Chapter 10: Accidental kiss

1123 Kata
Hembusan angin yang menerpa kedua insan itu tidak membuat hawa panas diantara keduanya mendingin, Alana menatap tajam Liam yang sedang bersandar pada dinding rooftop dengan sebatang nikotin di tangan nya. Tanpa memperdulikan tatapan tak bersahabat yang di berikan Alana ia tetap santai berjalan mendekati wanita itu. "Berhenti mengikuti ku!" Teriak Alana kesal membuat Liam menaikan sebelah alisnya tertarik. "Ini tempat umum siapapun bebas datang ke sini," jawab Liam membuat Alana memutar bola matanya malas. Baru saja beberapa menit yang lalu ia berencana menenangkan  pikirannya di sini dengan beberapa botol vodka miliknya, tapi sepertinya alam semesta sedang tidak berpihak penuh padanya, pria itu terus saja muncul di hadapannya seolah-olah dunia terlalu sempit untuk nya. Alana memejamkan matanya menikmati udara kota New York di malam hari, sambil sesekali meneguk botol vodka-nya, menikmati setiap sensasi saat cairan bening itu membakar tenggorokan nya menyisakan rasa hangat di tubuhnya. "Sepertinya kau memiliki banyak masalah," Alana membuka matanya melirik sekilas pada pria di samping nya yang kini sedang menghembuskan asap di mulutnya membuat nya terlihat sangat seksi di matanya, apalagi saat ia menyadari kemeja hitam yang di gunakan Liam tampak berantakan dengan dua kancing kemeja yang terbuka. Sungguh pemandangan yang indah. "Sudah selesai mengagumi ku hm?" Shit. Alana memalingkan wajahnya ke depan, ia meneguk kembali minumannya berusaha bersikap sesantai mungkin. "Jangan terlalu percaya diri Mr. Smith!" Ucap Alana sinis. "Kau terlihat memiliki banyak beban pikiran ya, setiap waktu kau selalu marah marah seperti orang depresi." Alana memutar bola matanya malas, entah ia harus merasa marah atau tersanjung tapi perkataan yang di katakan nya tidak salah juga, mengingat pertemuan pertama dan kedua mereka yang tidak lepas dari pertingkai an. "Kau masalah nya bodoh," decak Alana membuat Liam tertawa kecil. "Aku hanya memuji diri ku sendiri, apa salah?" Liam menaik turun kan alisnya menggoda. Dasar gila. "Kau hanya terlalu percaya diri, sering-seringlah mengaca." "Selalu," balas Liam dengan cepat. Pria itu berjalan mendekati nya dan duduk tepat di samping Alana, membuat ia mengerutkan dahi tidak suka. "Apa?!" Tanyanya tidak suka saat Liam menatap nya dengan intens. "Seperti nya kau punya kelainan jiwa ya," Alana membulat kan mata nya tidak terima, ia baru saja akan membalas perkataan pria itu tapi perkataan Liam membuat nya terdiam sejenak. "Kau terus marah marah untuk hal sepele, bahkan penampilan mu tampak seperti pasien rumah sakit jiwa yang lepas." Ledek Liam langsung mendapat kan satu pukulan telak di kepalanya. "Aw!" Ringis Liam mengusap kepalanya yang terasa berdenyut. Alana merapihkan sedikit rambut, ia mengeluarkan ponsel dan membuka kamera melihat dirinya yang ternyata memang cukup mengenaskan, benar-benar anak malang mana yang tampak teraniaya ini. Ia bahkan lupa memakai make up mata hingga kantung matanya tampak terlihat jelas, Alana yakin Liam akan segera menyadari nya. "Apa seburuk itu?" Tanya Alana polos menatap Liam dengan mata birunya, benar-benar terlihat menggemaskan di mata Liam. Andai saja Alana memang tipe wanita lugu yang bisa ia tiduri kapan pun, sepertinya wanita itu sudah menjadi kekasihnya saat ini. Rasanya bila tidak mengingat Ayahnya Liam pasti sudah membawa Alana ke hotel saat Liam menciumnya tadi. Sungguh entah kenapa Liam sangat menyukai bibir mungil itu, benar-benar terlihat menggiurkan untuk selalu di cicipi. "Begitulah," Liam memalingkan wajahnya menghindari tatapan Alana. Untuk beberapa saat hanya suara hembusan angin yang terdengar, sampai Alana berjalan berbalik menuju salah satu sofa yang memang sengaja di sediakan di sana. Liam mengikuti Alana dari belakang seperti anak ayam yang mengikuti induk nya entah apa yang menarik tubuh