“Mau menjenguk?” ulang Kirani dengan nada suara tak percaya. “Iya. Boleh, kan?” tegas Fadhil. “Bo—boleh. Tentu boleh. Emmm ... nama kamarnya ...,” Kirani menyebutkan nama kamar dan nomor kamar tempat Marni dirawat. “Baik. Aku usahakan untuk membesuk ibumu nanti,” ujar Fadhil. “Terima kasih,” kata Kirani otomatis. Sambungan telepon dimatikan Fadhil. Kirani menatap ponselnya, bingung sejenak dengan tingkah Fadhil. Apa katanya tadi? Mau mengusahakan datang? Ih, bukannya dia sendiri yang berniat untuk menjenguk. Kok seolah-olah aku yang memintanya datang, batin Kirani dengan sebal. Ah, terserah! Kirani memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia menyelesaikan pengemasan barang pada ransel dan bersiap-siap pergi. Fadhil sudah menguap dari ingatannya. Saat Kirani tiba kembali di rum

