Jatuh cinta tidak butuh syarat dan alasan Cukup ketulusan serta balasan.. *** Sekitar pukul dua belas lewat seperempat, Abrar baru saja tiba di rumah. Ia mengendap saat melangkah masuk dan bergegas menuju kamar. Sempat diliriknya pintu kamar Rukmini, yang lampunya samar terlihat padam dari ventilasi di atas pintu. Pria itu mengelus d**a, lega. Ia membuang napas berat sembari terus berjalan. Namun, tiba-tiba lampu dapur yang tadinya mati, mendadak menyala. Jantung Abrar rasanya seperti sedang ditekan kuat-kuat sampai merinding. "Mau maling rumah sendiri ya? Kok jalannya kayak gitu?" Seseorang tersenyum menatap Abrar. Di tangannya ada segelas air. Ia menyodorkannya pada Abrar dengan mimik penuh perhatian. Tapi sayangnya, pria yang dipedulikan menggeleng singkat. Tanda bahwa ia menolak