nya untuk mengikuti wanita itu, ia duduk di salah satu sofa yang tidak jauh dari tempat Alana berada. "Kau habis menangis kan," "Sok tau!" Jawab Alana sinis. Liam menghela nafas lelah. "Mata mu itu seperti terkena pukulan preman tau." Tukan apa ia bilang, harusnya ia memakai sedikit riasan mata untuk menyamar kan mata bengkaknya. Tapi tetap saja perkataan pria b******k itu terlalu kejam. "Ingin bercerita?" Tanya Liam lembut, entah setan apa yang merasuki tubuhnya saat ini tapi Liam sangat tidak menyukai ekspresi Alana saat ini. Terlihat begitu tersiksa. Alana meneguk kembali botol vodka-nya, menatap Liam dengan pandangan heran. Satu alisnya sudah terangkat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Apa pukulan ku tadi siang begitu berpengaruh, sampai aku rasa otak mu itu sudah terbalik," sinis Alana saat mengingat kejadian tadi siang. Liam terkekeh lalu kembali menyesap wine-nya. "Tidak juga, aku pernah mendapatkan pukulan yang lebih dari wanita temperamental seperti mu." Liam tersenyum penuh kemenangan. Alana menatap tajam Liam. "Excuse me! don't you say the wrong thing. f**k you jerk!" "Sepertinya tidak juga," Alana mengepalkan tangannya menggeram kesal. "Ups! sepertinya aku telah membuat seekor macan betina bangun dari tidurnya." Ucap Liam dengan nada jail membuat wajah Alana semakin merah padam seperti kepiting rebus. "LIAM!" Alana berjalan dengan langkah besar siap melayangkan pukulan bertubi-tubi kepada Liam, muka-nya benar-benar sudah memerah menahan amarah yang siap meledak kapan saja, tapi belum saja Alana mengangkat tangannya, sebuah tangan kekar sudah menarik tangannya terlebih dahulu membuat tubuhnya yang tidak siap terjatuh di pangkuan Liam. "Liam! kau benar-benar pria yang paling b******k yang pernah ku temui!" Teriak Alana sambil memukul bahu Liam membabi buta. Bukanya merasa kesakitan, Liam justru tertawa geli melihat ekspresi Alana yang masih terduduk di pangkuannya. Mukanya memerah seperti tomat dengan mata berkilat marah, dan bibir mungilnya yang maju beberapa senti membuatnya gelagapan sendiri melihatnya. Bibir Alana benar-benar candu baginya. "Kau benar-benar membuatku kualahan Ms. Johnson." Ucap Liam serak, matanya mulai menggelap seperti siap untuk menerjang siapapun saat ini. Alana mengerutkan dahi bingung tidak mengerti sampai sesuatu yang berada di bawahnya terasa begitu mengeras, ia menelan saliva nya dengan susah payah karena saat ini Liam benar-benar terlihat mengerikan saat ini. Tanpa sadar Alana menggigit bibirnya kuat-kuat membuat Liam semakin menggeram frustasi melihatnya. "Kesalahan besar ketika kau menggigit bibir manis mu itu Alana." Geram Liam membuat Alana bergerak tak nyaman dalam duduknya. Alana mencoba bangun dari duduknya, tapi tangan Liam yang melingkar di pinggangnya membuat Alana tidak bisa bergerak sama sekali. Sungguh Alana tidak menyukai posisi ini, terlalu intim baginya. "Berhenti bergerak Alana, kau benar-benar membuatku tersiksa malam ini." Ucap Liam membuat tubuh Alana membeku seketika. Alana akui dirinya bukanlah wanita suci yang selalu menjaga jarak dengan para pria. Ia juga sudah pernah merasakan yang namanya ciuman, tapi berada di posisi seperti saat ini. Alana benar-benar tidak tau harus berbuat apa sekarang. "Jangan coba-coba Liam, aku benar-benar akan membunuh mu bila kau melakukannya!" Ancam Alana. Liam mendekatkan wajahnya kepada Alana, mengikis jarak yang ada. Kini jarak antara Liam dan Alana hanyalah beberapa senti saja membuat Alana dapat mencium bau mint dari mulut Liam. "Sayangnya itu akan terjadi." Ucap Liam tepat di depan telinga Alana. Dan detik berikutnya Alana dapat merasakan benda kenyal nan dingin menyentuh bibirnya, melumat dan menggigit kecil bibirnya tanpa henti. Sial! Ia benar-benar sudah tidak dapat menahan ini lagi, persetan-an dengan semua ancaman ayahnya itu! TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN