bc

Kontrak Pernikahan untuk Salini

book_age18+
705
IKUTI
5.7K
BACA
contract marriage
HE
second chance
boss
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
mystery
loser
city
like
intro-logo
Uraian

[Warning: cerita ini mengandung konten 21+ dan karenanya dibutuhkan kebijakan pembaca]

Reza Soemarwoto merupakan pewaris kedua dari perusahaan The Soemarwoto’s Group, sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Hanya saja, berbeda dari keempat kerabatnya yang lain, Reza menjadi satu-satunya pewaris yang menciptakan perusahaan sendiri. Berkat kerja keras dan jiwa ambisiusnya, Reza berhasil mempertahankan Brilliant Human sebagai perusahaan IT terbaik sepanjang lima tahun. Sayangnya, di puncak kariernya Reza justru tersandung skandal perselingkuhan dengan Amara Marsha, selaku brand ambassador sekaligus kekasih dari kerabatnya sendiri.

Dampak yang ditimbulkan dari skandal tersebut tidak main-main. Reza harus kehilangan sejumlah investor penting dan citra perusahaannya. Satu-satunya solusi dari masalah itu adalah menciptakan berita pernikahan. Reza hanya memiliki waktu satu minggu untuk mencari pengantin perempuan. Lebih dari itu, investor terbesarnya mengancam untuk menarik dana dari perusahaan Reza.

Bersamaan dengan itu pula, Salini selaku mantan kekasihnya juga ikut terseret masalah dan tuntutan untuk menikah datang menawarkan sebuah pernikahan kontrak yang membuat Reza harus tinggal satu atap dengan Salini selama dua tahun.

Siapa sangka kontrak yang pada awalnya dibuat atas dasar keterdesakan itu justru membawa Reza kepada rahasia gelap yang disembunyikan oleh Salini, kenangan akan cinta mereka yang pahit, dan perasaan yang belum selesai. Namun, selama melalui seluruh fase itu, Amara ternyata menyimpan obsesi yang mendalam akan sosok Reza dan berusaha menyingkirkan Salini dari sisi Reza dengan caranya sendiri.

Pada akhirnya siapa yang akan bertahan? Salini dengan segudang kenangan pahit atau Amara yang datang sebagai cinta baru?

***

Jangan lupa subsrice, tap love, dan tinggalkan komentar baik ya untuk novel ini.

Note penting: hati-hati baper.

