Prolog
Disuatu pagi yang cerah dengan angin dan deburan ombak di sebuah villa ditengah pantai, seorang pria sedang duduk bersantai dipasir yang sangat lembut berwarna putih. Villa yang menjadi tempatnya menginap semalam bersama dengan Klien. Itomi merupakan Ketua geng ITZUKI yang merupakan Pacar Bayaran bertarif tinggi,karena wajahnya yang sangat tampan,kinerjanya sangat bagus dimata para pengguna jasanya.
ponsel berdering menandakan seseorang menelepon. Itomi melihat panggilan telepon dari Takigawa dia segera menggangkatnya.
"kau,dimana sekarang?"Kata Takigawa kepada itomi dengan nada berharap
"Astaga,kau ini kemarinkan sudah kubilang akan ke klien kita didekat Villa,"kata Itomi menjelaskan dengan singkat.
"Hey,kau lupa bahwa aku membantumu mendapatkan dia,"kata Takigawa dengan nada dibuat marah.
"sejujurnya akuilah karena ketampananku,maka kau bisa mendapatkan Klien dengan nominal 500juta,"kata Itomi dengan nada sombong.
"Tapi kau tidak tidur dengannya bukan?"Kata Takigawa sambil menahan tawa.
"Haish,masih saja kau bahas itu. kau tahu aku normal dan hanya membutuhkan waktu,"kata Itomi dengan nada gusar.
"benar-benar kau ini yahsudah sekarang kita ada klien kakap dia menawarkan 1miliar won,"kata Takigawa dengan antusias.
"Apa, dia nenek-nenek yang membutuhkan teman kencan?",kata Itomi kepada Takigawa penasaran.
"Sebentar,sambil membuka ipad pintarnya, bukan dia seorang gadis muda berumur 26 tahun,"kata Takigawa dengan sedikit antusias.
"bagaimana seorang gadis berusia masih muda seperti itu mempunyai uang sebanyak itu?"Kata Itomi merasa heran.
"Sepertinya pewaris tunggal perusahaan, dia ingin menjadikan salah satu kita tunangannya,"kata Takigawa kepada Itomi lagi.
"Cukup menggiurkan juga nominalnya,Baiklah aku akan segera kesana,"kata Itomi dengan tergesa-gesa memakai bajunya sendiri tadi dilepaskan.
"ku tunggu kau oke dan jangan lama,"kata Takigawa dengan nada mengancam.
"Siapa pak, kita mendapatkan Klien empuk,"kata Itomi sambil menutup percakapan.
Menggunakan mobil Mercy Benz merah AMG Itomi melaju memecah Jalan Okinawa menuju Tokyo.
Dengan kecepatan biasa melaju,begitu melewati sebuah jalan sepi dia memacu dengan kecepatan tinggi.
Okinawa 2jam sebelumnya.....
seorang gadis cantik bernama Sonoko Tatuke sedang memulas make up kewajahnya, dia akan bertemu dengan Himeka Nanami.
Teman masa kecil dari Sonoko Tatuke, ayah dan ibunya merupakan orang Tokyo dan Indonesia.Mereka akan menaiki wahana baru yang berada di Tokyo.
Mendengar suara telepon dari temannya Sonoko sangat senang karena Himeka akan menemaninya di Tokyo.
"Hai, Sonoko apa kabarnya?"Kata Himeka dengan nada riang.
"Iyah,aku baik-baik saja,"kata Sonoko dengan nada riang.
"wah,sepertinya aku seneng banget nih akan ke Tokyo,"kata Himeka lagi.
"Serius aku bahagia sekali bisa bertemu denganmu,"kata Sonoko kembali.
"Baiklah aku akan tiba hari hari ini jam 5sore di Tokyo kita bertemu di Stasiun kereta salah,"kata Himeka dengan semangat.
"Baiklah aku akan menjemputmu dengan sepeda motor,"kata Sonoko dengan semangat.
"Aku tunggu, dan sampai jumpa nanti,"kata Himeka antusias.
Dengan penuh semangat Sonoko menutup teleponnya dan segera memanaskan mesin motornya.
Sonoko melaju membelah jalanan Okinawa dengan sepeda motornya bahagia yang dia rasakan.Namun naas tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil mercy benz melaju kencang, dan malang tak bisa dihindari oleh mereka berdua. Itomi kaget berusaha membandingkan stir agar tidak menabrak motor gadis itu namun tidak sempat. setelah Itomi ternyata tidak bisa menghindarkan ia segera.menelepon ayahnya merupakan direktur anz Entertaiment.
"Konichiwa, otosan bisa membantuku?"Kata Itomi pada ayahnya.
"Konichiwa,apa yang kamu lakukan sekarang dengan gengmu?"Kata ayah Itomi.
"Bukan dengan gengku Otosan ini berkaitan dengan aku menabrak seseorang,"Kata Itomi dengan nada ketakutan.
"Giliran ada masalah mencari Otosan,kau ini. kau tidak lebih baik dari adikku Anako-san yang membuka perusahaan fashion,"Kata ayah Itomi kepada itomi dengan nada tegas.
"Baiklah aku minta maaf Otosan, bantuan aku walaupun terakhir kali,"Kata Itomi kepada ayahnya dengan nada memelas.
"Baiklah, tapi dengan syarat kamu harus ke Indonesia menjadi pengganti Otosan dalam Anzentertaiment,"kata Ayahnya Itomi kembali.
"Ayah dan segeralah memanggil ambulance,"kata Itomi dengan memelas.
"Iyah,otosan sudah memanggil Nakano temanmu untuk membantu memberikannya,"kata Ayah Itomi dengan nada tenang.
"Arigato,Otosan kau memang terbaik,"kata Itomi dan menutup teleponnya.
Segera setelah itu ambulance datang dan membawa Sonoko ke Rumah sakit Di sekitarnya Okinawa.
Itomi bisa bernafas lega setelah Nakano datang dan membubarkan para barisan warga yang masih penasaran.
Itomi sudah menutupi mukanya dengan topi dan maskwr sudah dipersiapkan oleh Nakano sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.
Nakano membawa Itomi kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.
sesampainya disana dia sedang melihat Gadis itu di ruangan ICU.
Rasa bersalah seakan menghantui Itomi namun dia merasa takut menghampiri gadis itu. Nakano memperhatikan hal tersebut hanya bisa menepuk pundak sahabatnya dan berjanji akan menjaga dan melihat perkembangannya kepada Itomi karena Itomi harus segera meninggalkan Jepang. Ayah Itomi,Takeru Yamada takut anaknya akan ditangkap karena menabrak seorang gadis dan membuat sahamnya jatuh.
setelah mengurus semua keperluan Itomi Nakano.menyerah visa dan paspor Itomi serta tiket pesawat untuk.keberangkatan esok hari.
Di sisi lain di rumah sakit Tokyo....
seorang gadis meringkuk diatas ranjang rumah sakit dan terus menangis,dia adalah Himeka menatap kebodohannya. Karena telah menyuruh Sonoko menghampirinya di Stasiun,walaupun dokter sudah menangani dengan baik namun Sonoko belum segera sadar.
tiba-tiba sebuah tangan wanita paruh baya menyentuh pundaknya Himeka dia adalah ibu dari Sonoko Tatuke,Mameru Nakayama dan suaminya Itori Nakayama berdiri disamping Ibu Sonoko.
Himeka menangis perlahan menyeka air matanya yang mengalir.
"Sudahlah,nak.Ini semua bukan salahmu,"kata Mameru Nakayama Ibu Sonoko.
"Iyah,sebaiknya kau pulang,kata dokter tinggal menunggu waktu sampai Sonoko sadar,"kata Itori Nakayama ayah Sonoko.
"Baiklah,sekali lagi Saya meminta maaf seandainya Saya tidak meminta Sonoko menjemput saya pasti dia tidak akan mengalami kecelakaan ini,"Kata Himeka kembali menatap kedua orang tua Sonoko dengan wajah sedih dan bersalah.
"Apa sudah terjadi tidak bisa dikembalikan, kami juga tidak ingin kamu mengalami hal yang sama dengan Sonoko, kami menggapai sebagai adik Sonoko sendari dulu,"Kata ibu Sonoko membelai rambut Himeka.
"Kami tahu yang bertanggung jawab bukan dirimu melainkan Supir itu,"Kata Ayah Sonoko dengan nada geram.
"Saya akan pulang dulu, dan akan kembali nanti sore,"kata Himeka dan berjalan berkaitan dengan kedua orang tua Sonoko.
Diluar seorang laki-laki nampak memperhatikan gerak gerak Himeka dia adalah anak buah ayah Itomi, Nakano. Nakano merasakan raut-raut wajah penuh kesedihan di wajah Orang tua Sonoko dan gadis kecil itu. Ia mengetahui nama gadis itu dari bagian administrasi mengantar Himeka ke dalam ruangan. Nakano kemudian menelepon seseorang tengah berada di Bandara Tokyo.
"Konichiwa,Itomi aku rasa gadis itu baik-baik saja tadi Pak Hitomi yang menanganinya kau tahu dia dokter tersebut dirumah sakit ini,"kata Nakano menenangkan Itomi.
"Pak Hitomi dokter bedah dan dokter ahli bidang antropologi itu,"kata Itomi dengan nada antusias.
"Iyah kau tahu, katanya hanya membutuhkan waktu sampai gadis itu siuman,"Kata Nakano berusaha menghibur Itomi.
"Itu kabar baik, kuharap dia segera sadar dan bisa melanjutkan hidupnya."kata Itomi dengan rasa bersalah.
"Sekarang Fokuslah kau di Indonesia, nama gadis itu seperti Berawalan S tapi aku tidak.mendengar dengan jelas karena mendapat panggilan dari Pak Hitomi dokter gadis itu."kata Nakano menjelaskan.
"Hem, Baiklah dan terimakasih kawan karena telah membantuku,"Kata Itomi kepada Nakano.
"Sepertinya kita sudah dulu yah ayahmu masih menyuruhku untuk kekantor,karena Merry Rose datang ke sana dan mulai mengomel-ngomel dengan bahas ibunya,kau tahu dia menyebalkan karena selalu mengomel hal tidak jelas para staf sudah membantu dia dengan baik. aku mau merekomendasikan model baru tidak serewel dia."Kata Nakano dengan kesal menahan marah.
"Memang dia temen kita semasa SMA di Jakarta Namun aku tidak suka cara kerjanya, hanya karena dia cantik bisa seenaknya dengan Para Staff kita,Pecat sajah dia, Kabari aku jika ada masalah mungkin akan berada di Indonesia selama beberapa tahun,"kata Itomi dengan nada kesal dengan Merry.
Sesudah menutup telepon Itomi dan Nakano kembali dengan kesibukan mereka. itomi segera memasuki pesawat dengan hati senang. sementara Nakano melanjutkan pekerjaan dikantor ayah Itomi.
Masih dirumah sakit ,Ayah dan Ibu Sonoko, Itori dan Mameru Nakayama masih menemani Sonoko yang masih belum siuman, sudah beberapa bulan berlalu namun belumada tanda-tanda Sonoko akan sadar.
Sampai pada suatu pagi cerah, ketika matahari menyinari seluruh ruangan kamar Ruang VIP,karena operasi dinyatakan berhasil dan Sonoko dipindahkan oleh dokter Hitomi keruangan. Namun,semua biaya rumah sakit sudah ditanggung oleh pihak penabrak Sonoko.
Tangan mungil gadis itu kemudian mulai bergerak seakan menunjukkan bahwa dia mulai tersadar.Matanya mulai mengerjap perlahan kornea cokelatnya.
"Aku sedang berada dimana ini,"ujarnya dengan kebingungan.
segera di bersaha mencabut selang infus namun dengan cekatan seorang suster yang lewat menahan aksinya itu. Orang tua sonoko baru saja tiba sehabis sarapan pagi kemudian segera menghampiri dan menenangkan anaknya.
"Otosan, aku sedang berada dimana?"Kata sonoko dengan bingung
"Kamu ada dirumah sakit nak,"kata ayah Sonoko
"Benar kat ayahmu, ibu sangat khawatir denganmu kau tahu ibu sedih ketika mendengar kamu tidak sadarkan diri,kata Ibu Sonoko
"Akh, kepalaku sakit ibu, apakah benar aku kecelakaan bahkan aku tidak mengingat siapa penabrak itu,"kata Sonoko kepada ibunya sambil merintih.
"Tentu saja, kau belum.pulih ayo istirahat dulu biar ayahmu mebantumu,"kata Ibu Sonoko dengan sigap memberikan air putih kepada anaknya.
"Otosan, maaf menyusahakanmu dan Ibu,"kata Sonoko dengan penuh rasa bersalah.
"Ayah,mengerti tidak apa anakku bukan kesalahan,"kata ayah Sonoko.
Setelah percakapan yang singkat itu ayah dan ibu Sonoko merasa bahagia anaknya telah sadar. Namun, ayah Sonoko masih tidak habis pikir dengan supir itu bisa-bisa dia menabrak anak gadisnya.