Mereka berdua berjalan bersisian untuk pulang ke rumah. Dani berjalan di belakang Fadhil dan Renata, tanpa suara dan tak terperhatikan. Dani sama sekali tidak tersinggung. Ia sudah biasa diperlakukan seolah-olah tidak ada. Kehadiran dirinya sering dianggap hanya bayang-bayang oleh kebanyakan orang. Sesekali, Dani justru merasa senang. Pekerjaannya terkadang memerlukan hal itu agar dapat berjalan lancar. Mereka semua tiba di rumah Fadhil. Sebagian besar pelayat sudah pulang. Hanya ada dua orang ibu-ibu tetangga yang masih tertinggal. Mereka membantu menggulung tikar dan meletakkannya di sudut ruangan. Tatkala Fadhil datang, semua pekerjaan itu sudah selesai. Mereka lalu berpamitan pulang kepada Adam dan Miya. “Kami pulang dulu Pak Adam, Mbak Miya,” ujar salah seorang ibu-ibu berkerudu