chap-preview
Pratinjau gratis
Marriage in Contract
Satu bulan setelah insiden. Reza Soemarwoto melangkah dengan percaya diri menuju ruang kerjanya. Sementara itu, Dinni yang berjalan di sampingnya ikut menyesuaikan langkah Reza yang panjang dan terkesan buru-buru. Sepanjang keduanya berjalan, banyak pasang mata yang menjatuhkan tatapan kepada Reza. Bagaimana tidak? Selain karena Reza memiliki wajah yang enak untuk dipandang, orang-orang juga asik bergunjing perihal skandal perselingkuhan antara Reza dengan Amara Marsha, kekasih dari sepupunya sendiri. Reza sendiri menyadari tatapan dari para perempuan di sepanjang lorong gedung perusahaannya. Tatapan kagum bercampur tatapan penasaran yang ditujukan hanya untuknya. Akan tetapi, Reza memilih untuk tidak ambil pusing. Baginya yang terpenting saat ini adalah menyelesaikan nama baik dirinya dan perusahaan. Sial sekali bagi Reza karena skandal perselingkuhan palsu tersebut ia jadi harus kehilangan investor berharga. “Pastikan setelah makan siang nanti kamu kirimkan surel untuk Mr. Seamus Granger. Katakan padanya untuk tidak menarik uangnya dari perusahaan kita,” perintah Reza begitu pintu lift di hadapan mereka terbuka. Para karyawan yang sudah terlebih dahulu menempati ruang di dalam lift secara serentak mengangguk hormat kepada Reza. Mereka juga langsung melangkah mundur demi memberikan ruang lebih bagi CEO muda itu dan sekretarisnya. Keduanya masuk dengan tenang. Dinni sudah cukup lama bekerja sama dengan Reza. Terkadang laki-laki berusia tiga puluh tahun itu memiliki cara berpikir yang sedikit melenceng dari kebanyakan rekan kerjanya. Dengan setengah berbisik, Dinni mengatakan opininya, “Tapi. Mr. Seamus bilang tidak ingin rugi karena skandal perselingkuhan, Pak. Publik sudah kepalang melabeli perusahaan kita buruk.” Reza tahu. Orang-orang tidak akan berhenti menggunjingnya. Pun, para investor tidak akan sudi menanamkan modalnya pada perusahaan yang memiliki citra buruk di mata masyarakat. “Dinni, menurutmu kenapa citra perusahaan sangat penting bagi masyarakat?” Reza bertanya dengan suara normal. Reza sengaja melakukannya agar orang-orang dapat mendengar percakapan mereka. Setelah ini Reza yakin gosip tentang dirinya akan berganti arah. “Karena perusahaan kita menciptakan produk untuk masyarakat? Seandainya nama baik perusahaan kita tercoreng maka, publik tidak mau membeli produk yang kita ciptakan. Saya rasa begitu, Pak Reza.” “Bukan,” Reza menjawab bertepatan dengan pintu lift yang terbuka tepat di lantai di mana ruang kerjanya berada. “Tetapi, karena perusahaan harus hidup berdampingan dengan masyarakat. Katakan pada Mr. Seamus Granger bahwa saya akan mengadakan pernikahan satu minggu lagi dan bukan dengan Amara Marsha.” Tidak ada seorang pun yang tidak terkejut mendengar pengakuan dari Reza, tak terkecuali Dinni sendiri. Hanya saja, Reza tidak peduli atas reaksi tersebut. Dirinya lantas melangkah menuju ruang kerja dan meninggalkan Dinni yang termenung bersama para karyawan lainnya. Memangnya Reza bisa mencari pengantin perempuan hanya dalam waktu satu minggu? “Sudah lama menunggu?” Reza mendorong pintu ruang kerjanya. Tempat itu sepi, hanya ada seorang perempuan dewasa yang duduk di kursi client, tepat di seberang kursi kerja milik Reza. Salini langsung berbalik manakala mendengar suara bariton milik Reza. Penampilan Salini hari itu cukup menawan. Perempuan berambut sepunggung itu mengenakan blouse biru satin yang dipadukan dengan mini skirt jeans, sedangkan bibirnya dipoles oleh lipstik merah. “Oh, sudah selesai rapatnya?” Salini menyambut Reza dengan ekspresi bosan. Reza melepaskan jas hitamnya dan menggantung benda itu pada stand hanger. Setelah itu Reza melepaskan dua kancing teratas kemejanya. Berada di ruang rapat selamat lebih dari lima puluh menit membuatnya merasa sesak. Usai merasa lebih nyaman, Reza baru mendudukan tubuhnya di seberang Salini. “Iya, maaf menunggu lama. Omong-omong aku hampir tidak bisa