Khayra melipat kertas yang baru selesai dia tamatkan--kembali--entah sudah yang keberapa kali. Surat dari Aksa ibarat pengobat rindu. Khayra merindukan semua yang ada dalam diri Aksa. Bahkan dia rindu sikap dingin lelaki itu asal berada di dekatnya. Malam berpeluk bulan. Saat seperti ini perasaan Khayra diruangi cemas tentang keadaan Aksa. Suaminya itu masih belum bisa menghubungi lewat telepon. Pernah ada pesan masuk tapi dari nomor tidak dikenal. Khayra membacanya, di dalam pesan tersebut mengatakan bahwa dia Aksa, suaminya yang berkirim pesan singkat. Alasan Aksa waktu itu, karena sedang berada di kecamatan yang tersedia jaringan, namun dia lupa membawa ponsel pintarnya. Makanya untuk berkirim pesan meminjam ponsel seorang teman. Sudah dua bulan Khayra jalani hubungan jarak jauh den

