Menjual Kesedihan

1395 Kata
Langkah-langkah kaki terdengar mendekati ruangan tempat Miya dan Fadhil duduk. Tak lama kemudian, sosok Adam muncul. Raut wajahnya masih semurung sebelumnya, hanya saja Adam lebih tenang sekarang. “Fadhil, Miya, proses pemulasaraan jenazah akan segera dilakukan,” kata Adam mengabarkan. “Selanjutnya apa yang harus kita lakukan, Om?” tanya Miya. “Menunggu jenazah siap untuk diantarkan ke rumah. Setelah itu kita harus menyiapkan makam buat tempat istirahat ibumu di bumi,” lanjut Adam serak. Mendengar kata-kata ‘makam’, seketika Miya menangis sesenggukan lagi. Bahkan Fadhil tertunduk pilu. Di tengah suasana haru itu, tiba-tiba ponsel Fadhil bergetar di dalam saku kemejanya. Fadhil mendengkus kesal. Ia menyesal tidak mematikan ponsel sekalian sedari tadi. Sekarang sudah terlambat, orang yang meneleponnya sudah tahu bahwa teleponnya aktif. “Aku keluar sebentar untuk menerima telepon, Om,” pamit Fadhil. Fadhil keluar dari ruangan dan mencari sudut yang sepi. Ia membaca nama Dani tertera pada layar ponsel. “Halo, ada apa Dan?” tanya Fadhil langsung. Dani merupakan salah satu rekan sekaligus bawahan Fadhil dalam mengelola kanal Youtube yang bernama “Mlaku-Mlaku”. Konten dari kanal itu berupa ulasan terhadap tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi di seputaran kota Yogyakarta. Kanal itu sudah berusia satu tahun, tapi baru diajukan untuk monetisasi 6 bulan yang lalu. Penghasilan dari kanal itu belum banyak, baru ratusan ribu hingga satu juta per bulan saja. Penghasilan utama Fadhil bukan dari kanal tersebut, tapi lebih banyak dari pemilik produk dan tempat yang diulasnya di dalam kanal. Akan tetapi, tidak selalu ada produk wisata atau tempat yang diminta untuk diulas oleh pemiliknya. Apabila sedang tidak ada proyek, Fadhil harus mencari dan memikirkan tema konten sendiri. Sudah dua minggu ini Fadhil tidak menerima proyek baru, sehingga ia dan Dani harus memeras otak memikirkan konten kanal. “Kita harus mengunggah konten yang baru dalam dua hari ke depan, Fad. Bagaimana, sudah ada ide buat kontennya?” tanya Dani di seberang sana. Agar sebuah kanal mendapatkan rating dan eksposur yang bagus, jamak diketahui bahwa pemiliknya harus mengunggah konten secara teratur. Postingan yang rutin dan tertib terbit akan mendapatkan kepercayaan lebih dari penonton. Hal inilah yang memaksa Fadhil dan Dani untuk terus berpikir kreatif. Fadhil memijat pelipisnya. Seketika kepalanya terasa pening. Masalah datang bertubi-tubi. Pekerjaannya juga menuntut untuk dipenuhi tepat waktu dan tak kenal kompromi. Rasanya kepala Fadhil serasa mau pecah. “Belum, Dan. Ibuku baru meninggal. Aku nggak bisa berpikir sekarang ini,” jelas Fadhil muram. “Hah? Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Aku turut berduka, Fad. Maaf aku nggak tahu kamu sedang berduka,” ujar Dani dengan perasaan bersalah. “Nggak apa-apa, Dan. Aku maklum. Tentang konten, jujur pikiranku buntu saat ini,” imbuh Fadhil. Dani terdiam sejenak. Otaknya berpikir keras. “Sebetulnya aku punya usul, tapi—“ Dani menggantung ucapannya. “Tapi apa, Dan? Kamu ada ide?” kejar Fadhil. “Ya, aku ada ide. Tapi entah kamu setuju atau tidak ...,” ungkap Dani ragu. “Apa itu? Aku ingin tahu,” desak Fadhil. “Aku minta kamu nggak marah setelah mendengarnya,” pinta Dani hati-hati. “Iya. Katakan saja,” tegas Fadhil tak sabar. “Kita buat acara pemakaman ibumu sebagai konten ...,” ujar Dani dengan nada pelan karena takut disemprot. Fadhil terdiam. Matanya melotot dan mulutnya sedikit terbuka. Ide Dani memang gila, tapi juga ... cerdas! Dani yang tak mendengar tanggapan dari Fadhil, merasa cemas dan tak enak hati. “Fad? Maafkan ideku yang konyol ya, Fad. Aku nggak bermaksud—“ “Brilian! Idemu hebat, Dan!” Fadhil memotong permintaan maaf Dani. “Eh? Serius, nih?” Dani seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Serius, idemu gemilang! Aku bisa memiliki konten sekaligus menyentuh hati para subscriber dengan acara pemakaman Ibu,” Fadhil menjentikkan jari penuh semangat. Sepasang mata Fadhil berbinar terang. Dia sudah nekad akibat tak punya pilihan. Tuntutan pekerjaan telah membuat ia berpikir pendek. Momentum kesedihan keluarganya malah dijual. Pastinya usulan Dani dianggap Fadhil sebagai jalan keluar terbaik. “Kamu ke rumahku saja sekarang. Siapkan kamera dan semuanya. Nanti kamu tunggu arahan setelah aku sampai,” perintah Fadhil. “Siap, Bos!” tanggap Dani sigap. “Aku masih di rumah sakit sekarang. Mungkin baru beberapa jam lagi sampai di rumah,” terang Fadhil. “Siap!” balas