mengenali kamu.” “Kenapa memangnya?” Reza menunjuk Salini menggunakan dagunya. “Penampilanmu sedikit berbeda.” Salini mendengkus. “Iyalah, aku harus dandan. Meskipun aku susah, tapi aku enggak boleh terlihat miskin. Seenggaknya kalau sedang bersama kamu. Kamu tau … aku benci sekali ketika orang-orang melabeli kita sebagai the rich and the beast sewaktu SMA. Aku muak sama julukan bodoh itu.” Semua orang tahu jika Salini merupakan mantan pacar Reza. Keduanya berpacaran di semester tiga SMA dan putus ketika sama-sama duduk di bangku kuliah. Ajaibnya takdir justru mempertemukan Salini dengan Reza setelah keduanya berpisah selama satu dekade melalui insiden yang menggelikan. “That’s was good, I mean your look,” puji Reza dengan raut wajah datar. Salini tahu jika pujian itu tidak tulus. Toh, baik itu Salini maupun Reza bertemu hanya karena saling membutuhkan saja. Selebihnya mereka saling membenci. “Okay, so here’s our marriage contract,” sambung Reza sambil menyodorkan selembar kertas hvs berukuran A4 kepada Salini dan sebuah bolpoin. Marriage contract. 1.    Tinggal satu atap selama dua tahun. 2.    Tinggal di kamar pribadi masing-masing. 3.    Tidak ikut campur masalah pribadi. 4.    Kontrak dapat dibatalkan seandainya kedua belah pihak setuju. Salini menerimanya tanpa mengatakan apapun. Kemudian, secara cepat sepasang irisnya bergerak membaca tiap patah kata yang dibubuhkan pada selembar kertas tersebut. “Ini harus aku setujui semuanya?” “Tidak harus semuanya. Kita bisa menyesuaikan perjanjian berdasarkan keuntungan masing-masing.” Salini berdecak kagum. “Gila ya, kamu well prepare banget. Jangan-jangan ini bukan kali pertama buat kamu?” “This is my first time,” balas Reza acuh tak acuh. “Jadi, perjanjian mana yang harus kita pertahankan dan mana yang harus dieliminasi?” “Umm ….” Salini berpikir agak lama. Selembar kertas di hadapannya bukan sembarang kertas biasa. Kertas tipis ini menjadi penentu kehidupan Salini sampai dua tahun ke depan. Oleh karenanya Salini harus berpikir keras. “Peraturan pertama, pihak pertama, Reza Soemarwoto akan tinggal satu atap dengan pihak kedua, Salini Rengganis di apartemennya selama dua tahun ke depan. Kita enggak bisa hidup terpisah aja?” “Sayangnya tidak bisa. Setidaknya kita harus terlihat seperti sedang menjalani pernikahan normal di mana pengantin pria dan wanita tinggal di satu atap yang sama.” “Jadi, kita akan tinggal di penthouse punya kamu?” Salini berusaha meyakinkan. “Iya. Atau, kalau kamu mau kita bisa membeli apartemen baru.” “Beli? Patungan?” Reza mengangguk santai. “Di sekitar Sudirman ada apartemen yang layak untuk pasangan suami istri yang baru menikah. Harganya sekitar tiga puluh tujuh miliar. Mungkin kita bisa menyumbang delapan belas miliar per orang.” Salini melongo, tidak percaya atas apa yang baru saja dirinya dengar. “Eighteen damn milion for each person?” “Itu sekadar saran. Sebagaimana yang aku katakan sebelumnya kalau kita bisa memilih poin kontrak yang menguntungkan. Seandainya kamu keberatan, maka kita bisa tinggal di penthouse milikku.” Salini memandang Reza was-was. “Kamu enggak akan minta uang sewa, kan? Maksudku, enggak mungkin aku tinggal di tempat tinggal kamu secara gratis?” “Itu … ya, sebagai gantinya kita bisa bergantian membersihkan apartemen selama satu minggu sekali. Aku tidak terbiasa menggunakan jasa asisten rumah tangga dan berbagi tugas rasanya sangat adil.” Salini menopang pipinya menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk memegang kertas. “Kalau begitu kita seperti sedang menjalani pernikahan sesungguhnya.” “Anggap saja hubungan kita adalah indung semang dan penyewa. Kamu bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak dan dipersilakan untuk menggunakan uangku. Sebagai gantinya, kamu bisa melakukan tugas mingguan,” saran Reza dengan penuh perhitungan. “Iya juga, sih. Oke, setuju! Aku sendiri saja enggak punya uang sebanyak itu. Lagi pula, uang delapan belas miliar itu bagaimana bentuknya?” Salini mengangkat kepalanya dan meraih bolpoin untuk kemudian melingkari poin pertama pada lembar kontraknya. “Peraturan kedua, pihak pertama menyediakan ruang khusus untuk pihak kedua sebagai kamar pribadinya. Pihak pertama dilarang memasuki kamar pribadi tanpa izin pihak kedua. Peraturan berlaku sebaliknya.” Reza menyandarkan bahunya pada sandaran kursi. Keduanya bertemu di ruang kerja Reza pada jam makan siang. Selain karena sibuk, Reza juga berharap dengan hadirnya Salini ke kantornya dapat membuat orang-orang menyadari posisi Salini sebagai tunangannya. Dengan begitu, gosip perselingkuhannya dengan Amara bisa lenyap. “Tentu saja kita tidak bisa tidur di satu kamar yang sama. Sebagai orang dewasa kita butuh privasi,” ucap Reza kemudian. “Karenanya aku menyiapkan kamar pribadi masing-masing.” “Iya sih … aneh banget kalau kita tidur bareng.” Salini bergidik ngeri hanya dengan membayangkan adegan tersebut. “Tapi, Re … kamu okay?” “Okay bagaimana?” Reza mengerutkan keningnya heran. Salini menyimpan kertas dan bolpoinnya di atas meja lalu melipat kedua tangannya. Salini memandang Reza dengan kerling jahil di matanya. “Bukan, maksudku kamu ‘kan sudah dewasa. Apa enggak ada hasrat seksualnya? Misalnya seperti tidur bersama? Saling memeluk? Saling berciuman di satu kasur yang sama, saling berbagi, atau ….” Telinga Reza memerah karena malu sekaligus risih mendengar ucapan Salini yang tidak-tidak. Jadi, sebelum Salini meneruskan imajinasi liarnya, Reza sudah terlebih dulu memotong ucapannya. “Stop, stop. Kamu berpikir terlalu jauh, Lini.” Salini tertawa puas manakala mendapati Reza yang salah tingkah. Sementara itu, Reza yang risih menatap Salini dengan sorot kesal. “Don’t laugh,” perintah Reza serius. Salini mengangguk-angguk sambil mengusap setitik air mata di ujung matanya. “Seharusnya tadi aku merekam ekspresi kamu. Lucu banget tau? Lagian aneh deh, kamu ini ‘kan sudah dewasa. Sudah bapak-bapak masa karena omongan seperti tadi kamu jadi salah tingkah sendiri. Kamu ‘kan bukan anak SMA lagi.” “Bukan begitu,” bantah Reza tidak mau kalah. “Kalau aku sih, perlu aku akui kalau aku membutuhkan pemenuhan biologis,” Salini mengedikkan bahu, sama sekali tidak perlu merasa malu karena telah mengatakan hal tersebut kepada Reza. “Toh, kita sudah dewasa. s*x is not a big deal.” “Kamu salah menduga.” Salini yang merasa ditantang malah mendekatkan wajahnya kepada Reza. “Terus kenapa? Jangan-jangan ….” Salini sengaja menggantung ucapannya supaya Reza penasaran. “Jangan-jangan apa?” “Jangan-jangan kamu impoten?” tanya Salini sarkas. “Aku dengar setelah kita berpisah, kamu belum pernah terlibat hubungan jangka panjang dengan seorang perempuan. Bisa jadi karena itu? Karena … kamu sudah enggak punya gairah seksual?” “I said stop. You’re crossing the line.” Reza memperingatkan Salini untuk berhenti bercanda. “What kind of line? Kamu bilang kita harus menjalani pernikahan normal seperti kebanyakan orang. Orang-orang yang menikah di luar sana itu berhubungan badan dan berciuman seperti enggak ada hari esok. Kalau kamu memang enggak bisa … ya, enggak apa-apa. Aku Cuma tanya. Lagian, selama ini yang selalu berinisiatif untuk melakukan skinship itu aku. Kamu hanya menjadi pihak yang menerima.” Salini mengungkit ciuman mereka. “Jadi aku harus bagaimana supaya kamu percaya?” Harga diri Reza sebagai seorang laki-laki tangguh terusik oleh pertanyaan dari Salini. Namun, Salini tidak merasa perlu mundur atas hal itu. “I don’t know? Gimana ya?” Reza tahu Salini sedang menantangnya. Atas dasar perhitungan itulah, Reza mendekati Salini dan menariknya agar berdiri. Pada hitungan berikutnya Reza melumat bibir Salini. Salini yang mendapatkan skinship mendadak tentu saja terkejut. Akan tetapi, dengan cepat tubuhnya menyesuaikan Reza. Gerakan bibir Reza kasar. Ia melumat dan menggigit. Salini bisa merasakan gigi Reza yang meninggalkan gigitan kecil pada bibirnya. Rasanya geli, aneh, dan