Kalung yang Tertinggal

1357 Kata
Hati Fadhil trenyuh melihat Miya menangis. Ia seperti melihat lagi Miya kecil yang diganggu dan hendak direbut mainannya oleh beberapa anak lelaki iseng. Dulu, Fadhil terbiasa menjadi penjaga Miya. Siapapun yang berani mengganggu adiknya, pasti Fadhil hajar. Fadhil beranjak mendekati Miya, lalu tubuh adiknya ditarik masuk ke dalam pelukan. “Sabar ya, Miy. Aku tahu kamu gadis yang tabah,” hibur Fadhil. Miya tak menanggapi. Ia semakin menangis tersedu-sedu di d**a kurus milik Fadhil. d**a setipis itu sebetulnya kurang nyaman buat dijadikan tempat menumpahkan air mata. Namun karena Fadhil kakaknya sendiri, Miya tetap merasa mendapatkan perlindungan dan rasa aman. Adam tak menghiraukan Miya. Ia menganggap Fadhil sudah cukup sebagai penghibur Miya. Adam bergerak ke arah samping Mira, lalu pelan-pelan ia mendekatkan mulutnya ke telinga Mira. Dengan khusyuk, Adam melafalkan dua kalimat syahadat di telinga Mira. “Laa ... ilaaha illallah ...,” lirih suara Adam menalkin Mira. Selesai mengucapkan satu kalimat, Adam berhenti sejenak. Seolah-olah ia sedang memberikan waktu kepada Mira untuk mengulang pelafalan yang dicontohkan olehnya. Selang berjeda beberapa detik, Adam kembali menalkinkan Mira dengan ucapan dua kalimat syahadat. Sikap Adam yang teguh dan tak terganggu oleh apapun menarik perhatian Miya. Miya menghentikan tangisnya, lalu mengamati Adam dengan sungguh-sungguh. Miya merasa kagum dengan Om Adam. Di balik sikap otoriter Om Adam, ternyata tersimpan kelembutan hati terhadap orang yang lemah. Mira yang tak berdaya dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat dengan pelan-pelan dan sabar. Meskipun Mira tak menunjukkan reaksi apa-apa, tapi Om Adam tetap tak berputus asa untuk menalkin. Miya mengurai pelukan Fadhil dari dirinya. Miya berjalan mendekati Mira, lalu menggenggam tangan sang ibu dengan penuh kasih sayang. Sesekali, Miya menciumi tangan Mira yang terkulai lemah. Adam terus menalkinkan Mira. Miya menemani sambil menggenggam tangan ibunya. Sesekali, Miya mengelus-elus tangan Mira. Fadhil menyusul hadir di samping Miya. Berbeda dengan Miya yang menunjukkan kasih sayang yang terang-terangan kepada sang Ibu, Fadhil memilih hanya menundukkan wajah. Akan tetapi, mulutnya komat-kamit merapalkan doa. Tak sengaja, pandangan Miya tertuju pada selimut rumah sakit yang kusut. Bagian selimut yang menutupi kaki Mira agak tersingkap, sehingga telapak kaki Mira seolah sedang mengintip keluar. Miya menarik selimut agar kembali menutupi kaki Mira secara sempurna. Jari jemari Miya menyentuh ujung-ujung kaki ibunya. Miya terkejut mendapati bahwa kaki ibunya amat dingin. “Dingin betul kaki Ibu. Mungkin Ibu kedinginan, Mas,” kata Miya seraya menutupkan selimut secara sempurna ke kaki ibunya. “Heh? Dingin?” tanya Adam terkejut. Ia menegakkan tubuh dengan sikap tegang. “Iya, Om. Kenapa, Om?” tanya Miya heran. Adam tak menjawab. Alih-alih, Adam malah menyingkapkan kembali selimut yang menutupi kaki Mira. Dengan tangan gemetar, Adam memegang telapak kaki Mira. Adam beralih memegang pergelangan kaki Mira, kemudian naik ke lututnya. Fadhil dan Miya memandang perbuatan Adam dengan raut wajah keheranan. “Ada apa, Om?” tanya Fadhil tak sabar. “Sudah dingin, sudah dingin,” gumam Adam gemetar. Ia tak menghiraukan pertanyaan Fadhil. “Om?” panggil Fadhil lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Adam menoleh. Sinar ketakutan terpancar dari kedua bola matanya. “Ibumu sebentar lagi akan pergi. Kakinya sudah dingin sampai ke lutut. Cepat, cepat, kamu minta maaf dan talkin ibumu,” perintah Adam setengah panik. Fadhil dan Miya ternganga. Seumur hidup, baru kali inilah mereka berhadapan dengan orang yang berada di ambang sakaratul maut. Fadhil meneguk ludah karena gugup, lalu bergegas mendekati Mira. Fadhil membisikkan sesuatu ke telinga Mira. Wajah Fadhil sangat sedih. Sambil berbisik, ia menggenggam tangan ibunya erat-erat. “Cukup! Sekarang giliran kamu, Miya!” seru Adam tiba-tiba. Miya maju untuk menggantikan posisi Fadhil. Fadhil yang tersentak mendengar suara Adam, refleks mundur untuk memberi tempat kepada Miya. Sama seperti Fadhil, Miya membisikkan sesuatu ke telinga Mira sambil menggenggam erat tangan Mira. Ia bahkan menangis tersedu-sedu. Tiba-tiba Miya berhenti menangis. Ia tertegun menatap tangannya, lalu menjerit tanpa sadar, “Tangan Ibu sudah dingin, Om!” serunya panik. Adam mendekat dan menepiskan Miya ke arah samping. Ia kembali menalkin Mira tanpa memerhatikan Miya lagi. Fadhil dan Miya berdiri di sisi pembaringan Mira, masing-masing menggenggam