Encounter (Pertemuan Tak Terduga)

3415 Kata
Hari insiden. Sudah satu minggu berlalu dan wajah tampan Reza Soemarwoto masih hilir mudik muncul di banyak tabloid. Bukan hanya itu saja, namanya juga tidak jarang disebut pada acara gosip di televisi untuk kemudian disandingkan dengan model terkenal, Amara Marsha. Awak media juga tidak segan-segan menulis berita acara dengan font ukuran besar pada setiap berita yang menyangkut Reza Soemarwoto. CEO Brilliant Human, Reza Soemarwoto dikabarkan berselingkuh dengan model Cantik, Amara Marsha. Tertulis demikian pada lembar pertama salah satu tabloid yang mendarat di atas meja kerjanya. Selama tiga puluh tahun hidup, baru pertama kalinya Reza menemukan dirinya terlibat skandal perselingkuhan. Selama ini surat kabar metropolitan hanya mengungkit prestasi Reza sebagai CEO termuda di keluarga Soemarwoto. Masalahnya, Amara merupakan brand ambassador dari perusahaannya sendiri. Selain itu, Amara juga merupakan kekasih dari Wira Soemarwoto yang merupakan sepupu sekaligus Chief Operating Officer di perusahaannya. Isu perselingkuhan antara Reza dengan Amara bukan hanya akan membuat nama baik keduanya jelek, melainkan ikut mengancam hubungan kekerabatan antara Reza dengan Wira. Reza melonggarkan ikatan dasi pada lehernya sedangkan, satu tangannya yang lain menggenggam selembar tabloid gosip. Pada sampul depan tabloid terpampang wajah Reza dan Amara di dalam satu frame. Keduanya tampak tertawa, tampak begitu akrab. “Din, kamu ingat tidak foto ini diambil kapan?” tanya Reza kepada sekretarisnya sambil menunjuk tabloid di tangan. Di balik kacamatanya, Dinni berusaha membaca situasi yang terekam di dalam sebuah gambar. Tidak lama dari itu Dinni bersuara, “Sepertinya diambil tahun lalu, Pak. Di dalam foto ini Bapak menggunakan tuksedo hitam dengan flower pin berwarna ungu di kantung. Sedangkan, Bu Amara menggunakan gaun satin warna ungu. Itu adalah dresscode yang digunakan oleh groomsmen dan bridesmaids pada acara pernikahan Panji Soemarwoto.” Sekarang Reza ingat kapan foto tersebut diambil. Pada saat itu Reza tidak hanya terlibat percakapan dengan Amara, melainkan juga Wira dan kerabat yang lain. Kala itu hubungan Reza dengan Amara cukup dekat. Keduanya sudah saling mengenal sejak SMA dan menjadi teman baik sampai saat ini. Hanya saja entah kenapa wajah Wira dan kerabat lainnya tidak ikut dipotret. Dari sini Reza menyadari jika isu perselingkuhan ini tercipta bukan karena ketidaksengajaan, melainkan karena ada aktor yang bergerak di belakangnya. “Apakah saya harus menghubungi awak media untuk menghapus berita tersebut, Pak?” tanya Dinni dengan nada suara tegas. Reza mengalihkan pandangannya dari tabloid ke dinding kaca di bagian utara ruang kerjanya. Langit di luar sana tampak semakin gelap saja. Sebetulnya waktu kerja Reza dan Dinni sudah habis, namun keduanya harus lembur demi membahas sejumlah masalah yang berkaitan dengan investor. Semenjak gosip perselingkuhan mencuat, beberapa investor penting menarik dana mereka dari perusahaan Reza. “Pesta pernikahan Panji dilaksanakan secara tertutup, kan?” “Betul, Pak. Panji Soemarwoto hanya mengundang lima puluh tamu yang terdiri atas kerabat dan orang terdekat. Tidak ada wartawan yang datang dan pintu juga dijaga secara ketat.” Reza melirik Dinni sekilas sambil tersenyum miring. “Menurut kamu siapa yang berani mengambil foto saya diam-diam di tempat yang seharusnya aman?” Dinni mendorong kacamatanya yang merosot di hidung sebelum memberikan asumsinya. “Orang terdekat keluarga Soemarwoto?” “Ya, itu jawabannya,” timpal Reza agak mengawang. “Tidak akan ada orang yang seberani itu mengusik keluarga Soemarwoto, kecuali mereka yang berasal dari garis yang sama.” “Probabilitasnya begitu, Pak. Terlebih perusahaan kita masuk sebagai