memabukkan. Padahal mereka sama-sama tidak habis minum wine. Salini melingkarkan tangannya pada leher Reza, menarik pelan bagian belakang rambut Reza sesekali mengusapnya. Sedangnya, Reza meremas pinggang Salini. Sesekali mata keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya kembali menutup untuk saling tenggelam. Jika sebelumnya Salini menjadi pihak yang mendominasi kontak fisik di antara mereka, maka hari itu sebaliknya. Reza menjadi pihak yang mendominasi, bergerak, dan meninggalkan bekas. Sedangkan, Salini lebih banyak menerima dan berusaha mengimbangi. Entah kapan, tiba-tiba saja punggung Salini menabrak dinding ruang kerja Reza. Kemudian, dengan tangan kanannya, Reza melindungi kepala Salini dari benturan yang dapat mengganggu kegiatan mereka. Lalu, satu tangan yang lainnya Reza gunakan untuk mengusap pipi Salini lembut. Tangan Salini beralih mengusap rahang Reza. Permukaan kulit itu terasa sedikit kasar karena bulu-bulu halus yang tumbuh. Salini yang mulai sesak berusaha mencari celah untuk menghirup udara dan Reza yang merasakannya lantas menurunkan bibirnya untuk meninggalkan lembap pada perpotongan leher Salini. Aroma parfum Salini tercium manakala Reza meninggalkan jejak di sana. Ada aroma manis. Manis yang hangat. Keduanya benar-benar tenggelam sampai tidak menyadari ketukan pintu. Barulah suara kenop pintu yang didorong membuat Salini dan Reza sama-sama menjauhkan diri. “Pak Reza, mohon maaf ada panggilan penting dari investor—” Dinni yang melihat adegan tersebut tampak kalang kabut, seperti baru saja melihat setan. Dengan canggungnya Dinni membalikan badan. “Maaf, Pak Reza. Saya akan kembali lima menit lagi.” Perempuan berkacamata itu kemudian meninggalkan ruangan Reza dengan wajah memerah. Salini yang terkejut atas kehadiran Dinni tentu saja tidak dapat menyembunyikan rasa malunya. Dengan cekatan Salini merapikan penampilannya yang mulai terlihat berantakan pada pantulan kaca. Reza juga melakukan hal yang sama. Keduanya sama-sama malu seperti baru saja tertangkap basah habis mencuri. “Kontraknya ….” Reza kehabisan kata-kata. Salini menatap Reza canggung. “Ah, ya kontraknya … kita bicarakan lewat telepon aja? Sekretaris kamu bilang ada telepon penting.” Reza setuju. Dia menarik kertas kontrak dan menyimpannya di laci, sedangkan Salini melipat kertas secara buru-buru dan memasukkannya ke dalam tas tangan yang ia bawa. “Kalau gitu … aku pamit?” Daripada seperti sedang membuat pernyataan, Salini justru lebih mirip seperti seseorang yang linglung. “Oh ya, supirku menunggu di lobi. Sebaiknya kamu pulang naik mobil daripada kendaraan umum.” “Eh? Enggak mau, aku bisa naik bus,” bantah Salini. “Dengan kondisi seperti ini?” “Memangnya aku kenapa?” Salini bertanya heran. Pakaiannya tampak rapi, rambutnya juga rapi. Salini tampak noram-normal saja tuh? Sedikit ragu Reza menunjuk perpotongan lehernya sendiri. “Ini … di sini ada sesuatu.” Salini memegang perpotongan lehernya sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh Reza di depannya. Permukaan kulit di sana terasa normal-normal saja. “Kenapa, sih?” Reza mengangguk keningnya yang sama sekali tidak gatal. “Ada bekas di sana.” Salini yang baru menyadari maksud dari ucapan Reza lantas menutupi lehernya menggunakan tangan. Perbuatan tersebut sangat sia-sia karena jejaknya masih ada dilihat. “YA AMPUN! Gimana caranya aku pulang?” Salini bertanya histeris. Namun, Reza memberikan solusi. Reza meminjamkan Salini hoodie yang selalu ia simpan pada standing hanger. Hoodie tersebut beraroma seperti Reza. Dengan pakaian itu, Salini melarikan diri dari kantornya seperti ulat bulu gemuk. Sebelum menutup pintu kerja Reza, Salini sempat berhenti melangkah dan berbalik. “That was good. You learn a lot.” Katanya jahil untuk kemudian lari. Sekilas Salini tidak terlihat seperti wanita berusia tiga puluh tahun. []

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.2K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook