Setelah Abbah pamit pergi, Khayra dan Aksa berbincang sejenak sembari Aksa menghabiskan teh yang dihidangkan sang istri. Aksa bercerita dan menjelaskan jika dia sempat bertemu Abbah beberapa waktu lalu, sebelum hubungan mereka membaik. Khayra menyimak dengan takdzim setiap tutur cerita Aksa. Bathinnya bergetar. Entah, tidak bisa dinalar dengan logika memang. Abbahnya itu terkenal dengan sensitif kebathinnya. Di mata para santri dan assatidz, mereka mengatakan jika orang yang membiasakan dekat dengan Rabbnya, hatinya bisa peka pada hal-hal di sekitarnya, apalagi pada keluarganya. "Tapi Mas, apa sikap kamu ke aku berubah karena kata-kata Abbah?" Selidik Khayra menatap tanpa kedip pada Aksa. Lelaki itu menggeleng, "Wallahi, tentu saja tidak, Khay." Tegas Aksa tak kalah serius. Sebenarn