perusahaan informasi dan teknologi terbaik selama lima tahun berturut-turut. Jika diingat memang ada keluarga Soemarwoto yang bergerak di bidang yang sama dan menjadi kompetitor kita.” Reza menganggukan kepalanya. Dugaan Dinni tepat. “Tolong kamu cari tahu siapa yang mengambil foto ini. Jika orang itu masih kerabat saya, bawa dia ke hadapan saya. Tetapi, jika orang tersebut berada di luar lingkup keluarga Soemarwoto, biarkan saya yang menghampiri dia terlebih dahulu.” Dinni mengangguk sekali. “Baik, Pak. Akan segera saya lakukan.” “Jangan tergesa-gesa ya, Din,” perintah Reza. “Bergerak pelan saja sampai orang itu tidak sadar kalau kamu sedang mengincarnya.” “Baik, Pak. Sesuai perintah Bapak.” Reza bangkit dari kursinya menuju lemari kabinet di ujung ruangan. “Sebaiknya kamu segera pulang.” “Bapak sendiri bagaimana? Akan lembur?” “Tidak. Tetapi, saya punya tugas lain,” timpal Reza sekenanya sambil meraih kaus lengan pendek, hoodie, dan celana jeans berwarna hitam dari lemari kabinetnya. Reza sengaja menyimpan pakaian santainya di kantor untuk momentum tertentu seperti malam ini. *** Bachelor party atau pesta bujang, begitu orang-orang menamainya. Itu adalah tugas terakhir Reza malam ini. Reza memarkirkan mobilnya pada salah satu pub di kawasan Senopati. Seperti kebanyakan kebiasaan bujang dari keluarga Soemarwoto, mereka akan merayakan hari-hari terakhir melajang dengan berkumpul bersama orang terdekat di pub. Katanya, dentuman suara yang keras, dance floor yang licin, dan bau rokok tersebut belum tentu dapat mereka nikmati setelah menikah nanti. Reza masuk melalui pintu depan dan mulai mengedarkan pandangannya. Seharusnya Indra dan orang-orang yang ia kenal sudah ada di sini sejak satu jam yang lalu. Baru beberapa detik melangkah Reza mendengar suara khas Indra. Indra berada di lounge pojok barat pub, sedang duduk dengan dikelilingi teman laki-lakinya, beberapa di antara orang tersebut Reza kenal. Mereka adalah alumni dari kampus yang sama dengan Reza. Salah satu di antara orang-orang yang menemani Indra terdapat Wira. Wira terlihat lebih senang berada di sini daripada ketika keduanya bertemu di kantor pagi tadi. “Yo, Reza!” Melihat Reza yang mendekat membuat Indra dengan senang memanggil namanya. Wajah Indra terlihat ceria mungkin karena sebentar lagi akan menikah. Reza mengangguk seadanya dan duduk di kursi kosong tidak jauh dari Indra dan Wira. Suara musik yang keras sejujurnya membuat Reza tidak nyaman. Reza lebih suka kantor atau apartemennya. Di dua tempat itu ia bisa berpikir dan mengerjakan banyak hal. “Thanks, Za udah datang. Lo tau ‘kan ini kali terakhir gue datang ke pub? Mikaela mana mungkin mengizinkan gue party lagi setelah menikah nanti. Beruntung deh lo belum jadi suami orang,” kata Indra begitu blak-blakan. Sejumlah teman laki-laki Indra meliriknya seperti penasaran. Reza mengembuskan napas berat. Padahal Indra yang akan menikah, tetapi Reza juga harus ikut repot. Setelah ini mungkin Reza harus memberikan tumpangan untuk Indra karena dapat dipastikan jika laki-laki itu akan pulang dalam kondisi mabuk berat. “Sebentar lagi Reza akan punya kekasih,” celetuk Wira tiba-tiba. Giliran Wira yang menatap Reza. Tatapan Wira yang biasanya sarat akan keakraban mendadak terasa asing bagi Reza. Sudah dapat dipastikan jika sekarang Wira mulai tidak menyukainya, apalagi jika bukan karena skandal perselingkuhan yang melibatkan dirinya dengan Amara. Indra yang belum tahu apa-apa memilih untuk menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi dan menuangkan vodka pada satu gelas sloki yang masih kosong. “Baguslah. Usia lo memang sudah cukup untuk nikah, Za. Lo juga udah mapanlah secara ekonomi. Perusahaan sendiri punya, anak tunggal iya, kaya juga iya. Apa sih yang lo cari?” Dengan tangannya sendiri