Bersitatap Mata

1219 Kata
"Meira." Mer sangat kaget karena ternyata dia malah bertemu dengan anak dari suaminya, gadis cantik yang terlihat lucu dan menggemaskan. Sayangnya, wajahnya begitu mirip dengan Adi. Lelaki yang sudah memperistrinya, tetapi nyatanya dia sudah beristri. Perlahan Mer melangkahkan kakinya, dia menghampiri Meira yang sedang mengantri untuk membeli siomay. "Hai, Meira." Mer langsung mengusap lembut puncak kepala gadis kecil itu. Meira terlihat mendongakkan kepalanya, lalu memandang Mer dengan intens. Senyumnya langsung terukir indah saat melihat wanita yang semalam membantunya untuk mengambilkan ciki dan minuman yang dia inginkan ada di hadapannya. "Hai, Aunty yang semalam kabur," jawab Meira seraya terkekeh. Mer terlihat berdecak kala Meira menyebutnya kabur. Memang kenyataannya sih dia kabur saat Adi menghampirinya, tetapi hatinya merasa tak senang jika Meira berkata sejujur itu. "Ish! Kamu tuh, Aunty ngga kabur. Aunty kebelet pipis, jadi secepatnya pergi dari sana." Mer beralasan seraya berkacak pinggang, Meira sampai tertawa dibuatnya. Dia tak mungkin bukan jika harus berkata jujur, dia tak mungkin berkata jika dirinya takut jika harus bertemu dengan ayah dari anak yang kini ada di hadapannya. Meira mengangguk-anggukan kepalanya seolah paham, padahal dia tak mengerti sama sekali. Anak itu Saya tidak mau membuat Mer marah. "Oh iya, Sayang. Kamu sedang apa?" tanya Mer. "Pesen siomay, perut aku laper banget. Bunda ngga sempet bikin sarapan, dia bangun kesiangan." Meira berbicara dengan bibirnya yang mengerucut tajam. Mer terkekeh dengan penuturan dari Meira, bukan hanya karena ucapannya tapi juga karena wajahnya yang terlihat sangat menggemaskan. Mer langsung menggendong Meira dan mengecupi pipi gembilnya. Anak itu memang begitu mirip dengan Adi, tetapi dia benar-benar tidak tahan untuk tidak mengecup pipi Meira. "Kamu cantik banget, Aunty suka. Tapi, kamu lebih cantik lagi kalau tersenyum." Mer berkata sambil mencuil dagu Meira. Meira langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Mer, kemudian dia mengecup kening Mer. Hal itu membuat Mer senang sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan. "Abisnya aku kesel Aunty, tiap kali ayah pulang, Bunda seperti ngga ada waktu buat aku. Bunda terlalu sibuk sama ayah," adu Meira lagi. Deg! Jantung Mer seakan ada yang menghantam, sakit rasanya mendengar akan hal itu. Sudah bisa dipastikan, jika dua orang dewasa berbeda jenis kelamin berada dalam satu kamar pasti mereka akan... ah, Mer tak sanggup membayangkannya. "Neng, siomaynya." Kang siomay menyodorkan sepiring siomay pada Meira. "Terima kasih, Kang," jawab Meira. Mer mengambil satu piring berisi siomay tersebut, lalu dia mengajak Meira untuk duduk di bangku yang ada di sana. "Mau makan sendiri atau disuapin?" tanya Mer. Meira memandang Mer sesaat, mereka baru saja berkenalan. Namun, wanita yang ada di hadapannya itu terlihat begitu baik kepada dirinya. Gadis kecil itu tersenyum, lalu dia mengajukan pertanyaan kepada Mer. "Memangnya kalau minta disuapin boleh?" tanya Meira polos. Mer tersenyum, lalu mengelus lembut puncak kepala Meira. Anak itu sangat hati-hati sekali dalam berucap. "Boleh dong, Sayang. Untuk gadis kecil yang cantiknya kebangetan kaya kamu tentu boleh." Mer langsung mencubit gemas hidung Meira, anak itu bukannya merasa kesakitan malah tertawa. Meira langsung membuka mulutnya, dengan cepat Mer menyuapi Meira siomay yang sudah dia pesan. Gadis kecil itu nampak bahagia. "Enak, Aunty. Meira suka disuapin, Aunty sangat baik." Meira menyambut suapan Mer dengan penuh haru, dia bahkan hampir menangis. Dia sangat senang bisa bertemu dengan Mer, menurutnya Mer adalah wanita baik dan juga cantik. Mer sudah seperti Aunty peri baginya. "Lagi," pinta Meira dengan mulutnya yang sudah terbuka lebar. Dengan senang hati Mer menyuapi Merira hingga satu piring siomay sudah tandas karena telah berpindah ke dalam perut kecil Meira, anak kecil itu terlihat kekenyangan. "Anak pandai, siomaynya sudah habis. Mau minum apa?" tanya Mer. "Air putih saja Aunty," jawab Meira. "Oke, tunggu sebentar." Mer mengelus lembut puncak kepala Meira. Mer segera mengembalikan piring pada Kang siomay, kemudian dia membelikan satu botol air mineral untuk Meira. "Ini, Sayang. Minum yang banyak, biar ngga sakit tenggorokan." Mer menyodorkan air minum yang sudah dia buka segelnya. Dengan senang hati Meira menerimanya dan langsung meminumnya, dia sangat suka bertemu dengan Mer. "Aunty sangat baik, terima kasih karena sudah mau menyuapi Meira. Padahal kalau di rumah, bunda tak pernah mau suapin aku," adu Meira dengan mata berkaca-kaca. Mer merasa iba, dia langsung memeluk gadis kecil yang terlihat sangat cantik di matanya itu. Anak lucu yang terlihat menggemaskan tetapi seperti memiliki luka. "Kenapa?" tanya Mer. Dada Mer terasa basah, Mer tahu jika gadis kecil itu tengah menangis. Entah karena apa, Mer tidak tahu. "Bunda bilang aku sudah besar, ngga boleh manja. Tapi, bunda sendiri selalu bersikap manja kalau ayah pulang. Bahkan, aku jarang sekali bisa bermain dengan ayah." Meira menceritakan hal itu seraya terisak. Hati Mer terasa tercubit mendengar aduan dari seorang anak kecil yang mengharapkan perhatian itu, dia sebisa mungkin menghiburnya. "Ngga usah sedih, Sayang. Justru kamu harus buktiin sama bunda, kalau kamu adalah anak yang pandai dan mandiri. Kamu bisa melakukan semuanya sendiri, tanpa bantuan siapa pun." Mer mengangkat kepalan tangannya ke udara, tentu saja hal itu membuat Meira tertawa. "Aunty peri benar," kata Meira. Mer mengernyitkan dahinya saat mendengar panggilan dari Meira, akan tetapi dia tak mempermasalahkannya. Meira hanya anak kecil pikirnya, jadi tak perlu diambil hati. Mer langsung menggendong Meira lalu mngantarkannya sampai masuk ke depan kelasnya, karena memang bel masuk sudah berbunyi. "Belajar yang rajin ya, Sayang." Tanpa sadar Mer tengah menyemangati putri dari istri suaminya, dia bahkan mengangkat kedua kepalan tangannya ke udara. "Yes, Aunty peri." Meira mengecup pipi Mer, lalu berlari masuk ke dalam kelasnya. Mer tersenyum sambil mengusap pipinya, ternyata dikecup pipi oleh Meira terasa lebih menyenangkan dibanding dicium oleh ayahnya Meira. Setelah kepergian gadis kecil bernama Meira, Mer langsung melangkahkan kakinya menuju jajaran pedagang di pinggir jalan. Ternyata kalau suasana di pagi terlihat begitu ramai, banyak pedagang yang mangkal di sana. Mungkin karena adanya sekolah di sana, tak jauh dari sekolah TK ada juga sekolah SD dan SMP. Pantas saja para pedagang begitu ramai, pasti karena menunggu para siswa yang akan menghabiskan uang bekalnya. Tidak lama kemudian, mata Mer tertuju pada gerobak bakso yang ada di sana, air liurnya seakan hendak menetes. Apalagi membayangkan kuah bakso yang terasa pedas. "Kang, baksonya satu ya. Yang pedes, baksonya aja ngga usah pake kuah. Terus kasih cabe yang banyak," pesan Mer. "Siap, Neng Cantik." Kang bakso mengangkat kedua jempolnya. Sambil menunggu pesanannya datang, Mer duduk sambil bermain ponsel. Karena dia merasa jenuh tidak mempunyai teman untuk mengobrol. "Baksonya, Neng." Suara Kang bakso menghentikan aktivitas tangannya. "Terima kasih, Kang," ucap Mer. Dia langsung memakan baksonya dengan lahap, sesekali dia mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Rasa pedasnya terasa pas, Mer merasa sangat menikmatinya. "Berapa, Kang?" tanya Mer setelah melahap habis bakso pesanannya. "Sepuluh ribu, Neng," sahut Kang bakso. "Murah banget," ucap Mer seraya memberikan uangnya. Selesai memakan bakso, Mer duduk dengan santai di pinggir jalan. Keringat yang tadi bercucuran kini mulai mengering, hawanya yang dingin dan anginnya yang berhembus lumayan kencang membuat Mer ingin segera masuk ke dalam kostnya. Dia segera bangun dan langsung melangkahkan kakinya menuju rumah besar dua lantai tempat dia menginap untuk dua hari. Saat Mer hendak masuk ke dalam kostan tersebut, Mer mendengat suara lelaki yang tak asing baginya. Dia mengedarkan pandangannya, lalu dia pun bisa dengan jelas melihat Adi dan istri pertamanya yang baru saja keluar dari dalam mobil. Mer sempat beradu pandang dengan Adi, tetapi dengan cepat dia berlari masuk ke dalam kostnya agar tak bertemu dengan Adi. Adi sempat terpaku melihat Mer yang lari tunggang langgang. "Mer, " ucap Adi lirih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN