Mentari mulai menyambut tatkala sang bulan sudah kembali ke peradabannya. Adrian mnegerjapkan mata, mencoba mengenali sekitarnya yang terasa berbeda. Tentu saja berbeda, meski masih dirumah yang sama, namun Adrian terbangun bukan di kamarnya. Sejenak Adrian termenung, kembali mengingat apa yang terjadi semalam. Dia seperti anak kecil, menangis meraung semalaman saat diperlakukan seperti orang asing oleh istrinya sendiri. Adrian beranjak dari pembaringannya, ia keluar dari kamar dari mengarahkan pandangannya kesetiap sudut rumah. Pandangannya belum menemui Ara, yang berarti istrinya itu masih terlelap saat ini. Langsung saja Adrian bergegas menuju dapur, menyiapkan sarapan untuk istrinya pagi ini. Ia tidak ingin membuat Ara merasakan lapar atau sekedar menunggu makanan siap. Tidak cukup

