Aksa duduk di bangku besi depan ruang perawatan sampai pukul 1.00 dinihari. Tidak peduli embusan angin terasa dingin melumat tulang. Sesekali wajahnya melengok ke arah ruang rawat Rania, memastikan kalau di sana baik-baik saja. Selain memikirkan soal Rania, Aksa juga masih pikirkan bagaimana caranya bisa menghubungi ibu di rumah, nomer telpon rumah Aksa tak pernah hapal, apalagi nomer ponsel ibu. Meski sudah jadi kebiasaan bahwa Aksa kerapkali tidak pulang ke rumah selama berhari-hari, namun beda untuk kali ini. Aksa merasa bersalah pada ibu. Mungkin dalam hati ibu menyimpan cemas atau gelisah, tapi hanya memendamnya sendiri tanpa bisa membicarakan pada ayah. Malam makin larut, Aksa masuk kembali ke ruang perawatan saat Kyai Bisri datang. Ternyata pengajian yang dihadiri baru selesai s