Indra menyodorkan gelas sloki tersebut kepada Reza. Mau tak mau Reza menerimanya. Ia tidak boleh minum banyak malam ini jika ingin pulang dengan selamat mengendarai mobilnya sendiri. Reza tidak langsung menjawab melainkan menenggak cairan vodka di gelasnya. Rasa pahit dan sensasi panas langsung terasa menyerang lidah dan tenggorokan Reza. “Emang siapa gebetan lo, Za? Tinggal di Indonesia atau luar negeri? Kok kayak enggak pernah ada kabarnya, sih? Orang biasa?” Salah satu teman Indra yang kepalanya plontos bertanya. Mulutnya seperti kereta api yang menyerocos tanpa mau berhenti. Kalau tidak salah dia merupakan penerus majalah busana terbesar di Indonesia. Wajar baginya mengenal banyak model tanah air. “Bukan siapa-siapa—” “Orang Indonesia, model terkenal.” Kali ini yang menimpali adalah Wira. Kerabat Reza yang satu itu sepertinya memang sengaja melibatkan Reza di dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Sepertinya satu-satunya orang yang tidak mempercayai skandal perselingkuhan itu hanya Dinni, sekretarisnya. Terdengar sorak sorai dari Indra dan juga teman-temannya. Mereka heboh seakan-akan perkataan Wira adalah kabar gembira yang harus dirayakan. “Siapa … siapa? Gue kenal enggak? Kalau model-model tanah air gue kenal banyak. Sebentar … sebentar yang masih single itu Isabella, Miracle, Mariani ….” Teman Indra itu tampak berpikir, mengingat daftar model perempuan yang dirinya kenal dan mengabaikan raut wajah Reza yang mulai masam. “Gita, Anggi, Lisa. Itu cewek-cewek top yang paling banyak penggemarnya. Lo lagi deket sama siapa, Za? Amanlah cerita sama kita,” lanjutnya sesaat kemudian. “Bukan siapa-siapa. Gue enggak dekat sama perempuan mana pun, kecuali untuk urusan bisnis. Sudahlah inti acara ini ‘kan untuk Indra,” balas Reza masih secara halus. Reza tidak mau membuat acara milik Indra berantakan hanya karena emosinya. Indra mendecak kecewa. “Payah banget, Za. Cowok kayak lo tuh pasti banyak yang naksir. Cuma lo aja yang tutup mata. Pilihlah salah satu yang membuat lo tergila-gila. Kita ini sudah dewasa, sudah punya kebutuhan biologis yang harus dipenuhi.” Salah satu teman kuliah Reza mengangguk, ikut mengamini perkataan Indra. “Bisa gitu, tapi orang kayak Reza pasti cari ceweknya pilih-pilih. Kalau enggak pebisnis yang udah mapan, ya … cewek-cewek sosialita.” “Iya, sih.” “Eh, bentar. Serius, Wir si Reza enggak lagi deket sama siapa-siapa?” Rupanya si kepala plontos masih penasaran. Reza mulai menaruh curiga kalau laki-laki itu ikut terlibat di dalam distribusi gosip tentang dirinya dan Amara mengingat bisa saja ia bekerja sama dengan majalah gosip. “Am—” “Wir!” Sebelum sempat Wira menyebut nama Amara dan mengagetkan banyak orang, Reza sudah terlebih dahulu memotong ucapannya. Semua orang terlihat terkejut atas reaksi Reza, kecuali Wira. Wira tampak begitu santai menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi seperti begitu menikmati adegan malam ini. “Kenapa, Za? Mau dirahasiakan sampai kapan?” balas Wira sambil mengangkat dagunya, menantang Reza. Reza jelas bisa marah. Reza juga bisa menghajar Wira di rahangnya sampai laki-laki itu jatuh, namun Reza jelas tidak akan melakukan tindakan konyol tersebut. Jadi, dengan berat hati Reza bangkit dari duduknya sambil memperhatikan raut wajah tenang. “Gue enggak lagi dekat dengan siapa pun. Jadi, berhenti bertanya, termasuk itu lo.” Reza menunjuk laki-laki kepala plontos dengan matanya. “Maaf, Indra gue duduk di sana aja. Teman-teman lo bawel sekali.” Indra yang duduk dekat si kepala plontos segera menyikut perut temannya sewaktu dirinya akan bicara. Seperti telah memahami situasi, Indra mengangguk satu kali. “Silakan, Za.” *** Sama seperti kebanyakan pub pada umumnya, kondisi pub malam itu berisik dan agak bau rokok. Reza yang merasa tidak memiliki tempat lain memilih untuk duduk pada salah satu kursi di cocktail spot. Tempat itu hanya diisi olah muda-mudi yang menikmati minumannya sambil berbincang menggunakan suara pelan. Atmosfer di sini terasa begitu berbeda dari lounge tempat Indra berada. “What do you want, Sir?” Salah seorang bartender dengan kumis hitam legam mendekat dan bertanya. Pembawaannya tampak seram meskipun suaranya begitu sopan dan nada bicaranya lugas. Reza yang tidak ingin mabuk segera menyebut pomegranate fizz sebagai menu yang ia pesan. Minuman itu termasuk ke dalam jenis mocktails. Sang bartender mengangguk dan segera membuatkan pesanan Reza dengan gerakan tangan yang cekatan. Selama menunggu minumannya siap, Reza mengedarkan pandangan menelusuri setiap sudut cocktail spot di pub ini. Satu hal menarik perhatian Reza di mana tidak jauh dari tempatnya terdapat seseorang dengan rambut terurai panjang yang sedang beradu mulut dengan bartender lain. Suara mereka terdengar sampai ke tempat Reza. “Mam, Anda belum bayar minumannya,” kata bartender di sana dengan wajah yang mengeras. “I don’t have any money, sir. Please let me go… I’m so poor, you know?” “I’m so sorry, Mam. Tapi, ini bukan tempat amal. Anda harus membayar untuk minuman yang telah Anda habiskan dan baru boleh pergi,” tegas bartender itu lagi. Sekalipun raut wajahnya tampak marah, namun suaranya masih terkontrol dengan baik. “Ih!” Tanpa disangka sang lawan bicara justru berteriak putus asa. Dari suaranya ia terdengar seperti perempuan mabuk yang datang ke sembarang pub karena ingin melampiaskan masalahnya. “Minuman Anda, Sir.” Bartender berkumis tadi kembali dengan minuman dingin milik Reza. Pandangan matanya mengikuti arah pandang Reza sebelum akhirnya ia lanjut bicara, “Orang seperti itu memang sering datang ke tempat ini. Pusing sekali kami karena tidak jarang harus bertengkar hanya karena mereka tidak mau membayar satu gelas wine.” Reza mengabaikan suara bartender di depannya dan lebih memilih untuk mendengarkan percakapan perempuan di sisi sana. Rasa-rasanya Reza tidak asing dengan suara tersebut. Rasanya Reza seperti pernah mendengarnya dahulu kala. Begitu perempuan itu bangkit, Reza baru bisa melihat wajahnya. Sekalipun sepuluh tahun telah berlalu, namun Reza masih dapat mengenali wajah itu. Sepasang matanya, hidungnya, bibirnya, mulutnya. Reza mengenai seluruh fitur wajah itu sebagaimana ia mengenalnya sepuluh tahun silam. “Kenapa enggak ada satu pun orang di dunia ini yang mengasihani aku?” tanya perempuan itu dengan pandangan sayu menatap bartender yang akan meledak marah sebentar lagi. “Mam, aku sudah bilang—” “Shut up you, brat!” Sebelum sempat sang bartender menyelesaikan kalimatnya, Salini Rengganis sudah terlebih dahulu angkat suara. Dengan jari telunjuk yang bergetar Salini menunjuk wajah sang bartender. “Hidupku sudah sulit, jadi tolong jangan membuatnya semakin sulit lagi!” sambung Salini. Lantaran tidak tahan melihat adegan dramatis itu, Reza segera bangkit dan berjalan mendekat. Jika itu memang Salini Rengganis, cinta pertamanya maka itu artinya perempuan itu telah kembali ke Indonesia. Entah sejak kapan Salini kembali, namun satu yang pasti Salini terlihat kacau, berbeda dari Salini yang pernah Reza kenal di masa lalu. “Aih! Kenapa sulit sekali, sih?” Sang bartender mengerang kesal sambil menghampiri Salini yang mulai meninggalkan cocktail spot. “Eh, Mam. Mau ke mana?” Reza melirik tempat yang semula Salini tempati. Terdapat satu botol wine yang tampaknya telah kosong. Salini minum terlalu banyak dan bisa saja muntah di sembarang tempat. Bartender yang kesal itu meraih lengan Salini, mencegahnya untuk pergi. Namun, dengan cepat Salini menepis tangannya. Kondisi Salini yang mabuk parah membuat perempuan itu