“Assalamu’alaikum,” kata Kirani saat memasuki rumah, sepulang dari makan bakso. Seperti yang terjadi setiap hari, Kirani melihat Marni tengah duduk di depan teve. Ibunya sudah mandi sore, beraroma bedak bayi, mengenakan daster tanpa lengan bercorak kembang-kembang besar, dan menonton teve ditemani satu stoples keripik bayam sebagai camilan. “Camilan sehat,” kilah Marni selalu. Kirani tak pernah membantah, walaupun minyak di sekujur keripik itu sangat terlihat dan membuat bibir ibunya mengilap. “Wa’alaikumussalam. Kusut banget mukamu, Ki? Banyak pekerjaan hari ini?” sapa Marni sambil melirikkan mata. Kirani menggeleng lesu. Ia ingin membersihkan diri dulu sebelum mencurahkan isi hatinya yang hancur kepada Marni. “Aku mandi dulu ya, Bu. Capek banget rasanya hatiku,” jawab Kirani. “Heh?

