Setelah berada Di Indonesia Itomi bertemu dengan beberapa kenalan lamanya seperti Nanami Otika, Cindy Plan, Amanda Rachel, Sebastian Alfon, merupakan teman SMA di Jakarta Internasional High School.
keluarga mereka teramat kaya dan terhormat, Nanami si Kaya tapi pelit dan fashionable, Cindy Plan suka banget melakukan hal-hal gila, Amanda Rachel penyuka makanan manis,Sebastian Alfon Playboy cap Kabel.
Grup orang kaya tersohor di Jakarta dan juga Pemegang perusahaan terbanyak se-Indonesia.
Mereka berkumpul merayakan kedatangan Itomidi Hotel Namyan di Jakarta Utara.
"Hai,kawan lama tidak bertemu,"kata Sebastian Alfon menyapa duluan.
"wah, kau makin gemuk sepertinya,apakah kau jarang olahraga?"Kata Itomi
"Sekarang dia mau menikah dengan gadis blasteran korea namanya Elizabeth Carlon kalau tidak salah,"sahut Cindy Plan seraya mengoyangkan jari tangannya.
"Jika benar otak.playboymu harus dicuci, karena kau akan beristri,"kata Namami seraya menanggulangi tangan didepan d**a.
"Mungkin dia sudah lelah dengan petualangannya,kau tahu dia sudah tidur dengan ratusan wanita namun Kurasa kali ini dia benar-benar terpikat dengannya,"kata Rachel menempati dengan wajah tersenyum remeh.
"Baguslah,bro kau sudah sadar diri, mungkin dia masih perawan sehingga kau sepertinya kebelet,"Kata itomi mengecek d3ngan4santai.
"Masih segel.biasanya mainnya dengan para jalang itu,"kata Nanami lahir menempati.
"Sialan kau,aku memang bandel tapi aku tidak asal memilih pasangan hidup dan tentunya dia masih segel,"kata Sebastian Alfon dengan bangga.
"Kau merusak wanita lain tapi giliran untuk istri kau.mau yang masih segel,dasar laki-laki laknat," Kata Rachel dengan wajah dibuat kesal.
"Owh ayolah,playboy kita ini akan menikah ucapkan selamat padanya setidaknya dia tidak pernah menyentuh kita para wanita disini,"kata Cindy plan menyahut.
"Cuih, aku bahkan tidak sudi jika harus melakukannya dengan Sebastian punyanya sangat kecil,"kata Nanami dengan mata sedikit mengejek.
"d**a kau juga rata mana mau aku denganmu,aku suka wanita seksi seperti Elizabeth pasti enak sekali pada malam pertama kami,"kata Sebastian atuh tak acuh.
"Ooh ayolah, kita sedang.membahas Itomi kenapa balik ke Indonesia masa kami harus mendengar keluh kesahmu sajah,"kata Rachel dengan malas.
"Yah, aku juga penasaran bukannya kau betah berada di Jepang, banyak wanita seksi disana dan juga bar-bar elit. kau tahu disini jam malam terkadang dibatasi,bajupun tidak bisa terbuka semua,"Kata Cindy plan menimpali ucapan
Rachel.
"Kau benar, aku menyukai Tokyo,tapi bisnis ayahku juga ada disini,kalian sepertinya tidak menyukai kedatanganku,"kata Itomi sambil menyenderkan badan asal.
"Kami menyukai kedatanganmu namun tidak seperti biasanya kau tiba-tiba datang,"Kata Nanami kembali membetulkan bajunya.
"Yah,kawan aku setuju dengan si d**a rata,"kata sebastian mengejek.
"Siapa yang berada rata punyaku montok tahu, lagipula aku masih segel yah sory,"kata Nanami dengan nada jengkel.
"Haduh, Kalian mulai lgi,"Kata Rachel dan Cindy berbarengan.
Setelah percakapan itu mereka.kemudian menikmati Sampanye dan anggur merah, makan makanan khas Spanyol sampai kenyang. kemudian mereka semua berdansa tak terkecuali Itomi.
Malam panjang bagi seorang Itomi. Itomi sudah berada di Indonesia hampir 6 bulan, baginya tidak ada yang berubah di sini.
Jakarta masih sering macet dan banyak jalan berlubang.
Adiknya masih sibuk dengan berbagai urusan di dunia fashion sedangkan dia masih seperti biasanya.
Bangunan nan megah dan mewah di rumah dihuni oleh keluarga Itomi di Jakarta dekat dengan Pantai Indah Kapuk.
Malam ini Itomi berniat ke apartemen miliknya untuk tidur disana karena sudah agak mabuk. Dia menyewa supir pengganti dari Hotel Namyan berada di sudut Jakarta Utara itu.
Apartemennya berada di Kawasan Elit Jakarta,cukup jauh dari tempat dia berada saat ini.
Supir pengganti hari ini adalah Sonoko Tatuke orang pernah ditabrak olehnya namun dia tidak menyadari wajah gadis itu karena terlalu mabuk.
Sonoko menggantikan temannya Alan untuk menjadi Supir Valet karena Alan sedang sakit, kebetulan rumah Alan dan Sonoko tidak jauh.
Sonoko tinggal di Jakarta dengan Nenek dan bibi ibunya.
Sebelum pergi dia sudah berpamitan dengan Neneknya,awalnya nenek merasa khawatir akan tetapi Sonoko sangat keras kepala.
Memasuki Lobby Hotel Namyan Sonoko membukakan pintu kepada tamunya.
"Hai,kau cepat masuk kembali dan jangan lupa langsung antar dia kerumahnya,mbak,"Kata Sebastian Alfon memapah Itomi.
"Kau ini, bisa diam tidak, berisik sekali, aku juga bisa berdiri sendiri tanpa bantuan,"Kata Itomi padahal jalannya sajah sudah sempoyongan.
"Hei-hei,seharusnya aku membuat Video mengenai dirimu sajah kalau Cindy tidak memperingati status kita semua,"kata Sebastian Alfon mendesah kesal.
"Iyah Baiklah, sampaikan salamku kepada mereka semua yah,"Kata Itomi dan berjalan memasuki mobil yang sudah ada supir penggantinya.
Kemudian Sebastian pergi meninggalkan Itomi dan Supir Pengganti itu. Sonokopun menanyakan alamat rumah Itomi.
"Pak,Rumah bapak ada di daerah mana?"Kata sonoko sambil menatap jalanan.
"Rumah saya ada di Pantai Indah Kapuk. Oh,iyah lebih tepatnya Apartemen."Kata Itomi kepada supir pengganti.
"Oh,Baiklah namun arah tujuannya sesuai dengan maps yang ini pak,"Kata Sonoko sambil menunjuk ke arah Hp Kecil itu.
"Tentu sajah, kau baru pernah menjadi Supir pengganti?"Kata Itomi kepada Sonoko dengan menyelidiki.
"iii...Iyah saya baru pernah menjadi Supir pengganti,"kata Sonoko dengan sedikit ketakutan.
"Aish, Baiklah sebaiknya saya arahkan walaupun sedikit mabuk namun saya masih tahu jalan ke Apartemen saya,"Kata Itomi sambil menggaruk belakang kepalanya tidak gatal.
Kemudian Itomi menunjukkan jalan melewati tol dan gedung tinggi disekitar Jakarta. Sesampainya di Lobby apartemennya dia lalu turun dan menyuruh satpam membantu memanggilkan taksi untuk Sonoko,karena tidak baik seorang wanita sendirian ditengah malam.
sebuah percakapan singkat terjadi antara sonoko dan satpam tersebut sambil menunggu supir taksi.
"Wah,Mbak beruntung sekalian Tuan Itomi memanggilkan taksi dan membayar mbak,"Kata Satpam Apartemen tersebut.
"Memang,biasanya tidak seperti itu,pak?"Kata Sonoko dengan wajah bingung.
"Bukan,kebanyakan supir panggilan itu laki-laki jadi biasanya tidak pernah di panggilan taksi oleh Tuan Itomi,mbak."Kata Satpam itu lagi.
"Oalah,tapi nampaknya dia juga bukan orang yang jahat yah,pak. walaupun masih keliatan muda,tidak genit terhadap wanita,"Kata Sonoko memiliki rasa penasaran.
"Tentunya, termasuk penghuni favorit disini semua cleaning servis wanita suka kepadanya, selain tampan dia juga baik hati, apabila ada uang lebih diberikan kepada kami, terutama Saya pernah memakan kebaikannya saat anak saya sedang sakit bulan lalu Tuan Itomi meminjamkan uang untuk saya,Saya berencana menggantinya saat mendapatkan bonus,"kata Satpam tersebut lagi kepada Sonoko dengan Wajah Berbinar.
"Wah,Baik sekali, ternyata dia yah,pak."kata Sonoko dengan tersenyum.
"Begitulah,mbak semua orang ada diapartemen ini juga menyukainya. Namun, saya belum pernah melihat pacarnya dariawal Tuan Itomi datang dan pulang apalagi istri. Padahal kalau Tuan Itomi mau banyak sekali penghuni apartemen ini diam-diam suka padanya terutama mbak Helen,"kata Satpam itu dengan antusias.
"Boleh, tuh pak sesama Jomblo dijodohkan barang kali cocok,pak."Kata Sonoko dengan tertawa.
"Maaf yah,mbak. saya tinggal dulu ada Pak Joko Satpam di depan yang barangkali bisa membantu,mbak. Soalnya saya disuruh ngecek ke lantai atas apartemen,"Kata Satpam itu lagi sambil Berlari kecil.
Sepeninggal Satpam tadi, Sonoko kemudian keluar gedung apartemen dan menunggu supir taksi tadi didepan gerbang. Tidak lama kemudian Pak satpam bernama Joko menyuruh supir taksi itu untuk masuk ke bagian lobby menjemput Sonoko. Setelah mengucapkan terimakasih kepada Pak Joko,Sonoko lalu menaiki mobil taksi itu.
"Dengan mbak Sonoko?"Kata supir taksi itu sopan.
"Betul,pak.Kita pergi ke jalan Atmajaya yah pak."kata Sonoko kepada supir taksi itu.
"Baik,mbak."Kata supir taksi itu.
Sesudah itu mereka lalu menuju alamat dimana Sonoko tinggal. dengan.pikiran masing-masing.
Tidak butuh waktu lama 1jam kemudian Sonoko turun dari mobil Taksi tersebut.
Nenek dan Bibinya khawatir sendari tadi bisa bernafas lega, Sonoko tidak kekurangan satu apapun.
Dan malam itu dilalui dengan hati senang dari semua orang.