“Om Adam seperti mencariku. Aku ke dalam dulu,” kata Fadhil seraya menepuk pundak Dani.
Dani menatap Fadhil yang menjauh lalu memasuki rumahnya bersama Adam. Dani sendiri tidak ikut masuk lagi, seperti perjanjian mereka barusan. Dani berbalik dengan menyandang peralatan rekaman di pundak.
Dani pergi ke masjid, lalu mencari posisi strategis di pekarangan yang luas. Ia sengaja mencari posisi yang bagus, agar saat keranda keluar dari masjid ia dapat merekam peristiwa itu dari sudut yang paling baik. Kamera sudah ia siapkan di atas tripod, siap membidik target setelah dinyalakan.
Dani melaksanakan semua arahan dari Fadhil dengan sangat cermat. Bahkan lebih baik daripada Fadhil apabila temannya itu yang melakukan sendiri. Semua itu berkat pengalaman Dani yang berharga di masa lalu.
Sebelum menjadi rekanan Fadhil di kanal Youtube “Mlaku-Mlaku”, Dani sempat bekerja sebagai wartawan berita selama dua tahun. Memburuknya kondisi industri koran cetak membuat Dani terkena pengurangan karyawan. Akan tetapi, pengalaman selama dua tahun cukup memberinya keahlian sebagai pemburu berita yang andal.
Aksi Dani cukup lancar. Tak ada warga sekitar masjid yang menganggap aneh perbuatannya. Sempat ada seorang bapak-bapak bertanya tentang identitas dirinya. Dengan sigap Dani menjawab,
“Saya teman keluarga mayit, Pak. Mereka meminta saya mendokumentasikan peristiwa penguburan jenazah.”
Setelah itu, tak ada lagi orang yang bertanya-tanya tentang kepentingan Dani di tempat itu.
Dani berjongkok di bawah pohon mangga tempat ia berteduh dan menunggu. Sebatang rokok ia nyalakan untuk mengisi waktu. Baru terbakar setengah batang, rombongan keluarga Fadhil dan sejumlah tetangga yang akan menyalatkan jenazah sudah datang.
Dani tak segera mematikan nyala rokok. Ia terus mengisap benda haram itu sambil matanya tak lepas mengawasi rombongan yang masuk ke masjid. Setelah rombongan itu masuk, satu demi satu para tetangga yang lain berdatangan untuk menyalatkan jenazah.
Melihat gelagat itu, Dani memiliki firasat bahwa penantiannya akan keluarnya keranda menuju pekuburan masih akan lama. Dani meneruskan kegiatannya mengisap asap. Ia menunggu dengan sabar.
Tibalah saat yang dinantikan oleh Dani. Salat jenazah selesai dan para pelayat berhamburan keluar dari pintu-pintu masjid. Dani bergegas bangkit dan mengarahkan lensa utama kamera ke arah depan masjid, tepat pada orang-orang tersebut. Ia belum menekan tombol on, tapi jarinya telah siap memencet sewaktu-waktu.
Tepat ketika beberapa orang lelaki memikul keranda keluar dari pintu utama masjid, Dani menekan tombol on pada kamera. Peristiwa keluarnya keranda dari masjid terekam sempurna.
Di belakang keranda, sejumlah orang yang diduga Dani merupakan tetangga dekat keluarga Fadhil mengekor. Iring-iringan jenazah berjalan pelan dalam diam. Suasana terasa syahdu.
Lambannya pergerakan iring-iringan memungkinkan Dani untuk mengangkat kamera dari tripod, lalu memanggulnya pada salah satu pundak sambil terus merekam. Dengan tangan yang lain, Dani mengambil tripod dan menyandangnya pada bahu yang lain.
Dani terus berjalan mengikuti iring-iringan hingga sampai ke kuburan. Dari jarak yang sesuai, Dani merekam jenazah Mira dimasukkan ke dalam liang lahad dan ditutup kembali dengan tanah. Kijing dipasang, tanah kuburan disiram, dan bunga-bunga ditaburkan.
Setelah semua warga pergi dari kuburan, tinggallah Fadhil dan keluarganya yang berada di tanah basah itu. Dani mematikan rekaman. Ia mengatur kembali posisinya untuk merekam adegan selanjutnya. Instingnya mengatakan bahwa sebentar lagi Fadhil akan memanggil dirinya.
“Ayo kita pulang, Mas,” ajak Miya.
Adam sudah lebih dulu berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.
“Kamu duluan saja. Aku masih ingin di sini,” tolak Fadhil seraya terus berjongkok dan memandang tanah basah di hadapannya.
“Ya, sudah. Aku temani,” ujar Miya karena tak tega dengan kakaknya.
“Nggak perlu, Miy. Kamu duluan saja mengurus tamu yang datang ke rumah. Aku hanya ingin sebentar lagi berada di sini,” cegah Fadhil.
Tentu saja Fadhil tak mau Miya ikut menemaninya di kuburan. Bisa gagal rencananya membuat drama di pemakaman.
Alasan Fadhil terasa masuk akal bagi Miya. Tak mungkin para pelayat di rumah ibunya dibiarkan tanpa tuan rumah. Semenjak ayah mereka meninggal dunia dan Miya menikah, rumah peninggalan ayah hanya ditempati Mira dan Fadhil. Bahkan tak ada pembantu yang tinggal di rumah itu.
“Nggak apa-apa, Miya. Biarkan Fadhil sendiri. Mungkin ia butuh merenung lebih lama di makam Mira,” dukung Adam.
Miya menoleh ke arah Adam sekilas, lalu mengangguk setuju.
“Aku duluan kalau begitu, Mas,” pamit Miya.
“Pergilah,” usir Fadhil.
Adam dan Fadhil beranjak pergi. Fadhil mengawasi paman dan adiknya yang menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Setelah memastikan bahwa keluarganya telah berlalu, barulah Fadhil menarik napas lega.
Sepasang mata Fadhil jelalatan ke segala arah. Ia menemukan sosok yang dicari tengah berteduh di bawah pohon Kamboja. Dengan kode jari, Fadhil meminta Dani untuk mendekat.
Setelah kode diberikan oleh Fadhil, barulah Dani berani mendekat.
“Sekarang kamu rekam aku di depan makam. Beri aba-aba dulu sebelum merekam,” perintah Fadhil.
Dani mengambil jarak satu setengah meter dari tempat Fadhil berlutut. Di posisi itu ia meletakkan tripod dan mengatur kamera di atasnya.
“Satu ... dua ... tiga!” Dani memberi aba-aba.
Setelah ucapan itu, Fadhil mulai beraksi. Fadhil mengusap kedua matanya dengan jari-jari tangan, lalu perlahan-lahan tangisnya muncul dan mengeras. Ia mulai melakukan pengakuan dosa di depan makam ibunya.
“Bu ... aku tak menyangka akan secepat ini Ibu meninggalkanku,” rintih Fadhil.
“Aku banyak salah dan dosa kepada Ibu selama ini. Maafkan aku, Bu. Aku belum sempat berbakti tapi Ibu keburu pergi,” raung Fadhil lagi.
“Banyak perbuatanku yang membuat Ibu kecewa dan sedih. Aku bersalah, Bu,” tambah Fadhil dengan tangis yang semakin mengeras.
“Permintaan terakhir Ibu agar aku menikah, juga belum sempat aku penuhi,” imbuh Fadhil.
Fadhil terus meraung dan menyesali diri di hadapan makam Mira. Di dalam hati Dani, tebersit rasa kagum akan akting Fadhil yang sempurna. Dani tak menyangka, Fadhil berbakat menjadi aktor.
Sebetulnya, Fadhil tak sepenuhnya berakting. Hal-hal yang dikatakannya bukan isapan jempol semata. Semua itu nyata dan fakta yang terjadi.
Fadhil sungguh-sungguh melontarkan pengakuan dosa secara jujur. Fadhil telah membiarkan pengakuan jujurnya direkam oleh Dani. Itulah sebabnya aktingnya dirasakan sempurna oleh Dani.
“Mas Fadhil!” Tiba-tiba ada suara wanita yang memanggil dari kejauhan.
Baik Fadhil maupun Dani sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Hanya saja, Dani menoleh sambil mengarahkan kamera, sehingga sosok wanita di kejauhan masuk ke dalam rekaman.
Bukan tanpa sengaja Dani melakukan hal itu. Insting Dani kembali berbisik, bahwa wanita yang baru datang itu akan menjadikan konten semakin menarik. Kedatangannya saja sudah membawa efek dramatis.
“Hah? Renata?” gumam Fadhil terkejut.
Renata berlari kecil mendekati Fadhil yang masih berlutut di depan makam. Tentu saja aksi lari-lari kecil itu juga direkam oleh Dani.
“Mas, aku baru dengar bahwa ibumu meninggal. Aku turut berduka, Mas,” ucap Renata di hadapan Fadhil.
Renata ikut berlutut di depan makam, sehingga posisi mereka kini berdampingan. Tangan Renata menyentuh punggung tangan Fadhil. Fadhil bergeming.
Fadhil masih terperangah dengan kedatangan Renata yang tak ia sangka-sangka. Tatkala ibunya meninggal, Fadhil memang tak mengabari Renata. Ia lupa kepada gadis itu, akibat rasa kesal terhadap Renata setelah pertemuan terakhir mereka yang tak mengenakkan hati.
Melihat Fadhil yang tak menanggapi ucapannya, Renata kemudian menangis.
“Wah, ternyata gadis ini Ratu Drama,” batin Dani sambil terus merekam.
“Buat apa kamu menangis?” tanya Fadhil dingin.
Renata mengeraskan isakannya.
“Aku minta maaf, Mas. Aku belum sempat bertemu dengan ibumu, tapi beliau keburu meninggal,” kata Renata dengan suara parau.
Fadhil masih diam.
“Aku menyesal menolak ajakanmu bertemu Ibu tempo hari. Sekarang aku terlambat menemui Ibu,” sesal Renata diantara isak tangisnya.
Fadhil mendengkus.
“Ya. Kamu memang terlambat. Kamu tahu, Ibu memintaku menikah menjelang kematiannya,” geram Fadhil serius.
Renata ternganga. Ia lupa akan tangisannya. Renata gelagapan, hingga tak mampu berkata-kata.
“Karena sikapmu, aku belum sempat memperkenalkanmu kepada Ibu,” tuduh Fadhil lagi.
Mendengar hal itu, Renata kembali menangis tersedu-sedu.
Klik!
Dani menghentikan rekamannya tepat pada saat Renata menangis.
“Sempurna!” bisik Dani seraya tersenyum puas.
Bunyi kamera yang dimatikan menarik perhatian Renata. Gadis itu seketika menoleh ke arah bunyi yang didengarnya. Ia terbelalak mendapati Dani tersenyum puas sambil memandang ke arahnya.
“Si—siapa kamu?! Kamu merekam aku?” bentak Renata galak.
“Ya. Kami memang sudah rekaman sejak kamu belum datang,” terang Fadhil kalem, sebelum Dani sempat menjawab.
Renata mengalihkan pandang ke arah Fadhil. Gadis itu semakin terbelalak kaget.
“Kamu merekam adeganmu di makam ibumu? Buat diunggah?” tanya Renata setengah tak percaya.
Renata tahu pekerjaan Fadhil yang seorang Youtuber. Ia hanya tak terpikir bahwa musibah meninggalnya Mira akan dijadikan konten. Lebih terkejut lagi karena dirinya turut direkam tanpa sepengetahuannya.
“Iya. Kenapa?” tantang Fadhil.
“Waduh, aku ikut terekam,” celetuk Renata.
“Kamu keberatan?” usik Fadhil.
Renata menggeleng, lalu tersenyum.
“Nggak. Aku malah senang. Siapa tahu aku semakin terkenal,” jawab Renata penuh rasa percaya diri.
Renata sedang merintis karirnya sebagai model. Sejauh ini ia sudah mendapat order memeragakan busana rancangan desainer lokal dan pemula. Kebanyakan pengguna jasanya saat ini adalah para mahasiswa jurusan desain yang belum lulus kuliah.
Popularitas penting bagi Renata. Ia haus untuk dikenal banyak orang. Dengan semakin populer, Renata berharap nama dan wajahnya akan dikenali oleh para desainer yang lebih senior. Siapa tahu, order yang datang tidak hanya sebagai peraga busana semata.
“Baguslah kalau begitu,” timpal Fadhil puas.
Fadhil bangkit berdiri dan menepiskan butiran tanah yang menempel pada lutut celana jeansnya. Renata ikut berdiri.
“Dari mana kamu tahu makam ini?” tanya Fadhil.
“Tadi aku ke rumahmu buat menanyakanmu, Mas,” jawab Renata manis.
“Jadi kamu sudah bertemu Om dan adikku?” Fadhil menatap Renata.
Renata mengangguk.
“Bagus. Ayo ikut aku pulang. Aku akan mengenalkanmu sebagai pacarku kepada mereka,” ajak Fadhil.
Renata mengangguk dan tersenyum gembira. ***