"Yank, tahu nggak persamaan kamu sama hujan?" "Apa?" "Hujan itu bikin teduh, tapi kalau kebanyakan bisa banjir. Kadang bisa datengin pelangi juga." "Terus. Kalau aku?" "Kamu juga bikin hatiku teduh. Banjir cintaku gara-gara kamu. Dan kehadiran kamu memberi warna dalam hidupku." "Gombal!" "Boleh kan gombalin kesayanganku?" Disya hanya bisa pura-pura cuek. Padahal dalam hati kegirangan bukan main. "Eh ada lagi." "Apaan?" "Dengerin deh..." "Dengerin apaan sih?" "Kamu nggak denger? Seriusan? Padahal kenceng banget loh!" Disya menggeleng bingung. Ia tak mendengar suara apa-apa selain ada tukang bakso keliling lewat, menawarkan baksonya. "Tukang bakso?" "Bukan. Lebih kenceng suaranya. Coba fokus." Disya berusaha fokus. Tak lama ia dengar tukang bakpau keliling

