“Alhamdulillah. Masih ada yang percaya,” sahut Dani tenang. Ia tak memandang Fadhil sedikit pun. Dani memilih mengaduk-aduk es teh manis di hadapannya, lalu menandaskan isinya yang tertinggal separuh. Kirani merasa ada hawa yang tidak mengenakkan seiring dengan kedatangan Fadhil. Kirani sendiri tak tahu pasti suasana yang mendadak garing. Lantaran merasa tidak nyaman, Kirani langsung mengambil sikap. “Pak, berapa semuanya?” tanya Kirani seraya berdiri. Bapak pemilik warung mendekat dengan sigap mendengar panggilan Kirani. Kirani berani mengambil tindakan itu karena dilihatnya minuman Fadhil dan Dani sudah sama-sama kosong. Dari gelagat yang ditunjukkan mereka, tak tampak ada niat untuk menambah makanan lagi. “Kamu mau traktir kita, Ki?” tanya Dani seraya mengangkat sebelah alis. Ti

