... Nayna Pov ...
Aku berjalan kearah meja makan, kulihat seluruh keluargaku sudah sibuk dengan sarapan yang ada di depan mereka. Aku menarik kursinya dengan kasar, berharap mereka menoleh kearahku.
"Morning semuanyaa," sapaku mengedarkan mataku kearah semua orang.
"Morning kak," jawab Zio dan Valeri dengan kompak.
Valeria, pasti semalam dia lupa memberitahu daddy dan mommy kalau aku keluar dengan Donatan. Dasar gadis itu suka sekali melupakan sesuatu hal yang penting. Alhasil, daddy dan mommy kini mengacuhkan diriku yang cuantik ini.
"Morning darling," jawab Appa dan Amma serempak. Oke, appa dan amma memang yang terbaik, aku mencintai beliau.
Aku melirik daddy, mommy, ayah dan bunda, mereka tidak menghiraukan aku sedikitpun. Mereka pikir aku hanya patung di sini? Patung secantik diriku? Dimana biar aku membelinya untuk pajangan di rumah saat aku pergi berkencan bersama Donatan, ckck.
"Mom please tumis taogenya lagi," pinta Valeri mengajukan piringnya pada mom.
Mom tersenyum dan mengangguk, mommy menuangkan tumis taoge pada Valeri. Hemmm kayaknya enak tuh ,
"Mom aku juga," kataku dengan mata berbinar.
Mom tidak menghiraukan aku, mom malah kembali duduk dan memberikan telur mata sapi pada Zio.
Aku hanya menghembuskan napas kasar, mereka sepertinya marah kepadaku. Kekanakan sekali mereka ini, kenapa malah kompak mendiamkanku seperti ini.
“Kemari biar amma ambilkan untukmu,” ucap amma tersenyum kearahku.
"Tidak usah amma, Nay sarapan di kantor saja." pamitku pergi meninggalkan mereka.
Aku sebellllll, sebellll, sebell . Di sana aku seperti tidak dianggap, memangnya aku bukan anak mereka? Lihat saja mereka bahkan tidak ada yang mencegahku atau memanggilku untuk sarapan bersama mereka. Memangnya apa salahnya makan malam dengan Donatan? Toh aku tidak menyalahi norma-norma yang aku junjung sejak kecil. Kami hanya makan malam, hanya itu saja lalu pulang.
Aku menghentakkan kakiku kesal menuju mobilku di parkirkan. Sial, kunci mobil masih di kamar lagi. Malu dong kalau aku balik lagi kesana.
Haruskah aku kembali ke dalam sana? Sialan, seharusnya aku bangun lebih pagi dan memilih berangkat ke kantor bersama Kak Varo. Sayang sekali aku telat bangun untuk hari ini.
Aku merogoh ponselku dari saku rok formal yang kini aku kenakan. Aku mulai melakukan pemesanan mobil online lewat aplikasi. Tidak lama kemudian mobil online yang aku pesan sudah sampai di depan gerbang utama rumah keluargaku.
"Perusahaan Geovani pak!" Ucapku pada sang sopir taksi.
Mobil yang aku tumpangi telah melaju, aku memilih memainkan ponselku untuk mengisi keheningan yang ada di dalam mobil. Memangnya apa yang bisa aku bicarakan dengan sang sopir ojek mobil online, aku juga tidak mengenalnya.
Drtt, getaran pesan dari ponselku membuatku mengexit dari game pou yang tadi aku mainkan. Satu pesan masuk dari Diana membuatku segera membuka pesannya.
-Nayna nanti siang mau kan nemenin aku cari kado buat pacarku?- Diana
Aku mengetik balasan untuknya,
-Okree nanti aku temenin, tapi pas makan siang saja ya Di. Aku ada banyak pekerjaan hari ini.-
Send ...
"Mbak sudah sampai," ucap sopir taksi membuatku mendongak menatap keseliling.
Tidak terasa aku sudah sampai di depan gedung pencakar langit itu. Mataku terbelalak begitu menyadari aku tidak membawa tasku.
Aku meraba di sekitar tempat dudukku, loh dimana nih tasku ?? Huwaaaa aku lupa juga bawa tas beserta dompetnya. Mati kamu Nayna, untuk pertama kalinya kamu akan dicap tidak punya uang oleh orang lain.
Aku menengok ke kanan dan ke kiriku. Aku seperti tidak asing dengan mobil mewah berwarna hitam metalik yang baru saja tiba di parkiran mobil Perusahaan Geovani.
Hei bukankah itu Machiko? Aku bersorak dalam hati, untunglah kita bertemu di saat yang tepat dan juga waktu yang kebetulan. “Kali ini aku akan mengatakan bersyukur bisa bertemu denganmu,” gumamku tersenyum kearah lelaki itu.
"Chikoooo??” teriakku memanggil Chiko yang baru keluar dari mobilnya.
Dia menyerngit melihatku, aku melambaikan tangan kearahnya dengan sangat antusias. Dia menatapku lekat, aku segera memanggilnya untuk mendekat, "Kemari," teriakku lagi.
Dia mengangguk dan berjalan kearahku, aku turun dari taksi dan langsung menariknya menjauh dari taksi.
... Author Pov ...
"Eh neng bayar dulu dong jangan main pergi saja," ucap sopir taksi sedikit berteriak membuat Nayna menahan malu.
Sialan, ini pertama kalinya Nayna harus malu perihal uang.
"Iya sebentarr," teriak Nayna tanpa melepas pegangan tangannya dari Chiko, membuat siempunya menahan gejolak dalam dadanya.
Nayna menoleh kepada Chico yang saat ini menaikkan satu alisnya,
"Eh kiko, aku mau minta tolong. Mau ya nolongin aku? Mau lah," ucap Nayna membuat Chiko menyerngitkan kening, sepertinya baru tadi Nayna menyebut namanya tanpa selenco sekarang sudah menjadi Kiko lagi, hadehh ..
Nayna berdeham dan melanjutkan ucapannya,
"Pinjemin duit seratus ribu dong, bayar taksi nih nggak bawa dompet ," ucap Nayna membuat Chiko melebarkan matanya.
Nayna meminjam uang kepada dirinya? Bolehkah Chiko mengabadikan moment ini untuk dia simpan dalam memori kenangan? Machiko terkekeh menatap Nayna tidak percaya.
"Pinjem duit? Kamu serius?? Bwahahahaha,” bahaknya membuat Nayna mendengus sebal.
Tanpa peringatan apapun Nayna langsung mengambil dompet Chiko yang berada di saku belakang celana kerjanya. Mata Machiko melebar melihat dompetnya kini sudah berada di tangan wanita itu. Tanpa menunggu persetujuannya, Nayna membuka dompet milik Chiko dan mengambil uang satu lembar seratus ribu dari sana.
"Nay, kok kamu bisa ambil dompetku?" tanya Chiko heran saat melihat Nayna sudah mengambil dompetnya dan berjalan kearah sopir taksi yang sedari tadi menunggu.
Wanita itu mengembalikan dompetnya,
"Nih aku utang seratus ribu, nanti kalau sampai atas aku ganti. Mau di ikhlasin juga nggak apa-apa sih, malah seneng akunya kok," ucap Nay melenggang pergi meninggalkan Chiko yang masih ternganga akan aksi Nayna tadi.
'Mungkin dia punya keahlian menjadi copet,' batin Chiko terkekeh geli.
"Iya kan dia ahli mencopet hatiku," ucapnya terkikik sambil menatap punggung Nayna yang mulai menjauh.