tangan Mira yang telah berubah dingin. Mereka berdua menangis berurai air mata. Baik Fadhil maupun Miya sama-sama merasa tercekam. Sepasang mata kakak beradik itu tak lepas dari wajah Mira yang beku seperti patung. Pada satu kesempatan, bibir Mira sedikit terbuka lalu wajahnya semakin kaku. Mereka semua menyaksikan kejadian itu. Adam mengecek aliran napas di bawah hidung Mira. “Ibu kalian sudah pergi,” ujarnya lirih. Tangis Miya pecah lagi. Ia memeluk tubuh kaku Mira dan menciumi wajah ibunya berkali-kali. Fadhil tertunduk dengan perasaan yang kacau balau. Adam mengusap wajahnya berkali-kali. “Om akan memanggil dokter untuk memastikan kematian ibu kalian,” ujar Adam. Adam keluar memanggil dokter. Tak lama, dokter bergegas datang. Sementara dokter memastikan keadaan Mira, Miya dan Fadhil terduduk lesu. Pernyataan dari dokter dirasakan tak penting lagi karena semuanya sudah jelas. Bagi anak-anaknya, Mira telah meninggal dunia. “Betul. Ibu Mira sudah meninggal dunia. Saya akan berikan surat keterangan kematiannya,” kata dokter kepada Adam yang setia berdiri di samping sang dokter. “Oh, ya. Apakah Ibu Mira akan dipulasarakan di sini?” tanya dokter lagi. Adam melirik Fadhil dan Miya selama sedetik. Kedua kakak beradik itu tengah murung dan sibuk dengan diri sendiri. Miya sibuk mengemas air mata yang tumpah di pipinya. Sementara Fadhil duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tidak. Kedua kakak beradik ini tidak bisa diandalkan mengurus orang tuanya. Fadhil yang diharapkan dapat menjadi pengayom dan bersikap dewasa, malah seperti orang linglung. Meskipun sudah dewasa, Fadhil masih sering bersikap kekanak-kanakan. Miya merupakan seorang istri yang memiliki bayi berumur enam bulan. Tak mungkin meminta bantuan kepadanya. Akhirnya Adam membuat keputusan tegas. “Iya, dok. Keluarga kami bermaksud memulasara jenazah di sini saja,” jawab Adam mantap. “Baik kalau begitu. Saya beritahukan prosedur yang harus dilakukan. Mari ikut saya,” ajak dokter. Adam mengikuti langkah kaki doketer keluar dari ruangan. Fadhil dan Miya tetap tinggal. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua saling diam. “Oh, iya,” suara Miya memecah sunyi. Miya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas selempang yang dikenakannya. Fadhil melirik sedikit tapi tidak tertarik. “Coba lihat ini, Mas,” pinta Miya. Fadhil menyaksikan Miya membuka kotak kecil yang baru diambilnya dari tas, lalu memperlihatkan isinya. Sebuah kalung kecil berliontin tergeletak di dalam kotak. “Tadi perawat memberikan ini kepadaku. Katanya, mereka menemukan ini di kamar lama Ibu,” kata Miya. “Kalung Ibu jatuh?” tanya Fadhil heran. “Awalnya kusangka begitu. Tapi saat tadi berada di rumah, aku teliti kembali kalung ini.  Setahuku, Ibu tidak pernah memiliki kalung model begini,” jawab Miya. “Jadi kalung siapa itu? Lebih baik kamu kembalikan ke bagian administrasi rumah sakit,” saran Fadhil. Miya menggeleng. “Aku punya pikiran lain. Lihat liontin ini berinisial huruf tertentu,” Miya menunjuk liontin di tengah kalung. Fadhil mengamati huruf yang tertera secara saksama. Jelas tertera di liontin itu, huruf ”K” yang besar telah terukir. “Menurutmu siapa pemilik kalung ini?” tanya Fadhil yang malas berpikir. Baru saja perasaannya kacau dengan berita duka ibunya, Miya sudah mengajaknya bermain teka-teki. “Dugaanku, ini milik Mbak Kirani. Bukankah tadi dia jatuh pingsan di kamar Ibu?” Miya balas bertanya. “Bisa jadi. Kalungnya lepas saat tubuhnya jatuh ke lantai,” sahut Fadhil seraya mengingat-ingat. “Dipegang, Mas. Kembalikan ini kepada Mbak Kirani. Kasihan, pasti dia mencari-cari kalungnya,” pinta Miya, lebih seperti perintah. Fadhil terpana dan melotot. Tanpa sadar, ia menyentuh dompet yang berada di dalam saku celana. Di dalam dompet yang aman itulah cincin wasiat Mira untuk diberikan kepada Kirani. “Huh!” Fadhil mendengkus kesal. Dalam sehari, Fadhil telah dua kali menerima titipan perhiasan untuk Kirani. Biar pun gadis itu telah pergi, bahkan mungkin untuk selamanya, tapi sosoknya tetap membayang-bayangi Fadhil. Rencana Fadhil untuk tak lagi menemui gadis itu menjadi gagal. “Ada apa, Mas? Mas malas mengantarkan barang ini, ya?” tuduh Miya yang tak mengerti isi pikiran Aka. “Bukan. Hanya—“ Fadhil menggantung ucapannya. “Jangan malas, Mas. Kasihan Mbak Kirani. Mungkin dia tak tahu letak kalungnya yang terjatuh,” desak Miya. Fadhil menatap wajah adiknya lekat-lekat. Kotak berisi cincin ada di dalam genggaman Fadhil. Rasa jengkel Fadhil kepada Kirani kembali meluap. *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN