9. Please Be Mine?

1067 Kata
Aku tengah menunggu mobil online yang akan mengantarku kembali ke kantor. Satu pesan masuk dari Kak Varo membuatku tersenyum, katanya aku bisa pulang sekarang karena dia dan Zola akan langsung pulang setelah urusan wanita itu selesai. Mobil yang aku pesan secara online sudah berhenti di depanku, aku membuka pintu mobil dan masuk ke kursi belakang. Mataku tanpa sengaja melihat Chiko yang baru saja keluar dari café dengan seorang lelaki yang bisa aku tebak lelaki itu adalah sekretarisnya.  “Jalan pak,” ucapku kepada sopir online itu untuk segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran café. Huhhh aku jadi merasa bersalah dengan Donatan, tapi aku bisa menjanjikan kesetiaanku kok pada Do. Drtttt..drtttt, getaran di ponselku membuat aku dengan segara merogoh isi tasku dan mengambil benda persegi itu dari sana. Ekafi calling ... aku segera menggeser tombol hijau hingga muncul durasi di layar ponselku. "Hallo Nay bisa temenin aku?" tanya Ekafi di seberang sana.  Sepertinya wanita itu berada dalam titik kegabutan yang membuatnya terdengar sangat resah, untung saja Kak Varo sudah mengizinkanku untuk pulang. "Bisa kok," jawabku. "Dateng kesini yaa, ke mall favorit kita dulu," pintanya menyerupai rengekan. "Oke aku akan ke sana," jawabku mendapat sorakan bahagia dari Eka. Aku langsung meminta kepada sopir mobil online yang aku pesan untuk memutar arah menuju mall yang sering aku datangi bersama teman-temanku. Sekitar 20 menitan aku sudah sampai dimall yang menjadi tempatku ketemuan dengan Eka. Setelah membayar ongkos perjalanan, aku segera melangkahkan kakiku mencari tongkrongan yang sudah menjadi langganan kami. Aku melihat Eka yang menunduk memainkan ponselnya, huh kebiasaan. "Heiiii " teriakku mengagetkannya. Dia tergelonjak dan menatapku geram,"Nayyyy! Kebiasaan deh," teriaknya marah. Aku terkekeh dan duduk disampingnya, "Kangen yaaa?" godaku membuatnya mendengus. "Elo mah pede gila! Gue lagi badmood nih," curhatnya membuatku terkekeh. Aku meminum capucinoku yang sudah dipesankan oleh Eka saat aku perjalanan kemari. "Kenapa ?" Tanyaku penasaran. "Tapi lo janji kan enggak akan bocorin ini sama siapapun?" tanya Eka memicingkan matanya kearahku. Aku mengagguk serius dan mengacungkan 2 jariku, "Janji," jawabku yakin. "Gue sebenarnya jadi selingkuhan seseorang, one night stand gue," jelasnya menunduk, mengaduk isi minumannya dengan lemas. Mataku terbelalak kaget, gila ini sungguh gila !!!!! "Apaa ?" Teriakku menatapnya tidak percaya, selingkuhan? Mendengar kata selingkuhan saja membuatku ingin mencakar seseorang. "Hustt jangan teriak-teriak don, " cibirnya sambil menutup mulutku dengan telapak tangannya. Aku memberontak dan melepaskan bekapannya, "gua gak bisa napas sedengg," dengusku. Eka hanya nyengir, "Dengerin nih jangan elo sela dulu, gue kenal dia waktu di club yang ada di Colombia. Saat itu, gue dan bos gue sedang ke sana buat ngecek kondisi club cabang kita, nah dari situ gue kenal dia, kita ML. Lo tau cinta pada pandangan pertama ? Gue ngerasain Nay, gue nangis kalau dia mau pergi ninggalin gue. Akhirnya gue dan dia menetap di Colombia selama dua bulan tapi sebulan lalu gue harus balik ke Bandung lagi karena nyokap gue sakit. Lo harus percaya, gue udah berhenti one night stand setelah ketemu dia," jelasnya dengan suara serak menahan tangis. Eka mengambil tissu dan mengelap hidungnya. Mendengar ceritanya aku hanya menghela napas panjang. "Gue tau dia udah punya kekasih, dia selalu saja mentingin anita itu. Setiap saat pas jalan sama gue dia selalu ngabarin wanita itu,” ucap Eka, menarik napasnya panjang dan menghembuskannya lagi. “Ponselnya selalu dia pasword, gue pernah tanya sama dia apakah dia mencintai gue atau enggak. Tapi dia jawab kita hanya sebatas ini, hanya wanita itu yang selalu menjadi prioritas utamanya.”  Eka mengambil napas dan melanjutkan ceritanya kembali, "Natan, udah seminggu dia nggak ngabarin gue Nay. Dia bilang dia mau nyusul kekasihnya ke negara asal wanita itu," jelas Eka sambil terisak. Aku menarik Eka ke dalam pelukank , entahlah hatiku terasa sakit mendengar penuturannya. Aku mengelus punggung Eka dengan lembut. Sebagaimanapun, Ekafi tetap pihak kedua yang salah, dan aku tidak bisa menyalahkan perasaan Eka kepada lelaki yang dia sebut dengan Natan. "Gue tau apa yang lo rasain Ka, tapi kalau gue boleh saranin lo jangan ganggu hubungan mereka. Jelas-jelas dia nggak bisa nentuin kemana ending hubungan kalian. Dan juga, kata elo dia cinta mati sama kekasihnya. Elo hanya jadi pihak yang tersakiti dan menyakiti wanita lain," ucapku membayangkan jika aku wanita yang menjadi kekasih lelaki itu. * Aku memasuki rumah dan menyerngit saat mendengar suara tawa Valeri memenuhi ruang tamu.  "Itu kakak udah pulang," ucap Valeri membuatku menoleh. Di sana Donatan tersenyum kearahku dan melambaikan tangannya, aku berjalan kearahnya dan duduk di sampingnya. "Udah lama?" Tanyaku kepada Donatan. Dia menggeleng,"Enggak kok baru aja , ini ada Valeri yang nemenin aku di sini," jelasnya dengan senyuman hangat seperti biasa. "Kenapa kemari ?" tanyaku penasaran, sekaligus tidak menyangka Donathan berani datang ke rumahku setelah penolakan yang mommy lakukan secara terang-terangan kepadanya. "Memangnya enggak boleh nih aku main?" Tanyanya dengan nada manja , aku tertawa mendengarnya. "Ya boleh lah Dooo," jawabku sambil mencubit lengannya jengkel. “Kita dinner yuk?” Aku mengangguk antusias, "Sebentar ya aku mau mandi dulu , dan Valeri temani kak Donatan ngobrol ya," pintaku pada Valeria. Kebetulan sekali, Donatan bisa berbahasa Indonesia tidak tahu dari siapa dia mempelajarinya. Valeria mendengus namun akhirnya mengangguk juga. Aku berlari memasuki kamar dan langsung membersihkan diri secepat mungkin. Setelah merasa perfect aku keluar dengan menggunakan dress bermotif bunga yang sangat manis dan cantik.  "Aku sudah siap," ucapku membuat Donatan dan Valeri menoleh. “Kamu sangat cantik," puji Donatan membuatku tersipu malu Valeri dan Donatan hanya tertawa melihat wajahku yang sudah semerah tomat itu. "Adik kecil tolong jaga rumah ya, dan katakan kalau aku pergi sama Donatan jika nanti mereka pulang," kataku sambil mengacak rambut Valeri dengan sayang. Aku berjalan sambil bergelayut manja pada lengan Donatan, dia dengan sangat manis membukakan pintu untukku. 'Laki-laki hebat bukan dia yang mampu membelikan hal besar untuk wanitanya, namun dia yang mampu melakukan hal kecil tapi sangat bernilai bagi wanitanya'. Kami sampai di restaurant yang Donatan pilih untuk makan malam kami. Dia menarik kursi dan mempersilahkanku untuk duduk layaknya aku ini tuan puteri. "Mau pesan apa?" Tanyanya membuka buku menu saat pelayan menghampiri kami. "Terserah," jawabku tersenyum kearahnya. Donatan lalu mengatakan pesannya pada pelayan, tak lama ada pemain biola berdiri di samping meja kami. Alunan biolanya mengalunkan nada lagu dari Christina Perry, A Thousand Years. "Queenayna , maukah kamu meresmikan hubungan ini? Menjadi tunanganku dan lanjut menjadi istriku?" Tanya Donatan membuat mataku membulat sempurna. Aku menatapnya tak percaya, "Please be mine?" pintanya menatapku dengan memohon. “Mommy tidak suka dengannya,” ucapan Sisil yang kembali melintas di pikiranku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN