogi yang dialaminya.
“I—itu, Itu ...,” Kirani gelagapan.
“Itu siapa?” sambar Marni dan Laila bersamaan.
Sejurus kemudian, mereka berdua saling bertatap-tatapan. Namun hal itu hanya berlangsung selama sedetik, lalu perhatian mereka berdua kembali tertuju ke arah Kirani.
“Siapa Fadhil?” ulang Marni tak sabar.
Kirani menarik napas panjang-panjang sebelum berbicara. Ya, Allah. Ada angin apa kok dia bisa kelepasan bicara tadi. Kirani mendadak benci kepada dirinya sendiri.
“Itu lho, Bu. Tadi kan aku cerita kalau di jalan menabrak orang—“
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un!” pekik Laila spontan. Sepasang mata Laila melotot saking kagetnya.
“Kamu menabrak orang? Di mana?” desak Laila dengan nada suara meninggi.
“Kalem saja, La. Orang yang kutabrak nggak mati, kok. Bahkan dia tetap segar bugar, hanya motornya yang ringsek dan masuk bengkel,” sahut Kirani tenang.
Laila mengembuskan napas lega.
“Lalu apa hubungannya dengan Fadhil? Apa orang yang kamu tabrak itu yang namanya Fadhil?” cecar Marni tak sabar.
Kirani mengangguk dan tersipu. Momentum dia memboncengkan Fadhil sampai ke rumah sakit terbayang kembali.
“Ck!” Marni berdecak melihat rona merah di pipi Kirani.
“Masa kamu langsung jatuh cinta begitu saja?” protes Laila seraya bersedekap, persis orang sedang salat.
“Ya nggak, lah!” tampik Kirani mengegas.
“Lalu mengapa kamu senyum-senyum begitu?” selidik Laila seraya mengernyitkan dahi.
Insting Laila mengatakan bahwa ada yang tidak beres dalam masalah ini. Akan tetapi, Laila belum berani mendesak Kirani lebih jauh.
Kirani merasa diberi skak mat. Kirani membetulkan letak duduknya di kursi agar lebih elegan terlihat.
“Jadi begini. Orang yang kutabrak itu ternyata mirip sekali dengan Lee Jong Suk,” kata Kirani penuh semangat.
“Oh, ya? Wow!” sepasang mata Laila berbinar.
Sebagai sesama penggemar drama Korea, Kirani dan Laila sama-sama cocok apabila membicarakan film dan artis Korea.
“Siapa itu si Suk-Suk itu?” tanya Marni yang tidak pernah gemar menonton film maupun serial apapun.
Bukan hanya film dan serial dari luar negeri saja, sinetron Indonesia saja Marni tak suka menontonnya.
“Menonton itu buang-buang waktu saja. Lebih baik waktu luang digunakan untuk membaca,” ujar Marni suatu kali.
“Mau baca buku pelajaran, baca majalah flora fauna, atau baca novel. Intinya, membaca itu jauh lebih baik daripada menonton. Kamu tahu kan Kirani, banyak penelitian yang menyebutkan bahwa membaca itu membuat manusia jauh lebih kreatif dan memiliki inisiatif daripada orang yang hobinya menonton,” cerocos Marni panjang lebar.
Kalau sedang mengeluarkan taringnya begini, baru terlihat bahwa Marni betul-betul guru SD yang disegani. Ceramah barusan membuktikan bahwa Marni sangat piawai mengajar murid-murid di sekolahnya.
Tak diragukan lagi, sekali bicara saja ucapan Marni sudah sepanjang kereta api yang melintasi tengah kota. Para pendengar ucapannya tak ubahnya bagaikan pengendara mobil dan sepeda motor yang menanti lewatnya kereta dengan kesabaran maksimal.
Saat itu, Kirani hanya mengangguk-angguk membenarkan. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, membaca novel dan menonton film itu kan sama saja, ya? Sama-sama menyimak cerita fiksi. Huft!
Kirani sudah kenyang mendengar nasihat ibunya setiap hari. Bahkan semenjak Kirani kecil, ibunya sudah sering menceramahi Kirani. Sampai umur Kirani lewat dua puluh tahun begini, sikap Marni yang lebih mirip dengan pengkhotbah di mimbar tak pernah berubah.
“Lee Jong Suk itu aktor Korea, Bu,” terang Kirani singkat.
“Oh,” sahut Marni lebih singkat.
“Terus bagaimana lanjutannya?” sambung Marni.
“Karena motornya ringsek, aku terpaksa mengantarkannya ke rumah sakit yang menjadi tujuannya,” Kirani melanjutkan kisahnya.
“Dia sakit? Katamu badannya nggak ada yang terluka?” ulik Marni.
“Bukan, Bu. Dia mau ke rumah sakit untuk menemui ibunya yang dirawat di sana. Ibunya hari ini akan menjalani operasi,” terang Kirani.
“Oh, kasihan,” celetuk Laila penuh perasaan.
“Celakanya, aku disuruh ikut masuk ke kamar perawatan agar aku tidak kabur. Kata Fadhil, motorku masih diperlukan kalau dia ingin mencari sesuatu di luar rumah sakit,” urai Kirani.
“Tapi ibunya Fadhil malah menyangka aku ini pacarnya Fadhil. Ibunya menyuruh Fadhil berjanji untuk menikahiku,” lanjut Kirani dengan wajah murung.