tidak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya sendiri sehingga pada detik berikutnya tubuh Salini ambruk di lantai pub yang kotor oleh debu. “Oh my my my ….” Sang bartender terkejut namun, memilih untuk tidak melakukan apapun. Reza dengan cepat menghampiri dan membantu Salini agar bangkit. Dari jarak dekat Reza dapat melihat wajah Salini yang merah seperti kepiting rebus, belum lagi aroma alkohol yang menguar dari mulutnya setiap kali perempuan itu berbicara. Entah apa yang terjadi pada Salini sehingga ia berada pada situasi seperti sekarang. “Ah, kenapa dunia jadi berputar, sih,” keluh Salini sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Reza, memastikan setelah Salini berdiri dengan sempoyongan. Salini menatap Reza dengan pandangan bingung. Ekspresi Salini menunjukan seolah-olah dirinya baru saja melihat alien. Salini bahkan sempat memaju mundurkan wajahnya selama beberapa kali ke Reza guna memastikan penglihatannya sendiri. Setelah menyadari jika yang berdiri di depannya adalah Reza, Salini menunjuk wajah laki-laki itu. “Oh? Reza Soemarwoto?” Salini tersenyum manis lalu melanjutkan, “Long time no see, my super annoying ex.” Untuk beberapa detik Reza terpaku di tempatnya. Suara Salini, tatapan Salini, dan senyum Salini. Semua tentang Salini terasa tidak nyata malam ini. “Sudah ya, Re. Aku harus pergi …. Aku superrrr sibuk,” lanjut Salini sambil menurun tangannya dan berjalan berbalik meninggalkan Reza. Perempuan itu bahkan masih menggunakan sapaan Re alih-alih Za seperti kebanyakan orang. Reza mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sementara itu, bartender yang tadi berbicara dengan Salini berniat untuk menyusul perempuan itu jika saja Reza tidak melarangnya. “Jangan dikejar, biar saya saja yang bayar.” Dengan cepat Reza mengeluarkan kartu kreditnya dan menyelesaikan pembayaran untuk minuman Salini dan dirinya. Setelah menyelesaikan transaksi Reza dengan cepat berlari menuju arah pergi Salini. Dalam kondisi mabuk begitu Salini pasti belum pergi terlalu jauh. Seingat Reza, Salini bukanlah tipikal orang yang kuat meminum alkohol. Dan melihat kondisi Salini barusan, Reza masih yakin jika Salini masihlah seorang peminum yang payah. Reza berjalan keluar dari lobi, menyusuri parkiran depan yang padat untuk kemudian menemukan Salini yang berjongkok di depan sebuah mobil hatchback warna merah. Wajah Salini tertunduk lesu. Tanpa perlu berpikir untuk yang kedua kalinya Reza mendekat dan menepuk bahu Salini. Tindakan tersebut membuat Salini mengangkat wajahnya. Air mata tampak membanjiri pipi Salini yang kemerahan. “Oh?” Salini terlihat bingung. Suaranya berubah sengau. “Reza Soemarwoto? My old damn love. Long time no see, Re.” Old love. Bagi Reza, Salini merupakan wujud dari cinta pertama yang menyakitkan. Seseorang yang membuat Reza kesulitan selama sepuluh tahun belakangan. Sementara itu, bagi Salini, Reza hanyalah seseorang yang berasal dari masa lalunya. Pertemuan keduanya malam ini menjadi sesuatu yang berada di luar kuasa Reza dan Salini. Tepat seperti takdir yang tidak bisa dicegah. Reza mengusap rambutnya, berpikir. “Kamu kenapa di sini? Tidak pulang?” Salini berdiri dan menggelengkan kepalanya. Di bawah pengaruh alkohol Salini mulai bercerita, “Aku gagal, Re. Kamu tau?” Salini menatap Reza tepat di matanya dengan pandangan yang sarat akan rasa sedih. “Aku kehilangan reputasi yang susah payah aku bangun sebagai perancang gaun pengantin, aku bahkan ditipu oleh pacar yang aku cintai, dan kamu tau apa kesialanku selanjutnya, Re?” Reza menanti Salini melanjutkan kalimatnya. “Aku enggak punya uang untuk bayar denda, Re. Aku ….” Salini mengembuskan napas berat dari mulutnya. “Aku sial sekali, Re.” Sejujurnya Reza tidak tahu harus berkata apa. Pertemuannya dengan Salini saja udah cukup mengejutkan