Malam semakin larut. Dirga baru saja kembali ke rumah sekitar hampir tengah malam. Pria itu berjalan menuju ke lantai atas sembari menenteng jas di tangannya.
Sebelah tangannya ia gunakan untuk memijit pangkal hidung, untuk meredakan pusing yang ia rasakan.
Sampai saat pria itu hendak melewati kamar Luna, seketika langkahnya terhenti. Untuk sesaat, Dirga hanya diam menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Namun, setelah berpikir beberapa waktu, akhirnya Dirga memutuskan untuk mengecek kondisi Luna terlebih dahulu.
Ketika pintu dibuka, terlihat sosok Luna yang terbaring di tempat tidur. Dirga melangkah mendekatinya, guna melihat gadis itu dari jarak yang lebih dekat.
Tangan pria itu terulur. Merapikan helaian rambut Luna yang menutupi sebagian wajahnya.
Wajah itu kini dapat terlihat sepenuhnya. Tampak begitu tenang dan juga ... cantik.
"Eungh...." Lenguhan kecil keluar dari mulut mungil Luna.
Perlahan, gadis itu mulai membuka kelopak matanya. Samar-samar ia melihat siluet seorang pria di hadapannya.
Luna terkejut, hingga ia terbangun dan segera merubah posisinya. Dari yang semula terbaring, menjadi duduk bersandar.
"Om? Om ngapain di sini?" tanya Luna sedikit gugup.
Dirga menghela napas sejenak, kemudian menaikkan selimut yang menutupi sebagian tubuh Luna.
"Udara di luar semakin dingin. Kenapa tidak menutup jendela?" Dirga justru memutar balik pertanyaan untuk gadis tersebut.
"Itu ...." Luna menjeda sejenak kalimatnya. Sebelum melanjutkannya kembali. "AC di kamar ini tiba-tiba rusak. Jadi, aku sengaja buka jendela biar udara dari luar bisa masuk."
Netra Dirga melirik ke arah AC. Lantas mengangguk paham.
"Besok aku akan carikan tukang AC untuk memperbaikinya. Kau tidurlah di kamarku," tutur Dirga.
"Apa? Di kamarmu? Lalu kau sendiri akan tidur di mana?"
"Aku bisa tidur di manapun. Atau di kamar ini menggantikanmu," jawab pria itu cukup santai.
"Hah? Gimana bisa? Kalau nanti kau sakit bagaimana?" tanya Luna lagi. Kali ini gadis itu tampak sedikit khawatir bercampur tidak enak hati.
Ide jahil langsung terlintas begitu saja di kepala Dirga. Pria itu membungkuk. "Kenapa? Kau khawatir? Mau tidur bersama?"
Seketika wajah Luna memerah, karena merasa malu. Mendorong d**a Dirga supaya pria itu menjauh darinya.
"Ck. Gak gitu. Rumahmu ini kan luas. Aku bisa, kok, tidur di kamar yang lain nanti," jelas Luna sebelum menambah kesalah pahaman di pikiran Dirga.
"Semua kamar masih belum dirapikan. Masih sangat berantakan dan tidak bisa ditempati," ujar Dirga.
Luna terdiam seolah sedang berpikir. Mencari solusi yang pas untuk mereka berdua.
"Kalau kau tidak keberatan, mungkin kita bisa berbagi ranjang. Tenang saja, aku tidak akan memakanmu," lontar Dirga seakan tahu isi pikiran Luna.
"Gak papa aku tidur di sini aja. Om Dirga balik aja ke kamar."
"Dasar kerasa kepala."
Kesabaran Dirga sudah di ambang batas. Pria itu langsung menggendong tubuh Luna dan membawanya menuju ke kamar pria tersebut.
"Eh, turunkan aku. Aku mau di bawa ke mana?"
"Diamlah, Luna. Jika kau bergerak terus, nanti kau akan jatuh."
"Aku bisa jalan sendiri."
Dirga tak menanggapi. Ia membawa Luna memasuki kamarnya. Kemudian menurunkan kembali gadis itu di tempat tidur miliknya.
Luna menatap ke sekeliling kamar Dirga. Ruangan bernuansa abu-abu yang tampak lebih remang. Sesuai dengan karakter sang pemilik kamar tersebut.
Gadis itu membenarkan piyama tidurnya yang agak berantakan. Menatap kesal ke arah Dirga.
Sedangkan pria itu tetap terlihat tenang. Meletakkan jas dan dasinya di sofa. Melepaskan atribut yang masih menempel di tubuhnya satu per satu. Hingga menyisakan celana panjang yang ia kenakan.
Luna memperhatikan dari kejauhan. Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah, saat melihat tubuh kekar sang paman.
Punggung yang tampak lebar dipadukan dengan pinggang yang ramping. Otot-otot lengan yang tampak begitu kekar.
Melihat pemandangan tersebut membuat Luna mulai berkhayal. Seolah sedang membayangkan tokoh yang ia baca di buku novel, benar-benar menjadi nyata.
Akan tetapi, kali ini dengan versi yang lebih real. Hingga membuatnya terpaku di tempat.
Lamunan Luna seketika buyar, saat Dirga tiba-tiba saja berbalik badan. Menghadap ke arah Luna. Sang empunya sontak segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Aku mandi dulu. Kau cepatlah tidur," ucap Dirga.
"Hah? Oh, o-oke," sahut Luna sedikit gugup.
Dirga berlalu pergi. Masuk ke kamar mandi. Tak berselang lama, Luna dapat mendengarkan suara gemercik air dari dalam sana.
Lama menunggu, akhirnya Dirga selesai dengan ritual mandinya. Pria itu keluar dengan hanya mengenakan handuk yang dililit sebatas pinggang. Serta rambut yang masih basah dan sedang ia keringkan menggunakan handuk kecil.
Sedangkan Luna yang melihat sang empunya keluar dari kamar mandi pun segera berpura-pura untuk tidur. Sengaja mengambil posisi membelakangi Dirga, supaya pria itu tidak bisa melihat wajahnya yang merah padam, karena malu bercampur gugup.
"Kau sudah tidur?" tanya Dirga. Memastikan apakah gadis itu sudah tidur atau belum.
Tidak ada jawaban dari Luna. Menandakan bahwa sang empunya memang benar-benar sudah tidur. Meskipun sebenarnya hanya pura-pura saja.
Selesai berganti pakaian dengan menggunakan piyama, Dirga segera menyusul untuk berbaring di tempat tidur. Persis di samping tubuh Luna.
Perlahan Dirga semakin mendekat. Bahkan pria itu berani memeluk tubuh Luna dengan erat. Membuat gadis tersebut berusaha mati-matian untuk tidak berteriak saat itu juga.
Dari sana Luna dapat merasakan hangatnya embusan napas Dirga yang terasa menyapu tengkuknya. Gadis itu mencoba menggeliat kecil. Namun, hal tersebut justru membuat Dirga malah semakin mempererat dekapannya.
"Satu minggu lagi kau akan berulang tahun untuk yang ke sembilan belas, Luna. Aku harap aku masih bisa menahan diriku darimu," bisik Dirga pelan. Di dekat telinga Luna.
Luna mengernyitkan dahinya bingung.
Menahan diri? Dariku? Maksudnya? batin Luna.
Embusan napas Dirga terasa mulai normal. Menandakan pria itu sudah tertidur lelap.
Berbeda halnya dengan Luna. Gadis itu justru semakin kesulitan untuk menutup kedua matanya. Pertama kali dalam hidupnya, ia tidur bersama seorang pria.
Apa lagi, pria itu bukanlah orang asing. Melainkan adik tiri dari mendiang ibunya sendiri.
Meski begitu, hal tersebut tetap terasa sangat aneh. Sebab, walau bagaimanapun mereka berdua bukanlah saudara kandung yang sedarah.
Waktu terus berjalan hingga menjelang pagi. Suara kicauan burung mulai terdengar nyaring, saling bersahutan.
Sinar matahari pagi, menelisik masuk melalui jendela. Membangunkan seorang gadis yang entah sejak kapan mulai tertidur semalam.
"Eungh ...."
Lenguhan panjang keluar dari mulut gadis tersebut.
Setelah menggeliat kecil, ia mulai membuka kelopak matanya. Mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan dengan cahaya sekitar yang baru saja masuk ke matanya.
Ia menoleh ke samping. Di mana sebelumnya terdapat seorang pria yang menemaninya tidur. Namun saat dirinya membuka mata, sosok pria tersebut sudah tak berada di sana. Luna hanya sendirian di kamar itu.
Netranya bergerak mengamati area sekitar. Sepertinya Dirga sudah bangun dan pergi lebih dulu.
"Ada apa dengan dia semalam? Tingkahnya aneh banget," gumam Luna sembari mengubah posisinya menjadi duduk.
Sesekali menyibakkan helaian rambutnya yang menjulur ke depan wajah gadis itu.
Ponselnya berdering beberapa kali. Pertanda ada pesan yang baru saja masuk ke benda persegi tersebut.
Namun, Luna sempat merasa heran. Sebab, seingatnya semalam ia tak membawa ponselnya ke sini.
Gadis itu meraih benda pipih itu, lalu membukanya. Ada beberapa pesan masuk dari Dirga untuknya.
Kau sudah bangun?
Mandilah dan bersiap-siap.
Niko akan mengantarmu ke salah satu boutique di sekitar sana. Belilah beberapa gaun untukmu. Nanti malam akan ku jemput untuk menghadiri sebuah pesta jamuan. Kau harus datang bersamaku.
Jangan lupa untuk berdandan yang cantik.
Begitulah kiranya serangkaian pesan text yang dikirimkan oleh Dirga.
Mau tidak mau Luna hanya bisa menurut. Ia segera bangkit berdiri dan menuju ke kamar mandi, setelah menyimpan kembali ponsel miliknya di atas nakas.
Selesai mandi dan berganti pakaian, gadis itu turun menuju meja makan untuk sarapan pagi. Hari ini ia mengambil cuti kuliah. Dirinya merasa sedikit tidak enak badan.
"Bi," sapa Luna kepada salah satu pembantu di sana.
"Iya, Non. Ada apa?"
"Om Dirga pergi ke mana?"
Wanita berseragam khusus untuk para pembantu yang bekerja di rumah itu pun tampak berpikir.
"Setau bibi, sih, katanya Tuan Dirga hari ini mau dinas ke luar kota, Non," jawab wanita itu seadanya.
"Bibi tau, enggak, dia berangkatnya jam berapa tadi?"
"Pagi buta tadi, Non. Diantar sopir."
Luna mengangguk-angguk kecil, tanda mengerti. "Oke, Bi. Makasih, ya, infonya."
"Sama-sama, Non," balas wanita tersebut sembari tersenyum, lantas berlalu pergi menuju ke dapur.
"Aneh. Hari ini ke luar kota, tapi nanti malam masih sempat mau keluar lagi. Emang dia gak capek apa?" gumam Luna lirih.
Gadis itu tak ingin banyak berpikir dan mulai menyantap sarapannya.