Kembali Marni dan Laila saling bertatap-tatapan. Sedetik kemudian, pecahlah tawa mereka berdua.
“Siapa tahu dia memang jodohmu lho Kirani,” cetus Laila.
“Ah, nggak mau!” tangkis Kirani cepat.
“Kenapa? Katamu wajahnya setampan aktor Korea,” timpal Marni.
“Dia itu menyebalkan. Belum kenal saja dia sudah meremehkan aku,” jawab Kirani dengan mulut mengerucut.
Ingatan Kirani akan u*****n-u*****n dan tatapan mata yang mencemooh dari Fadhil kembali menari di pelupuk mata.
“Kamu benci dia nih ceritanya? Hati-hati. Jangan sampai terlalu benci, lho,” Laila memperingatkan sembari tersenyum-senyum geli.
“Kenapa?” tanya Kirani heran.
“Ya, jangan sampai jadi benci betulan nantinya. Betul-betul cinta,” seloroh Laila.
Laila kemudian tertawa sendiri dengan candaannya. Kirani tidak tertawa, ia malah mendengkus kesal.
“Siapa yang sudi,” cibir Kirani.
“Jadi kamu betul nggak ada apa-apa dengan si Fadhil itu, nih?” tegas Marni.
“Iya, Bu. Aku hanya apes telah menabrak dia,” sahut Kirani mantap.
“Kalau begitu sebaiknya kamu terima saja tawaran Laila,” imbuh Marni lagi.
Kirani meneguk ludah. Itu lagi itu lagi.
Laila yang mendengar perkataan Marni menjadi teringat kembali akan tujuannya mendatangi rumah Kirani.
“Astagfirullah, sampai lupa misiku ke sini,” cetus Laila seraya menepuk dahi.
Laila meraih tas bahu yang teronggok di sebelah tubuhnya. Dari dalam tas, Laila mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atik layarnya sebentar. Semua tingkah Laila tak luput dari pengawasan Marni dan Kirani.
“Nah, coba kamu amati foto ini,” pinta Laila seraya menyerahkan ponselnya kepada Kirani.
“Apa itu, La? Ibu juga mau lihat, dong,” Marni mendekati tempat duduk Laila.
Laila menarik kembali tangannya yang menyodorkan ponsel ke arah Kirani. Ia mengalihkan ponsel itu ke arah Marni.
“Lihat, Bu. Ganteng, kan?” Laila meminta persetujuan kepada Marni seraya menunjukkan layar ponselnya.
“Lumayan, sih. Apa pekerjaannya? Percuma jadi lelaki ganteng kalau nggak punya pekerjaan,” ujar Marni tegas.
“Dia staf administrasi di sebuah kampus swasta, Bu. Mas Aldo ini kakak lelaki dari tetanggaku di rumah,” jelas Laila penuh semangat.
“Hm. Lumayanlah pekerjaannya. Coba saja kamu kenalkan Kirani kepadanya,” putus Marni santai.
Kirani menepuk pipinya karena tiba-tiba ada nyamuk yang hinggap di kulit wajahnya. Bunyi tepukan itu membuat Laila dan Marni menghentikan perbincangan dan menoleh ke arah Kirani.
“Kan aku yang mau dikenalkan, tapi mengapa nggak menanyakan pendapatku terlebih dahulu?” tanya Kirani dengan raut wajah yang kesal.
“Bukan aku mengabaikanmu, Kirani,” sahut Laila lekas-lekas.
“Kalau ibumu sudah setuju, maka urusan perkenalan ini akan jauh lebih mudah,” sambung Laila.
“Lebih mudah apanya? Coba jelaskan,” pinta Kirani sambil menekuk wajah.
“Kalau ibumu setuju, tinggal kamu saja yang membuat keputusan. Kalau kamu setuju tapi ibumu nggak setuju, kan bubar acara perkenalan ini,” Laila menjelaskan secara santai tapi serius.
“Heh. Pintar juga kamu, La,” puji Marni.
Laila tersenyum-senyum sendiri.
“Jadi bagaimana, Kirani? Kamu mau kan berkenalan lagi? Siapa tahu, Mas Aldo inilah jodohmu,” bujuk Laila.
“Kalau boleh memilih sih, aku mau menata hati dulu,” ungkap Kirani blak-blakan.
“Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku masih agak trauma kalau harus ta’aruf lagi,” tambah Kirani.
Marni berdecak sebal.
“Sekarang atau nanti itu sama saja, lho. Kalau memang jodoh pasti bertemu. Kalau bukan jodoh, pasti gagal terus,” kata Marni lalu mendengkus.
“Wah, ucapan Ibu betul sekali. Saya jadi ingat proses pertemuan saya dengan suami dulu,” sahut Laila dengan sorot mata mengenang masa lalu.
“Sudahlah, Kirani. Jangan kebanyakan bawa perasaan. Nanti kamu rugi sendiri. Ibu mau kamu berkenalan dengan calon yang ditawarkan oleh Laila,” kata Marni otoriter.
Kalau ibunya sudah berbicara setegas ini, Kirani tak berkutik. Ingin rasanya Kirani menangis keras-keras seperti anak kecil.
Ya, Allah! Kok begini sekali rasanya menjadi perawan tua, ditawarkan kesana kemari seperti tak ada lagi harga diri, jerit hati Kirani. ***