-Nayna POV-
Aku tersenyum kepada staff karyawan dan karyawati yang menyapaku, tak butuh waktu lama yang namanya gosip akan selalu cepat menyebar layaknya api yang ditiup angin. Mereka sudah taHu bahwa aku adalah salah satu putri dari kerajaan bisnis Corlyn Company, dan itu berarti aku sepupu dari pemilik Perusahaan Geovani ini.
Setelah mereka mendengar tengang identitasku, tidak ada lagi yang bergosip ataupun mengatakan kalau aku dan Kak Varo memiliki hubungan khusus, maksudnya berpacaran.
Ck, lucu sekali mereka. Mana ada kakak adik berpacaran? Meskipun Kak Varo bukan anak kandung Bunda Viona, tapi tetap saja Kak Varo adalah sepupuku kan? Rasanya tidak layak jika sepupu saling mencintai.
Aku melewati meja Zola yang berada di depan ruangan Kak Varo. Suara tangisan membuatku menghentikan langkah dan berjalan kearah mejanya. Wanita itu seperti sedang menunduk dengan bahunya yang terlihat bergetar.
Apakah Zola tengah menangis? Apa yang membuatnya menangis sepagi ini?
"Zola, kamu kenapa?" Tanyaku khawatir, aku memegang bahunya yang memang bergetar.
Suara isakan akhirnya lolos dari mulutnya yang terbungkam. Wanita itu mengadahkan wajahnya dan menatapku dengan sorot mata terluka.
Astagaaa, itu mata kenapa mata?? Haaah dia seperti setan di pagi hari, bayangkan saja hidungnya merah, matanya sembab dan rambutnya acak-acakan. Ini tidak terlihat seperti Zola yang biasanya aku kenal.
Zola menatapku sendu, "Huwaaa Kak Nayyy, Kak Varo nolak Zolaaa," jeritnya sambil menangis sesegukan.
Aku mengerutkan kening, nolak ? Jangan-jangan Zola nembak Kak Varo? Oh em jiiiiiii mimpi apa nih Aunty Kalea ngelahirin anak seperti Zola.
Benar kata orang, dari pada mirip ibu kandungnya. Zola sepertinya lebih mirip dengan Aunty Yona. Meskipun Aunty Yona hanya sebagai ibu angkat, tapi mereka berdua begitu mirip. Mungkinkah mereka ibu dan anak kandung yang tertukar?
"Kamu nembak Kak Varo? Serius?" Tanyaku penasaran.
Dia mengangguk dan menangis semakin kencang. Mataku terbelalak, tidak menyangka Zola akan seagresif itu menjadi wanita.
What to the hell guyss, dia mengutarakan cintanya dengan lelaki yang dia cintai. Sayangnya, lelaki itu pria kulkas yang bahkan tidak mengerti apa itu cinta.
"Hah ???Kok bisa sih, bagaimana ceritanya?" jawabku menatapnya tak percaya.
Zola terisak, "Hiks..tadi malem aku nelpon dia. Aku bilang I love You tapi dia malah nutup telponnya tanpa membalas ucapanku, huwaaa...."
Aku menggelengkan kepalaku, pusing-pusing deh. Aku kira Zola mengutarakan perasaannya secara langsung dan ditolak oleh Kak Varo. Kalau Kak Varo berani menolak Zola, lelaki itu akan berhadapan denganku. Lelaki seharusnya bisa menjaga perasaan wanita, apalagi wanita itu sudah terang-terangan menunjukkan rasa sukanya kepada Kak Varo.
"Aku masuk ke ruanganku dulu deh, ada kerjaan yang menumpuk nih," pamitku meninggalkannya.
Lagi pula, semakin lama bersama dengan Zola aku malah semakin pusing. Pasti pembahasan wanita itu hanya satu, Devaro Geovani Saputra.
Aku mendudukkan pantatku di kursi kerjaku. Aku menghela napas panjang dan segera menekan nomer ponsel kak Varo di telepon kantor.
Tuttttt....tutttt..tutttt..tuttt.
"Hallo Nay? Kenapa?" tanya kak Varo di seberang sana.
"Kak Varo harus segera kembali ke kantor sekarang juga. Disini siaga satu kak. Zola menangis karena kakak," aduku pada kak Varo.
Terdengar suara helaan napas dari sana,
"Ckckck apalagi yang dilakukan wanita itu? Kakak dalam perjalanan menuju kantor ini. Kamu lanjutin aja pekerjaanmu, jangan hiraukan dia," titah Kak Varo.
"Oke, nggak pakai lama ya kak," Ucapku menutup telpon.
Brukkk..brukk..brakkk.
"Huwaaaa Kak Chiko jahat," pekikan Zola membuatku berlari keluar ruanganku.
Mataku terbelalak melihat kondisi di depanku.
Ya ampunnnn lihatlah apa yang dilakukan Zola kali ini. Dia menimpuki Kiko dengan high heelsnya hingga si Kiko itu meringis kesakitan.
Aku segera berlari menuju mereka berdua, memisah Zola yang seakan-akan melampiaskan kemarahannya kepada Kiko.
"STOOPPPPPPPPP!" teriakku frustasi.
Mereka menatapku,nZola menatapku dengan mata sembabnya l, sedangkan Kiko menatapku dengan tatapan minta tolong.
Aku memicingkan mataku, kenapa mereka tidak sadar umur hah?
"Kalian berdua sangat kekanakan, untung saja lantai ini kedap suara dan hanya ada kita bertiga," cibirku menatap garang mereka.
Tiba-tiba saja sebuah suara membuat kami semua menoleh.
"Apa yang terjadi ?" Tanya kak Varo yang baru keluar dari lift.
Kak Varo memicingkan matanya, melihat Chiko yang kini meringis kesakitan karena mendapatkan luka di beberapa bagian tangan dan wajahnya karena timpukan high heels milik Zola.
Zola menunduk menyembunyikan wajahnya,
"Ikut aku, Nayna tolong obati luka Chiko," ucap kak Varo menarik tangan Zola menuju ruangannya.
Aku mendengus mendengar perintah Kak Varo, kulihat Kiko sedang tersenyum kemenangan kearahku.
Hei apa dia sengaja memancing kemarahan Zola agar mendapatkan simpatiku?
Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri. Lalu aku memapahnya hingga sampai di ruanganku. Sepertinya lelaki itu bisa berjalan sendiri tanpa bantuanku, hanya saja sebagai tuan rumah aku harus bersikap ramah tamah bukan?
"Sebentar, duduk di sini dulu. Aku akan menelpon staff untik mengambilkan es batu untuk lukamu," ucapku dianggukinya.
Tak lama salah satu OB datang membawakan semangkuk es batu dengan kain bersih yang akan kugunakan untuk mengompres luka goresan ringan pada wajah Kiko.
Ah kasihan sekali, wajah tampan yang tadinya mulus sekarang terdapat luka di sana. Aku berharapa luka itu tidak meninggalkan bekas yang cukup dalam.
"Hsssttt , pelan..pelan Queen," lirihnya menahan sakit.
"Ini udah pelan kali, jadi cowok gini aja sakit," cibirku mendengus.
Tanpa sengaja aku menekan keras luka itu sampai membuat Kiko refleks menarikku hingga aku tersungkur di atasnya.
"Kamu sengaja ya Queen biar kita kayak gini?" Tanya Kiko sambil menggulingkan tubuhku menjadi di bawahnya.
Aku membelalakkan mataku, wah tanda bahaya nih.
Dia mendekatkan wajahnya padaku ,
Deg deg degg, aku bisa mendengar detakan jantungnya yang berpacu sangat cepat.
Begitu pula jantungku, kini jantungku berdetak tidak kalah cepat dari milik Chiko. Ini melebihi gugupnya aku menghadapi daddy semalam yang marah karena aku makan malam dengan Donatan.
Donatan! Mataku mengerjap,
Nama itu membuatku sadar, dengan cepat aku menendang tulang kering Chiko dan langsung bangkit dari posisiku.
"Awww, gila. Remuk banget gue, belum ada satu jam udah dua wanita nganiaya gue," gumamnya yang masih bisa kudengar.
Machiko meringis, "Apa semua wanita hobby menganiaya para lelaki? Kejam sekali," keluhnya kesakitan membuatku mau tidak mau terkekeh mendengar ringisannya.