dan begitu mendengar cerita Salini, Reza tidak kalah terkejutnya. “Ini semua salah kamu, Re.” Di tengah kecamuk pikirannya akan Salini, perempuan itu kembali bicara. Kali ini dengan nada suara kesal. “Seharusnya sejak awal kamu enggak usah mendukung mimpiku sebagai perancang gaun pengantin. Seharusnya aku menuruti perintah Papa Jun untuk menjadi pengacara atau dokter saja.” Salini kembali menangis. Suaranya mulai terdengar bergetar. Reza sudah lama sekali tidak melihat Salini yang tampak sesedih ini. “Seharusnya kamu seperti orang-orang, Re,” racau Salini masih enggan untuk bungkam. “Seharusnya kamu seperti mereka yang enggak mendukung cita-citaku. Dengan begitu, aku akan merasa enggak punya harapan dan enggak akan terjebak di dalam situasi menyebalkan seperti sekarang!” Salini berteriak di akhir katanya. Suaranya yang meninggi membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh dengan penasaran. Sadar bahwa tindakan tersebut akan memancing banyak pasang mata, maka Reza berusaha untuk menenangkan Salini. “Salini, tenanglah. Aku antar kamu pulang sekarang juga, ya? Kamu masih tinggal bersama Om Jun ‘kan?” Salini menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Enggak mau.” “Kenapa?” Kali ini Salini melunak. “Kalau aku pulang, aku harus menikah.” Dahi Reza berlipat mendengar penuturan dari Salini. “Maksudnya bagaimana?” “Kalau aku pulang maka, aku harus menikah. Papa Jun bilang begitu. Hah … astaga, aku bahkan sudah enggak punya uang untuk pergi ke motel atau mengontrak.” “Menikah? Dengan laki-laki yang mengkhianati kamu itu?” Salini memelototi Reza karena telah membuatnya mengingat wajah Aji Suwartapradja, mantan yang telah membuat Salini terlibat di dalam isu plagiarisme rancangan gaun pengantin. “Reza dari dulu kamu memang bodoh. Mana mungkin aku mau menikah dengan manusia seperti itu?” tanya Salini dengan gemas. “Okay, jadi?” Entah kenapa Reza merasa was-was selama menunggu jawaban dari Salini. “Enggak ada,” jawab Salini sekenanya sambil berjalan mendekati pintu supir mobil hatchback. Dengan gerakan grasak-grusuk Salini merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci mobil dari dalam sana. Reza yang tahu jika Salini akan pergi dalam kondisi mabuk berat segera menahan gerakan tangannya. “Jangan pergi. Kamu mabuk.” Salini tersenyum miring sambil menepis tangan Reza dan lengannya. “Kalau kamu menahanku, kamu harus menikahiku, Re. Kalau kamu menikahiku maka, kamu bisa mengeluarkan aku dari semua bencana yang diakibatkan oleh kamu.” Mengetahui jika Reza belum menemukan reaksi apapun membuat Salini bergegas membuka pintu mobil. Salini hampir duduk jika saja Reza tidak menariknya secara pelan agar kembali berdiri di hadapannya. “Kalau begitu, menikah denganku saja,” kata Reza mantap dalam sekali tarikan napas. Salini memiringkan kepalanya, menatap wajah Reza selama beberapa detik. “Walaupun begini, aku masih pilih-pilih pasangan, tau!” Reza sama sekali tidak tersinggung mendengar jawaban dari Salini. Lagi pula, mereka tidak harus bertengkar. Tidak di saat Salini masih di bawah pengaruh minuman beralkohol. “Lalu kamu akan pulang dengan kondisi seperti ini?” Salini mengangguk lemah. Sekarang sepasang matanya semakin terasa berat. Salini harus segera tidur. “Aku akan pulang setelah memastikan sesuatu.” “Apa?” “Kalau ciuman kali ini berhasil kamu boleh menikah denganku, tapi kalau enggak … sebaiknya kamu pergi seperti dulu.” Perkataan Salini terdengar menyebalkan, namun sebelum sempat Reza merespons, Salini sudah terlebih dahulu maju dan mendaratkan bibirnya tepat di bibir Reza. Rasa hangat dan aroma wine tercium di hidung Reza setiap kali Salini menggerakan bibirnya di antara belahan bibir Reza. Ciuman malam itu terasa pahit. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN