Tidak Diduga

1131 Kata
Rasa takut langsung melingkupi hatinya, dia takut ketahuan oleh suaminya sendiri. Dia takut jika harus bertatap muka dengan suaminya saat ini. Lebih tepatnya, dia belum sanggup untuk berbicara dengan lelaki yang sudah menyakitinya berkali-kali hanya dalam kurun waktu satu hari. Sebisa mungkin Mer ingin menghindar dari Adi, dia berusaha menutupi wajahnya dengan penutup kepala dari jaket yang pak Dian pinjamkan untuknya. Meira hanya bisa menatap Mer dengan tatapan penuh tanya, dia seperti ingin menanyakan kenapa Mer bertingkah sangat aneh. Namun, niatnya dia urungkan karena Adi terdengar melontarkan pertanyaan kepadanya. "Meira, kok ditanya sama Ayah diem aja?" tanya Adi. Tatapan Meira langsung tertuju pada Adi, sedangkan Mer menggunakan kesempatan tersebut untuk segera pergi menuju kasir. Dia pergi dengan tergesa-gesa karena takut jika Adi menyadari dirinya ada di sana. "Mbak, ini belanjaan saya. Tolong di itung berapa, saya mau keluar sebentar." Sebelum mendengar jawaban dari penjaga swalayan, Mer sudah berlari keluar. Rasanya dia tak sanggup jika harus bertemu dengan Adi, suami yang baru saja menikahinya dan dengan teganya meninggalkan dirinya untuk menemui istri pertamanya. Mer mecari tempat untuk bersembunyi, beruntung di sana masih banyak pepohonan. Cepat-cepat Mer besembunyi di balik pohon sambil menutup mulutnya. Dia sebisa mungkin menahan agar mulutnya tak mengeluarkan suara rintihan, karena air matanya begitu deras mengalir di kedua pipinya. 'Ya Tuhan, kuatkan aku. Berilah aku rasa sabar yang tidak ada batasnya, rasanya sangat sakit Tuhan. Sakit sekali saat melihat suami yang aku sayang terlihat begitu menyayangi wanita lain,' ucapnya dalam hati. Lima belas menit sudah dia menangis di sana, dengan cepat dia menyusut air matanya. Tak mungkin bukan, jika dia harus berlama-lama di sana. Mer memperhatikan sekitarnya, dia mengedarkan pandangannya. Mer celingukan, dia mencari mobil Adi yang ternyata sudah tidak ada di sana. Cepat-cepat dia masuk ke dalam swalayan dan menghampiri wanita yang sedang berdiri di balik meja kasir. Dia berusaha untuk memaksakan senyumnya. "Maaf, Mbak. Sayanya lama, ada perlu dulu soalnya." Mer berucap dengan sesopan mungkin. Wanita itu langsung tersenyum dan tidak banyak bicara, perempuan itu dengan cepat menyerahkan struk belanjaannya kepada Mer. "Ini struktur, Kak," ucapnya sopan. Mer mengambil struk dari tangan pelayan tersebut, setelah melihat nominalnya dia segera membayar semua belanjaannya. "Terima kasih ya, Mbak," ucap Mer. Pelayan tersebut langsung mengangguk, lalu memberikan kantong belanjaan berisi makanan dan minuman yang sudah Mer bayar. Langkah Mer terlihat sangat gontai, dia berusaha bejalan dengan cepat agar bisa cepat sampai ke dalam kostnya. Dia cape, lelah, sakit rasanya hatinya. Jiwanya seakan sangat lelah, dia ingin segera tidur. Rasa lapar yang sedari tadi mendera seakan hilang begitu saja. "Udahan makannya, Neng Mer?" Pertanyaan dari pak Dian menyadarkan Mer dari lamunannya, dia langsung menatap pak Dian lalu tersenyum. Dia merasa konyol karena sampai tidak sadar kalau dirinya kini sudah sampai di depan kostan. "Ngga jadi makan, beli ini aja." Mer mengangkat kantong belanjaan miliknya, seakan dia menunjukkan apa saja yang sudah dia beli. Pak Dian langsung berkerut kening, pasalnya yang dia dengan Mer sangat lapar. Lalu, kenapa pulang hanya membawa makanan dan minuman yang terlihat tak mengenyangkan, pikirnya. "Neng, itu hanya camilan dan minuman. Mana bikin kenyang?" tanya Pak Dian. Dia menjadi khawatir kepada Mer, dia sudah berumur dan dia sedikit bisa menebak kalau Mer sedang bermasalah. "Ada mie cup, nanti aku makan itu aja. Pak Dian punya air panasnya, kan?" tanya Mer. Pak Dian terlihat menghela napasnya, dia jadi merasa menghadapi anak gadisnya yang sulit di ajak bicara dan dinasehati. "Punya, ada di dalem pos dispensernya. Tapi, besok-besok jangan makan mie cup lagi ngga baik buat kesehatan," jawab Pak Dian. "Iya, Pak. Besok aku makan nasi,'' jawab Mer dengan senyum yang dipaksakan. Mer langsung berjalan dan masuk ke dalam pos, dia langsung mengambil satu cup mie dan menyeduhnya dengan air panas. "Lumayanlah makan mie, buat ganjel perut. Besok gue harus nyari makanan yang bene-bener bisa bikin perut kenyang." Mer langsung keluar dari pos dan kembali menghampiri pak Dian. "Udaan, Neg Mer?" tanya Pak Dian. "Udah, Pak. Makasih banyak," kata Mer tulus. "Sama-sama, Neng. Tapi, itu jaketnya mau saya pake. Sekarang udah malem, hawanya tambah dingin," ucap Pak Dian seraya mengusap kedua tangannya. Mer langsung ingat jika sebelum pergi dia memang sempat dipinjamkan jaket oleh pak Dian, bahkan jaketnya amat sangat berguna. Karena dia bisa berlindung dengan jaket itu. Dia langsung membukanya dan memberikan jaket itu kepada pemiliknya. Mer tersenyum hangat lalu berkata. "Makasih banyak ya, Pak. Jaketnya bisa menolong saya dari marabahaya," ucap Mer sambil nyengir kuda. Pak Dian yang tak paham dengan ucapan Mer hanya bisa berkerut kening, ini hanya jaket. Menyelamatkan dari apa, pikirnya. "Hem," jawab Pak Dian seraya menerima jaket miliknya yang diberikan oleh Mer. Setelahnya, Mer langsung melangkahkan kakinya menuju kamar yang sudah dia sewa untuk dua hari. Pak Dian hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dan ucapan Mer. "Dasar bocah, badannya aja gede. Jangkung dan juga terlihat terpelajar, kelakuannya kaya bocah." Pak Dian memakai jaketnya dan berjaga di depan gerbang. Mer yang sudah masuk ke dalam kamar kostnya langsung memakan mie cup'nya, setelah selesai dia langsung minum dan merebahkan tubuh lelahnya. "Semoga esok hari bisa lebih baik,'' ujar Mer. Tidak lama kemudian, Mer tertidur begitu saja. Cape hati, cape badan, cape pikiran dan juga cape bertanya pada hatinya tentang rumah tangga seperti apa yang nantinya akan Mer jalani. Keesokan harinya. Pagi telah menjelang, malam yang terasa sunyi kini terasa sangat ramai dengan suara cuitan burung. Matahari seakan sudah terasa hangat membelai kulit wajahnya Mer. Mer mengerjapkan matanya, matanya langsung memicing kala sinar mentari seakan menyilaukan matanya. Dia harus menyesuaikan pandangannya dengan cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela. "Jam berapa Ini?" Mer meregangkan otot-otot lelahnya, lalu mengambil ponsel dan melihat jam yang tertera di sana. Matanya langsung membulat kala melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. "Ya ampun, gue kesiangan." Mer langsung berlari ke dalam kamar mandi, dia bahkan hampir terjatuh karena langsung bangun tanpa duduk terlebih dahulu. Kemarin dia sudah tak mandi, hari ini dia tak mungkin kalau tidak mandi lagi. Dengan cepat Mer mengguyur tubuhnya dengan air dingin, terasa sangat segar sampai otaknya terasa seperti komputer yang di kala ngeblank terus direfresh. "Segeeer!" ucap Mer setelah mandi dan berganti pakaian. Mer langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar kostnya, dia penasaran dengan suara riuh yang sedari tadi dia dengar. Selain suara burung, ada juga suara-suara lain. "Kenapa begitu ramai?" tanya Mer. Mer mengedarkan pandangannya, ternyata tepat di pinggir kostan ada sekolah TK. Mer yang suka dengan anak-anak langsung mendekati anak-anak yang terlihat sedang menikmati waktu istirahat mereka. Ada yang sedang asik duduk di bangku taman, ada yang sedang asik bermain dan ada juga anak-anak yang sedang menghabiskan uangnya untuk membeli jajanan yang mereka suka. Pandangannya terpaku pada gadis kecil yang semalam dia temui di swalayan, mata Mer langsung membulat sempurna. Ternyata dunia ini sangat sempit pikirnya, sehingga dengan mudahnya dia bisa bertemu dengan orang-orang yang ingin dia temui dan ingin dia ketahui. "Meira!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN