Adam menghela napas panjang. Ia menatap Fadhil lekat-lekat. “Om harap kamu tidak kecewa, Fad. Om minta maaf harus jujur kepadamu,” ujar Adam berat. “Ya, ya. Katakan saja, Om. Cepat!” pinta Fadhil semakin tak sabar. Sifat terburu-burunya kembali muncul. “Aku melihatnya di sampul salah satu majalah dewasa,” ungkap Adam pelan. “Apaaa?!” pekik Fadhil dan Miya hampir bersamaan. Kedua kakak beradik itu terbelalak dengan ekspresi tak percaya. Fadhil bahkan sampai mundur selangkah, saking terkejutnya dia. Miya menutup mulutnya yang ternganga. Ia menggeleng-gelengkan kepala tanpa sadar. “Om tahu kamu pasti merasa syok. Itulah alasan Om tidak menyetujui hubunganmu dengan Renata. Bukan karena Kirani atau gadis lain, semata-mata karena jalan hidup yang dipilih oleh pacarmu itu,” urai Adam panja