Dani lagi. “Oke. Sampai nanti,” Fadhil memutuskan sambungan telepon. Fadhil kembali masuk ke dalam kamar. Ia mendapati Miya tengah melamun dengan wajah yang murung. Adam tidak terlihat lagi. “Ke mana Om Adam?” tanya Fadhil. “Om Adam pergi mengurus administrasi rumah sakit, Mas,” lapor Miya. Fadhil kembali duduk menunggu Adam kembali. Saat duduk itulah otaknya mulai merancang konten yang akan diunggahnya. *** Beberapa jam kemudian, administrasi dan proses penyiapan jenazah selesai. Mendiang Mira siap dibawa pulang bersama mobil ambulans dari rumah sakit. “Om sudah bayar semua biaya termasuk biaya ambulans ke rumah kalian,” ujar Adam saat kembali menemui Fadhil dan Miya. “Terima kasih banyak, Om. Jujur saja aku nggak bisa berbuat apa-apa tanpa campur tangan Om,” kata Miya tulus. Adam menepuk-nepuk pundak Miya. “Mira kakakku. Sudah sewajarnya aku yang mengurus, apalagi Mira janda,” sahut Adam pelan. “Ayo kita bawa ibumu pulang,” ajak Adam. Miya dan Fadhil mengangguk, lalu mengikuti langkah-langkah Adam. Mereka pulang ke rumah Mira. *** Sesampainya di rumah Mira, Adam langsung memberikan arahan untuk kedua keponakannya. “Miya, kamu siapkan rumah untuk menyambut para pelayat. Fadhil, kamu antarkan Om ke masjid dan ketua RT untuk melaporkan kematian warga,” kata Adam. “Baik, Om. Aku akan minta tolong tetangga buat membantuku,” angguk Miya. “Bagus. Ayo kita ke masjid sekarang,” ajak Adam kepada Fadhil. “Sebentar, Om. Ada yang ingin kusampaikan kepada Miya,” kata Fadhil minta penangguhan. “Miya, nanti ada temanku datang. Namanya Dani. Katakan kepadanya untuk menungguku, ya,” pesan Fadhil. Miya mengangguk. Fadhil beranjak pergi. “Ayo, Om,” ajak Fadhil kepada Adam yang sudah menunggu. Mereka mendatangi pengurus masjid dan melaporkan tentang kematian Mira. Jenazah Mira yang berada di dalam keranda langsung diletakkan di tengah masjid. Pelaksanaan salat jenazah segera disiapkan oleh takmir masjid. Selanjutnya Adam dan Fadhil bergegas menuju rumah ketua RT untuk membuat laporan. Saat dalam perjalanan menuju ketua RT itulah mereka mendengar pengumuman dari pengeras suara masjid. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah meninggal dunia ...” serak suara salah satu takmir memberi pengumuman. Seketika d**a Fadhil terasa sesak. Ia sering mendengar pengumuman kematian itu dari masjid setempat, tapi selalu tak acuh. Sekarang mendiang ibunya yang diumumkan oleh pengeras suara itu. Rasa sedih yang dialami Fadhil tidak terkira. Sekembalinya Fadhil dan Adam dari rumah ketua RT, Fadhil melihat seluruh lantai ruang tamu telah ditutupi tikar plastik bercorak. Tikar semacam itu tidak pernah dimiliki oleh Mira, apalagi dalam jumlah banyak. Dugaan Fadhil, Miya meminjam tikar-tikar itu dari tetangga setempat. Pandangan Fadhil tersedot ke arah seseorang yang berada di salah satu pojok ruang tamu. Dani duduk bersila di sana. Kamera dan peralatan merekam teronggok di sebelah Dani. Saat melihat kedatangan Adam dan Fadhil, Dani bangkit dan mendekati tuan rumah. “Om, saya turut berduka cita atas meninggalnya Ibu Mira,” ujar Dani takzim. Pandangan mata Dani sedikit tertunduk dan berhenti pada d**a Adam. Gestur tubuhnya menjura, sedikit membungkuk dengan kedua tangan ditangkupkan di depan d**a. Sopan sekali. “Terima kasih,” jawab Adam singkat. Ia terkesan juga dengan kesantunan Dani. “Kamu teman Fadhil? Silakan, silakan. Maaf saya harus mengecek beberapa hal dulu,” pamit Adam sebelum beranjak mencari Miya. Fadhil memberi kode kepada Dani agar mereka keluar dari rumah terlebih dahulu. Dani mengangguk tanpa bicara. Mereka berjalan beriringan keluar rumah, lalu mencari posisi yang agak jauh agar percakapan mereka nanti tak terdengar oleh siapa pun. “Ibuku baru akan disalatkan. Nanti kamu nggak usah ikut masuk ke dalam masjid. Cukup ambil rekaman video pada saat keranda keluar dari masjid dan dibawa masuk ke rumah. Selanjutnya rekam juga adegan saat keranda keluar dari rumah dan dibawa ke pekuburan. Paham?” urai Fadhil. Dani mengangguk-angguk. “Apa kamu nanti juga akan masuk kamera?” tanya Dani. “Harus, dong. Tapi nanti, setelah ibuku dikuburkan. Kamu rekam sekilas peristiwa penguburan mendiang Ibu. Setelah semua orang pergi, baru kamu rekam aku dari dekat di depan makam. Oke?” jelas Fadhil terperinci. “Siap. Aku paham semua. Pokoknya kamu direkam setelah semua orang pergi, kan?” tegas Dani. Fadhil mengacungkan jempol. Saat itu Fadhil melihat Adam keluar dari rumah, celingukan seperti mencari seseorang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN