Diculik?

1201 Kata
Mentari begitu hangat menyambut pagi ini, seolah memberi semangat pada penduduk bumi agar menjalani aktifitasnya dengan bahagia.   Kantor dengan rumah Ara yang cukup dekat, membuat Ara tidak membutuhkan alat transportasi untuk membawanya tiba di kantor tempatnya bekerja. Setelan berwarna coklat muda berbahan wedges crepe dengan padupadan blezer panjang berwarna coklat sedikit lebih gelap, berhias cantik ditubuhnya. Sebuah paper bag bergelantungan di tangannya, dimana jas milik Adrian yang dia gunakan semalam, ada didalamnya. Ara siap memulai pekerjaannya hari ini, setelah rasa sakit hatinya pada sang mantan tertebus semalam.   “Permisi..”   Sapaan seorang wanita berkisar hampir 50 tahunan namun masih sangat cantik, membuat Ara berbalik.   “Iya?”   Wanita itu terdiam sejenak, ia mengarahkan pandangannya pada Ara dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah tengah mengamati Ara dan menutup dengan memandang mata Ara yang jelas terlihat kebingungan. Senyum manis merekah di wajahnya.   “Cantik sekali..” Pujinya.   Ara hanya tersenyum, meski ia kebingungan. Wanita yang tidak ia kenali, tiba-tiba saja memanggilnya dan mulai menyorotinya.   “Kamu Ara kan?”   Ara tersenyum sedikit canggung, sembari mengangguk.   “Putraku memang tidak salah pilih” Katanya menggeleng pelan dengan sorot mata yang memperlihatkan kekagumannya.   “Hari ini kamu bisa ikut denganku?”   “Maaf?” Tanya Ara kebingungan. “Ta-tapi saya harus bekerja, Bu”   “Tidak usah, biar nanti saya yang bilang ke atasan kamu”   “Tapi, Bu”   Ara seolah tidak diberi kesempatan untuk mengerti dengan situasi yang tengah dihadapinya sekarang. Wanita paru baya itu sudah menariknya menuju mobil yang Ara perkirakan adalah milik wanita itu.   “Apa aku sedang di culik?” Pikiran kecil yang terlintas di benak Ara. Anehnya, ia tidak merasa takut ataupun gelisah meski sekarang tengah di bawa paksa oleh seorang wanita yang tidak ia kenali. Ara tidak menemukan kesan yang berbahaya dari wanita itu, membuatnya tidak ragu untuk ikut saja.   Sepanjang jalan, wanita itu terus bercerita perihal bagaimana senangnya dia melihat Ara. Segala pujian dia berikan untuk Ara, sedang perempuan yang tengah dibawa paksa ini hanya mengangguk dengan ucapan terimakasih tiap kali pujian di arahkan padanya.   Mereka tiba di sebuah restaurant. Dari interior dan pelayanannya, jelas restaurant itu adalah restaurant yang mewah, membuat Ara takjub melihatnya.   “Kamu sudah sarapan sayang?”   Ara hanya mengangguk pelan dengan senyum yang berhias di bibirnya. Ia masih saja kebingungan dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Sialnya lagi, bukannya berniat untuk mencari tahu siapa wanita itu, Ara malah menikmati tiap bait-bait kata pujian dan kelembutan yang wanita itu berikan padanya.   “Apa penculik jaman sekarang menggunakan rasa nyaman sebagai trik untuk menculik targetnya?” Gumam Ara dalam hati.   “Kalau begitu, kita makan makanan ringan saja. Kamu mau apa?” Tanyanya sembari menyodorkan buku menu pada Ara.   Ara hanya tersenyum dan menggapai buku yang terlihat mewah itu. Ara terdiam sejenak dengan mulut yang perlahan menganga, namun dengan cepat ia katup kembali.  Bagaimana bisa sebuah menu makanan bisa setara dengan setengah dari gajinya. Ara memutar bola matanya, mencari menu yang sekiranya bisa sedikit dia maklumi. Namun tidak satupun dari menu itu yang memiliki harga masuk akal baginya, kecuali air putih.   Ara kebingungan. Dia bukanlah wanita yang tergolong ekonomi kelas bawah. Gajinya cukup memadai, bahkan terbilang lebih untuk dirinya yang hidup sendiri. Namun melihat daftar menu yang melampirkan harga yang fantastis itu, membuat Ara seketika memandang kecil penghasilannya saat ini.   “Kamu bingung kan?” Tanya perempuan itu membuat Ara tersentak dan mengalihkan pandangannya dari buku menu yang sedari tadi membuatnya terkejut. “Aku juga selalu bingung setiap datang kemari, rasanya semua makanan enak dan ingin dicicipi”   Refleks sebelah alis Ara naik, memperlihatkan ia yang terkejut mendengar apa yang baru saja wanita cantik di depannya itu katakan.   “Bagaimana kalau Sturia caviar? Kamu mau coba ini?”   Ara kembali melirik daftar harga yang ada di depannya, mencoba mencari nama makanan yang baru saja disebut oleh perempuan yang begitu ramah itu.   Ara kembali terkejut, tatkala menemui bahwa menu yang baru saja disebutkan itu memiliki harga yang fantasis, ia tidak tahu harus mengiyakan atau menolak menu yang disarankan untuknya itu.   “Kamu tidak suka menu yang ada disini ya? Mau cari restaurant yang lain?” Tanyanya yang melihat Ara yang hanya memandangi buku menu.   Spontan Ara mengangkat kepalanya, “Ah tidak tidak... Di disini saja” Ara tidak tahu, ke restaurant mana lagi perempuan itu membawanya jika ia menyetujui untuk pindah restaurant. Bisa saja ia di bawa ke restaurant dengan harga menu makanan yang lebih tinggi. “Aku ikut sama menu yang Ibu pesan saja” Ara masih terus mencoba tersenyum.   “Oh gaji bulananku tengah melayang sekarang...” Gumam Ara depresi.   Perempuan itu mulai memesan makanan sesuai menu yang ia sarankan pada Ara tadi, dan tentunya bukan hanya menu itu saja. Beberapa menu lainnya juga ia sebutkan, membuat Ara semakin khawatir memikirkan uang yang akan dia keluarkan untuk membayar makanan yang akan ditelannya pagi ini.   “Sebenarnya aku lebih senang makan makanan rumahan, jadi lebih suka memasak ketimbang makan diluar. Hanya saja, karena hari ini buru-buru keluar, akhirnya hanya bisa mengajakmu makan disini”   “Apa katanya? Hanya?? Di restaurant semahal ini dia katakan ‘Hanya’?” Ara mulai ribut dengan dirinya sendiri.   “Ini juga gara-gara aku yang tidak sabaran ingin bertemu denganmu, jadi tidak ada persiapan”   Ara hanya tersenyum, ia bingung harus menanggapi apa ucapan wanita yang telah membawanya lari pagi ini.   “Aku senang sekali, akhirnya dia bisa membawa perempuan ke pesta. Dia membuatku harus menunggu sampai usia 50 tahun baru bisa melihat calon menantu”   “Dia bilang usianya 50 tahun? Tapi wajahnya.... Aku tidak pernah berpikir kalau ada perempuan dengan muka mulus dan secantik ini tapi sudah menginjak usia 50 tahun” Ara terus ribut dengan dirinya sendiri, dan hanya tersenyum ramah memperlihatkan sisi luarnya.   “Adrian memperlakukanmu dengan baik, kan?”   “Ad-Adrian?”   Senyum manis yang sedari tadi perempuan itu perlihatkan, perlahan sirna dan berganti dengan ekspresinya yang kebingungan.   “Bukannya kamu yang pergi sama Adrian semalam?”   Ara mengangguk. “Iya, tapi and...”   “Kamu tidak mengenalku?”   Dengan memperlihatkan wajah menyesal, Ara menggeleng. “Maaf..”   “Kamu turut saja ikut denganku meskipun kamu tidak kenal siapa aku?”   Dengan sedikit malu, Ara mengangguk mengiyakan. Ya perempuan mana juga yang akan membiarkan dirinya dibawa oleh orang yang tidak dia kenali, kalau bukan karena dia bodoh.   “Kamu tidak takut??”   “I-itu.. karena Ibu tidak terlihat seperti orang jahat, jadi...”   “Menantuku terlalu polos, hatinya terlalu baik sampai tidak mencurigai orang. Sayang, kedepannya kamu tidak boleh seperti ini. Untung saja hari ini aku yang membawamu”   Perempuan itu memperlihatkan ekspresinya yang khawatir.   “Kukira, karena kamu kerja sama Adrian, kamu sudah mengenalku”   Ara menggeleng pelan.   “Tunggu tunggu... Apa yang dia katakan tadi? ‘Menantu’??” Ara baru menyadari akan apa yang perempuan itu katakan padanya.   “Me-menantu?” Ara bertanya ulang, memastikan apa yang baru saja dia dengar.   “Kamu kan pacarnya Adrian, itu berarti sebentar lagi jadi menantuku. Rasanya senang sekali..” Kata perempuan itu dengan wajah berseri-seri.   Begitu terkejutnya Ara, sampai ia tidak tahu harus merespon bagaimana.   “Ah, apa sekarang kamu panggil aku Mama saja? Toh cepat atau lambat kamu pasti jadi menantuku. Adrian memanggilku Ibu, tapi aku ingin dipanggil Mama oleh menantuku. Tidak ada salahnya kan kalau latihan dari sekarang”   “Ta-tapi...”   Belum Ara menyelesaikan ucapannya, ponsel yang ia letakkan dalam tas berdering. Ara berbalik mendengar ponselnya berdering, kemudian kembali menatap wanita yang ada di depannya. Rasanya tidak sopan ia harus mengangkat telfon, sedang mereka tengah dalam obrolan.   “Tidak apa sayang, angkat saja..”   “Per-permisi..”   Perempuan cantik yang ia ketahui adalah Ibu Adrian, mengangguk dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.   “Halo, Ara. Kamu dimana? Aku tidak melihatmu ada di kantor sekarang, aku memerlukan berkas dari perencanaan yang kamu bahas tempo hari” Tanya Adrian dari seberang telfon.   “Maaf pak, aku sedang...”   “Adrian?” Tanya Ibu Adrian yang mendengar percakapan Ara.   Ara mengangguk, membenarkan pertanyaan dari wanita yang duduk didepannya.   “Berikan telfonnya”   Ara hanya menurut, ia juga tidak tahu harus bagaimana jika ingin menolak.   “Adrian, ini Ibu. Ara sekarang lagi sama Ibu, jadi untuk hari ini dia mengambil cuti”   “I-Ibu??” Jelas terdengar, bagaimana Adrian begitu terkejut mendengar suara Ibunya dari telfon milik Ara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN