Bab. 10 - Intens

1441 Kata
Yang jahat kadang bukan sebuah tindakan kriminal semata Tapi juga kata-kata yang sering tidak sesuai fakta... *** Hari ini di Disya mulai bekerja di perusahaan milik keluarganya, yaitu di Indoworld di cabang pusat. Belum ada satu pun karyawan lain yang tahu bahwa ia adalah anak bungsu dari keluarga Rakabumi. Ia memang enggan menunjukkan siapa jati diri sebenarnya pada orang-orang di sekeliling, terutama karyawan di sana. Ia tak mau kinerjanya jadi terganggu karena dibeda-bedakan. Alhasil ia pun sedikit mengubah penampilan juga agar tidak terlalu mencolok atau menimbulkan kecurigaan khalayak para rekannya. Sebagai anak baru sebenarnya Disya agak dikucilkan oleh senior-seniornya. Di sini Disya baru sadar, kalau ada yang salah dengan cara mereka bekerja. Lebih tepatnya memperlakukan teman sejawat. Seperti ada perbedaan kelas di masing-masing orang. Hal ini mengingatkannya mirip semasa ketika zaman kuliah atau sekolah dulu. Yaitu tentang adanya perbedaan kasta sosial. Salah satu hal yang paling dibenci Disya, ia tidak suka ada orang lain yang tidak bisa berbuat dan bersikap adil pada temannya sendiri. Apapun alasannya, dan apapun perbedaannya. Apalagi hanya seputaran masalah senioritas belaka. Sangat kekanakan sekali menurutnya bila sampai jadi masalah serius. Hampir setengah hari Disya disibukan dengan segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan barunya. Bahkan tak tanggung-tanggung, teman-temannya sering menyuruhnya ini itu. Seakan sengaja membiarkan ia bekerja seorang diri. Membuat kartu member untuk pelanggan, melakukan pengumuman tentang promo mingguan, memasukkan data ke komputer, bahkan mengangkat barang hadiah masuk pun ia lakukan seorang diri tanpa dibantu siapa pun. Untungnya gadis itu tidak menggerutu terang-terangan. Ia hanya mencibir dalam hati, kalau pada saatnya nanti ia sendiri yang akan memberi pelajaran pada orang-orang yang sekarang mengerjai dirinya. Awas aja mereka nanti, kalau gue udah jadi bos di sini, gue bakal tendang semuanya satu per satu makhluk-makhluk nyebelin dari sini! Gerutunya dalam batin. Sedang sibuk memindahkan barang, seseorang menghampiri diam-diam lalu menepuk pundak Disya dari belakang. Gadis itu pun terkesiap, hampir menjatuhkan kardus yang ia junjung dan hendak pindahkan ke dalam gudang penyimpanan. Untung saja pria di tersebut lekas inisiatif dan igap membantu. Menopang pegagan dari belakang. Jelas ini terlihat seperti sebuah pelukan dalam adegan film Titanic. Bedanya, Ros dan Jack berada di atas kapal hanya dilihat beberapa awak kapal saja. Sedangkan Disya dan pria ini berada di dalam supermarket, yang tentunya banyak pasang mata menonton keduanya. Gadis itu hampir oleng, ia buru-buru menjauhkan diri dari pelukan Abrar Surendra. "Lo ngapain sih di sini?! Hampir aja jantung gue copot! Demen banget dateng nggak diundang, pergi gitu aja! Lo bukan dep kolektor kan? Dateng sesuka hati, pulangnya juga sesuka hati!" dumel Disya kesal. Abrar hanya tersenyum mesem. Ia lalu mengambil alih kardus yang tadi akan dipindahkan ke dalam. Melihat keberadaan Abrar -yang notabene sudah terkenal sebagai store managet baru- teman-teman lain satu divisi bagian informasi, dan member service, serta bagian hadiah terkaget. Mereka buru-buru berdiri dan sok sibuk tak jelas. Entah dengan apa pun. Padahal tadi kegiatan mereka hanya ngerumpi atau menggosip saja. Disya melirik sinis tanpa sengaja bibirnya sudah mendumel. "Dasar manusia manipulatif," jargon andalannya pun terlontar kilat. "Aduh Dis. Kan tadi gue udah mau bantuin, tapi lo nya yang nggak mau. Sekarang eh lo malah biarin si Bos yang angkat barang. Gimana sih? Lain kali jangan sok strong ya, kita kan juga bisa bantu lo," celetuk salah seorang rekan Disya sok baik. Gadis berambut agak panjang mirip bintang iklan Sunslik itu mendekat. Untung saja rambutnya diikat, kalau tidak bisa menyusahkan dan sering berantakan mungkin. Teman satu lagi pun turut mendekati Disya dan ikut angkat barang. Inilah akibatnya nya, saat rekan pria tengah libur. Mau tak mau, perempuan-perempuan perkasa harus bisa mengambil alih pekerjaan tersebut. Istilahnya harus multitalenta bagaimana pun beratnya. "Ini yang cowok pada ke mana semua?" tanya Abrar heran. Karena seharusnya masing-masing shift minimal harus ada satu orang pria yang masuk. Jadi bisa diandalkan bila ada barang hadiah dari belakang. "Itu Pak Tiyo kemarin sepertinya salah bikin jadwal, Pak. Jadi hari ini cowoknya libur semua, Pak," jawab salah satunya. "Kenapa kalian nggak konfirmasi ke atasan langsung? Kan bisa minta salah satu dari mereka tetap masuk, dan ditukar jadwal liburnya. Oh ya satu lagi ,mendidik anak baru bukan dengan cara membiarkannya bekerja sendiri. Tapi harus dengan membantunya sampai dia paham. Kalau cara kerja kalian seperti ini, kalian bisa saya SP semua. paham?" Mendengar perkataan Abrar barusan, seketika nyali mereka langsung menciut drastis. Kalau dapat SP, artinya tak bisa dapat kenaikan gaji juga nantinya. Sempat mereka melirik ke arah Disya yang terkesan acuh tak acuh. Mereka makin kesal. Abrar pun berlalu. Dan hal itu memberi kesempatan pada mereka untuk memarahi Disya dan mengatainya tukang cari muka. "Heh anak baru! Lo tuh jangan sok di sini! Jangan mentang-mentang si bos belain elo, terus elo jadi besar kepala!" ujar Risma memperingatkan Disya dengan jari telunjuk menunjuk ke wajah Disya. Sangking tak tahannya dihardik sedemikian keras, Disya melawan balik dengan gaya santainya. "Sorry ya, gue nggak merasa tuh CRM ke bos alias cari muka. Gue di sini cuma kerja sesuai dengan apa yang harus gue tanggung jawabin," balas Disya tak mau kalah. "Dan satu lagi, kalau gue ngikutin kata-kata kalian, itu bukan karena gue takut sama kalian. Tapi karena gue menghargai dan menghormati kalian. But, Kalian juga harusnya sadar diri, kita di sini semuanya sama. Sama-sama cari makan, sama-sama butuh penghasilan. Misal lo pada mau sok senioritas, mending ke laut aja sana biar dilahap ikan hiu sekalian!" lanjut Disya, kemudian ia pun pergi untuk istirahat makan siang. Lusi salah satu rekannya berteriak sebal. "Heh! Lo mau kemana anak baru?! Kerjaan lo belum beres itu!" Disya awalnya tak ingin menggubris, tapi ia sempat menoleh sebentar dan berkata, " gue mau makan siang. Kan gue udah kerja dari pagi. Sekarang gantian kalian dong, jangan makan gaji buta. Kerja cuma duduk-duduk sambil gibahin orang. Ngoceh nggak jelas kayak burung beo. Terus dapat duit. Enak banget hidup lo pada," tukasnya sarkastis. Keberanian Disya membuat Risma dan Lusi semakin emosi. Keduanya pun saling berkompromi untuk mengerjai Disya nanti bila ada kesempatan. Di kantin saat sedang makan, tiba-tiba Abrar mendekatinya dan ikut makan di depannya. Disya celingak-celinguk tak jelas. Bola matanya mendelik, terlihat ia ingin mengomeli Abrar, supaya tidak terlalu Intens dengannya di area kerja. Sayangnya, ia tak bisa melakukannya. Ia tak mau semakin mengundang ketertarikan orang pada hubungan mereka, yang entah mau disebut apa. "Lo ngapain sih deket-deket gue terus?! Kan udah gue bilang, gue nggak mau identitas gue di sini sampai ketahuan orang-orang, dan gue juga nggak mau dapat masalah gara-gara lo!" timpalnya setengah merendahkan suara, namun tetap menekan nada bicaranya yang khas penuh kekesalan menggunung. Memangnya gue bikin masalah apa buat lo? Yang ada elo yang bikin masalah buat gue terus. Rasa kangen gue ke elo itu selalu jadi masalah, tiap kali gue jauh dari lo." Seketika lidah Disya kelu untuk menjawab. Ia bingung kenapa Abrar bisa sesantai itu merayunya. Mereka bukan anak ABG lagi. Tapi tidak bisa dipungkiri ada sebuah letupan di dalam hati Disya, yang semakin hari semakin kuat terasa. "Kalau lo terus ngedatengin gue, yang ada ntar gue makin digosipin nggak enak sama anak-anak sini. Ya kali gue harus ngalamin kayak apa yang dialamin Kak Ines dulu. Dikira ada main sama bosnya sendiri. Ogah lah!" seloroh Disya, teringat sebuah problem yang pernah dialami kakak iparnya dulu, semasa bekerja di kantor pusat. "Santai aja kali. Toh gue jomblo, lo juga jomblo. Gue sendiri lo sendiri. Daripada sendiri-sendiri, mending kita usahain biar bisa jadi berdua. Ya kan?" "Duh! Puyeng gue dengerin lo terus! Makin nggak jelas. Lo tuh nggak malu apa ngegombalin gue mulu? Udah kayak anak labil aja," protes Disya menahan malu. "Kenapa harus malu, berjuang buat dapetin someone special? Gue nggak akan nyuri hati lo kok. Justru gue akan memintanya dengan cara baik-baik. Sampai lo rela nitipin hati lo buat gue jaga. Dengan keikhlasan hati tentunya." Lagi-lagi ucapan Abrar menimbulkan gemuruh di dalam jantung Disya. Pandangan matanya mengisyaratkan ketulusan yang sesungguhnya. Bibir Disya tak mampu lagi menyahut. Ia berpura-pura menyibukkan diri dengan makanan. Padahal dalam hati ia menguatkan diri, untuk tidak mudah percaya lagi pada laki-laki. Meski nyatanya, seorang Abrar memang layak untuk dipercayai. Hanya saja, ia belum siap akan hal itu. Sekarang memang demikian, bagaimana dengan besok atau lusa atau seterusnya? Hatinya sendiri mulai tak berani menjamin, adanya penolakan lagi. ======♡ Really Lover ♡======= Sekilas sapa_ Aduh, ini ambyar dan gaje banget kah?? Entah kenapa aku bikin scane Abrar Disya kok selalu pengen ngakak ya #plakk #gaje Btw, thanks selalu setia mengikuti cerita sederhanaku. Jangan sungkan ajak teman-teman kalian buat ikutan baca juga ya. Hehe. Tetap semangat dan sehat selalu ya gais. Uwuwu. ===========================
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN