... Chico Pov ...
Di sinilah aku, terpaksa mewakili daddy yang tiba-tiba sakit untuk membicarakan kerjasama dengan Perusahaan Geovani yang bergerak di bidang percetakan. Aku kenal dengan pemiliknya, dia anak dari uncle Racka dengan istri pertamanya yang tidak salah bernama aunty Kiki.
Aku duduk di cafe yang memang secara khusus aku pesan jika ada rapat di luar perusahaan. Selain tempatnya nyaman, pelayanan di sini sangat menyenangkan. Pelayan mereka begitu sopan dan mengutamakan kepuasan pelanggan mereka.
Ceklek, aku menoleh kearah pintu.
Disana berdiri Varo dan Zola yang seperti permen karet menempel pada bahu Varo. Senyumku mengembang, buka karena melihat Varo maupun Zola, tapi wanita di belakang Varo. Wanita yang sedang menunduk merapikan bajunya.
Aku menyapa Varo dan langsung menggoda Zola, seperti biasa kami pasti akan bertengkar. Meskipun Zola bukan anak kandung aunty Yona tapi entah kenapa sikap mereka yang menjengkelkan itu sama persis seperti ibu dan anak kandung saja. Aku sampai heran sendiri dengan mereka berdua.
"Ah Chiko, kurasa kau sudah kenal dengan adikku Nayna kan?" Ucap Varo menengahi pertengkaranku dan Zola.
Aku tersenyum mendengar nama Nayna disebutkan, aku melirik Nayna yang kini menatapku dengan tatapan terkejutnya ketika matanya bertemu dengan mataku. Hemm sepertinya kita akan bermain-main sedikit.
"Iya lah Ro, aku kenal kok dengan Nay. Kenal banget malah," jawabku sambil terkekeh melihat Nayna yang menunduk tak berani mengangkat wajahnya.
Sepertinya wanita itu terkejut melihatku berada di sini menjadi klien penting Perusahaan Geovani. Mungkin wanita itu malu tentang kelakuannya tempo hari yang duduk di pangkuanku dengan begitu mesranya.
"Chiko bisakah kita mulai sekarang?" Tanya Zola yang sudah merasa kesal.
Aku mengacak rambut Zola hingga dia menatapku tajam,
"Baiklah ayo kita langsung saja mulai pembahasannya," ucapku diangguki mereka.
Aku sengaja duduk dihadapan Nayna, sedari tadi dia hanya memilin roknya. Apakah dia gugup bertemu dengan laki-laki setampan diriku? Ckckck .
Aku menjelaskan semua tentang kerja sama antar perusahaan, dan keuntungan apa saja yang akan kami dapatkan. Aku menyerahkan proposal kepada mereka.
"Ide yang bagus," jawab Varo mengangguk anggukan kepalanya.
"Mana babe aku mau lihat," Zola mengambil dokumen itu dari tangan Varo sehingga membuat Varo menggelengkan kepalanya. Pepet terus Zola, siapa tahu kamu beruntung mendapatkan cintamu.
Aku menyerngit menyadari panggilan babe yang Zola berikan untuk Varo. Kapan mereka jadian? Kenapa Varo tidak pernah bercerita denganku ? Tapi dari sikap Varo masih terlihat biasa saja, dasar Zola wanita agresif!
"Ya ya cukup bagus, ah jangan lupa nanti pestanya bebas alkohol dan juga makanannya harus bergizi." jelas Zola membuat kening kami menatapnya melongo.
Begini kalau kita memperkerjakan seorang dokter menjadi sekretaris pribadi, yang dibahas ujung-ujungnya pasti perihal kesehatan.
Hei ini pesta kerja sama dua perusahaan besar tapi kenapa dia dengan seenak jidatnya mengatur ini dan itu.
"Ini pesta Zola, bukan rumah sakit yang harus memperhatikan makanan pasiennya," ucap Varo aku angguki tanda setuju.
"Ih babe, nanti kan ada anak-anak jadi itu tidak boleh. Kasihan kalau mereka dikasih jamuan yang tidak bergizi," jawabnya membuat kami menghela napas.
Aku menatap Nayna yang sepertinya sedang mencuri pandang kepadaku, aku tersenyum dalam hati.
"Anda Nayna, apakah anda setuju? Bukankah anda bagian dari Geovani Group?" Tanyaku membuatnya gelagapan.
Aku hanya tersenyum puas dalam hati bisa membuatnya merona malu seperti itu.
"Hah? Em..aku .. aku setuju," jawabnya tergagap dan itu menambah kesan lucu dalam dirinya.
Kringgggg ... kringggg.
Suara ponsel Zola berbunyi nyaring, membuatnya dengan cepat mengangkat panggilan tersebut. Wanita itu terlihat mengangguk menjawab panggilan dari si penelpon.
"Babe anterin aku yahh, mommy Yona nyuruh ambil baju di butik aunty Nadia nihh," rengek Zola bergelayut manja di lengan Varo.
"Kamu bisa naik taksi kan?" Tanya Varo dengan suara datarnya.
"Ayolah babe, please?" pinta Zola dengan mengerjapkan matanya kearah Varo.
"Oke tapi please jangan panggil aku seperti itu!" Jawab Varo langsung berjalan meninggalkan ruangan disusul Zola dibelakangnya
"Hei, kakak!" Panggil Nayna namun tidak dihiraukan mereka sam sekali.
... Author Pov ...
Nayna melongo saat kakaknya meninggalkan dia sendirian dengan Chiko di dalam ruanhan itu. Menurutnya ini memasuki zona bahaya yang harus segera dia akhiri.
"Ekhm, bagaimana kabar bayi kita?" Tanya Chiko dengan wajah menahan tawa.
Nayna hanya mendengus mendengar pertanyaan dari Chiko. Bukankah dia tau jika kemarin hanya bercanda???
"Maaf aku harus kembali ke perusahaan," pamit Nayna dengan sopan.
Namun baru tiga langkah Chiko menarik tangan Nayna hingga Nayna jatuh terduduk di pangkuan lelaki itu.
Chiko menengang saat merasakan p****t Nay duduk diatas pangkuannya. Jantungnya berdetak dengan kencang bagaimanapun dia laki-laki normal.
Nayna terbelalak, dia sama sekali tidak menyangka Chiko akan menariknya hingha posisi mereka sedekat ini.
Diendusnya harum floral rambut Nayna hingga bulukuduk Nayna meremang.
'Gila posisi ini sangat berbahaya!' umpat Nayna dalam hatinya meringis.
Dia mencoba melepaskan tangan Chiko dalam pinggangnya, namun Chiko semakin erat melingkarkan tangannya di pinggang Nayna.
"Maaf tuan kiko-kiko, tolong singkirkan tangan anda," ucap Nay melotot garang kepada Chiko.
Chiko terkekeh dengan panggilan sayang dari Nayna, gadis kecilnya dulu yang selalu marah-marah jika ia akan mengganggunya. Sampai sekarang kegalakannya tidak pernah berubah, bahkan semakin bertambah.
"Lepas atau aku teriak?" Ancam Nay tak digubris oleh Chiko.
"Oke , satu.. dua.. tiga. Aaa..," teriak Nayna membuat Chiko langsung melumat bibir Nayna hingga Nayna membelalakkan matanya kaget.
Chiko semakin memperdalam ciumannya, saat Nayna mencoba berteriak dia gunakan untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut wanita itu. Rasa manis dan lembutnya bibir Nayna membuat Chiko semakin b*******h.
Mereka melepaskan pagutan bibirnya, napas mereka saling terengah-engah,
"Kau.. kau menciumku se enak jidatmu. Dasar laki-laki kurang belaian!" Sentak Nayna meninggalkan Chico yang tersenyum penuh arti.
Nayna menghentakkan kakinya kesal, berani-beraninya Chiko menciumnya tanpa permisi seperti itu. Bahkan Donatan yang berstatus sebagai kekasihnya tidak pernah memperlakukan Nayna seperti itu.
"Lelaki itu sudah mencuri ciuman dariku, lihat saja aku akan melaporkannya kepada polisi," ucap Nayna dengan matanya berkilat marah.
Wanita itu menggeram, sudah ditinggal Varo dan Zola hingga mengalami insiden pencurian ciuman. Kini Nayna harus kembali ke kantor dengan mobil online.
"Benar-benar hari yang mengesalkan," umpatnya menahan emosi.