Dirga menuntun Luna menuju ke mobilnya. Diikuti oleh Niko yang langsung masuk ke kursi kemudi.
Pria itu membukakan pintu mobil, agar Luna bisa segera masuk ke mobilnya.
"Masuk!" perintah Dirga.
Luna menghela napas panjang. "Maaf, Om. Tapi aku udah ada janji buat ke perpustakaan kota sama Adel. Jadi mungkin aku nanti pulangnya bakalan agak telat."
Baru saja memberi alasan, Dirga langsung mendorong tubuh Luna dan memaksanya agar masuk ke mobilnya. Walau sang empunya menolak.
"Om, aku gak mau."
"Masuk, Luna."
"Enggak! Aku masih ada urusan sama Adel, Om."
Tak ingin terus berdebat, akhirnya Dirga terus mendorong tubuh Luna. Sampai akhirnya gadis itu berhasil masuk ke mobil.
Disusul dengan dirinya yang segera duduk di samping gadis itu.
Namun, Luna tak mau menyerah. Ketika gadis itu hendak membuka pintu mobil sebelah kiri, Niko bergerak cepat mengunci semua pintu. Sehingga tak ada yang bisa keluar dari mobil tersebut.
Sungguh perlakuan yang memuakkan. Luna merasa dirinya sedang diculik sekarang.
"Jalan!" perintah Dirga.
Niko mengangguk patuh. "Siap, Tuan."
Berbeda dengan kedua pria itu, Luna setia memasang muka masam sembari menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Bersandar pada sandaran kursi, kemudian memilih untuk menutup kelopak matanya.
"Sejak kapan kalian berdua dekat?" tanya Dirga.
Niko reflek melirik melalui kaca spion tengah. Melihat ekspresi Dirga dan itu membuatnya tersenyum kecil.
Luna mengernyitkan dahi. Dirinya melirik sekilas ke arah pria di sampingnya.
"Siapa?" Luna balik bertanya, karena tidak mengerti dengan arah pertanyaan Dirga barusan.
"Jangan pura-pura tidak tau, Luna. Jelas kau tau siapa yang ku maksud," balas Dirga. Malas menyebutkan nama Bimo menggunakan mulutnya.
"Aku beneran gak ngerti, siapa yang Om Dirga maksud," elak Luna.
Kini Dirga balas menatap ke arah Luna. Menunjukkan ekpresinya yang seolah sedang kesal. "Laki-laki tadi. Dia terlihat akrab denganmu. Kalian pacaran?"
Di sisi lain, ada Niko yang berusaha keras untuk tidak tertawa mendengar pertanyaan dari bosnya tersebut. Kelihatannya kali ini bosnya sudah terperangkap oleh pesona seorang gadis.
Luna semakin keheranan mendengar pertanyaan yang Dirga lontarkan barusan. "Hah? Pacar?"
"Luna, dengar. Jauhi laki-laki itu. Dia bukan orang baik untuk kau dekati," tegas Dirga memberi peringatan.
"Apa, sih? Gak jelas banget!"
"Terserah kau mau berpikir bagaimana. Tapi yang jelas, jangan dekat-dekat lagi dengan dia."
"Alasannya?" tanya Luna masih tidak paham dengan pernyataan konyol pamannya tersebut.
"Karena—" Dirga tidak bisa melanjutkan perkataannya. Khawatir jika dirinya justru akan membuat Luna ketakutan. "Pokoknya kalian tidak boleh terlalu dekat."
"Om, denger, ya. Aku mau berteman sama siapapun itu hak aku. Dan yang perlu Om tau, Bimo itu cowok baik-baik, kok. Aku lebih kenal dia daripada Om Dirga. Jadi—"
Tanpa diduga dan tanpa aba-aba, Dirga langsung memajukan tubuhnya dan mencium bibir Luna. Hingga membuat gadis itu terkejut setengah mati.
Begitu pula dengan Niko yang sedang menyetir di kursi depan. Sontak dirinya berpura-pura tidak melihat apapun yang sedang kedua sejoli itu lakukan di kursi belakang.
"Mmppp!" Luna berusaha keras mendorong tubuh Dirga. Namun, pria itu justru semakin memperdalam ciumannya.
Tak berhenti sampai di sana, Dirga bahkan mulai menyerang leher Luna dengan ciuman ganasnya.
"Lepas! Lepasin aku, Om!" pekik Luna. Berusaha keras menghentikan aksi Dirga.
Sampai akhirnya pria itu menyudahi aksinya sendiri. Napas mereka berdua saling beradu. Bak baru saja mengikuti lomba lari.
"Om ngapain, sih?!" seru Luna, memberi tatapan marah bercampur kesal atas perlakuan Dirga barusan.
"Menghukummu. Jadi gadis yang patuh dan jangan protes," sahut Dirga.
Luna merapikan kembali penampilannya. Kemudian membuang muka, tak ingin melihat ke arah Dirga di sampingnya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah Dirga. Pria itu segera keluar dari mobilnya, disusul dengan Luna.
"Masuk," pinta Dirga.
Kali ini, Luna langsung menurut. Takut jika kejadian beberapa saat lalu ketika mereka masih di mobil akan terulang kembali.
Gadis itu berjalan menuju ke kamarnya di lantai atas. Ketika hendak menutup pintu, ia baru sadar jika sedari tadi Dirga masih mengikutinya dari belakang.
Luna terkejut kala mendapati Dirga yang ikut masuk ke kamarnya. Tak lupa pria itu juga mengunci pintu tersebut.
Merasa terancam, Luna mundur hingga beberapa langkah.
"Om ngapain ikut masuk?" tanya Luna penuh waspada.
Bukannya menjawab, Dirga justru melonggarkan dasi yang melilit di lehernya. Juga membuka beberapa kancing bagian atas kemejanya.
"A-aku mau istirahat. Sebaiknya Om keluar dari kamar aku sekarang juga," lanjut Luna.
Dirga melangkah mendekat. Sehingga Luna reflek melangkah mundur. sampai akhirnya tubuh gadis itu limbung setelah menabrak salah satu sisi tempat tidur.
Keduanya jatuh bersamaan ke tempat tidur dengan posisi Dirga berada di atas tubuh Luna. Gadis itu memekik kuat.
Seketika jantung gadis itu berdebar kencang. Mata mereka berdua saling beradu pandang, hingga tanpa disadari, Luna terpaku menatap wajah sang paman.
Garis rahang yang sempurna, dipadukan dengan alis tebal namun terukir rapi. Mata tajam, tetapi tampak memikat. Hidung mancung sempurna dan bibir yang ... ah, sepertinya Luna sudah benar-benar gila.
Buru-buru gadis itu segera mengenyahkan segala hayalan yang ada di kepalanya. Terlalu detail dalam menilai fisik Dirga, sampai-sampai ia lupa akan posisi mereka berdua yang masih saling menempel satu sama lain.
"A-aku capek, butuh istirahat," ucap Luna sembari mendorong pelan d**a bidang Dirga.
Begitu tersadar, Dirga juga segera bangkit berdiri. Sepertinya, pria itu harus berusaha lebih keras untuk menahan diri lagi.
"Istirahatlah. Aku akan meminta seseorang untuk membawakanmu kompresan. Obati lukamu agar tidak bengkak," tutur Dirga. Mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar suasananya tidak menjadi awkward.
"Oke," jawab Luna.
Dirga melangkah pergi. Meninggalkan Luna dengan perasaan yang campur aduk menjadi satu.
Sementara Dirga memilih untuk kembali ke kantornya bersama Niko.
"Jalan!" perintah Dirga kepada Niko yang sedari tadi masih menunggu bosnya di dalam mobil.
Mobil berwarna hitam itu melaju meninggalkan pekarangan rumah. Membelah jalanan kota menuju ke tempat lain.
"Ekhem, Tuan. Saya mendengar kalau Nona Tiara akan pulang sebentar lagi dari Amerika. Apa tidak sebaiknya kita kembalikan saja Nona Luna ke rumahnya, untuk sementara waktu?" celetuk Niko.
Dirga berpikir sejenak, sebelum menjawab Niko. "Itu tidak perlu."
"Tapi, Tuan. Walau bagaimanapun Nona Tiara adalah tunangan Anda. Kalau nanti Nona Tiara melihat Nona Luna berada di rumah Anda, saya khawatir dia akan salah paham. Apa lagi mereka berdua belum pernah bertemu sebelumnya, meskipun Nona Luna keponakan Anda sendiri, Tuan," jelas Niko.
"Cari tau, kapan dia akan tiba."
"Siap, Tuan."
Ponsel Dirga berdering. Ia langsung menggeser icon hijau di layar ponselnya, saat melihat nama yang tertera di sana.
"Ya?" sapa Dirga.
"Tuan Dirga, proyek Anda yang di luar kota sudah disetujui. Anda bisa memeriksanya secara langsung besok."
"Baiklah. Segera kirimkan seluruh detailnya pada Niko."
"Siap, Tuan. Dan satu hal lagi. Ada beberapa dokumen yang harus Anda tandatangani. Semuanya sudah saya taruh di meja kerja Anda, Tuan."
"Hm. Saya mengerti."
Pria itu langsung menutup telepon setelah obrolan mereka selesai.
"Nik, Setelah ini, kau persiapkan semuanya. Besok kita akan pergi ke luar kota," pinta Dirga.
"Siap, Tuan. Tapi, bagaimana dengan Nona Luna?"
Dirga menghela napas panjang. "Dia sudah dewasa. Pasti bisa mengerti."
"Soal keamanannya, Tuan. Apa Tuan tidak takut kalau musuh dari Tuan Sucipto akan kembali menyerang?" tanya Niko. Mengingat akhir-akhir ini perusahaan milik keluarga Luna mulai diserang dari segala sisi oleh orang tak dikenal.
Setelah seluruh anggota keluarga Sucipto dibinasakan dan hanya menyisakan Luna seorang diri, Dirga memutuskan untuk mengakuisisi perusahaan milik Bram Sucipto tersebut.
Supaya kelak saat Luna sudah siap, Dirga bisa menyerahkan kembali satu-satunya peninggalan Bram untuk putrinya.
"Kau benar. Letakkan beberapa orang lagi di berbagai sudut rumah. Jangan sampai mereka berhasil menyentuh Luna," pinta Dirga.
Niko mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Mobil terparkir rapi di halaman depan gedung. Sesuai perintah, Niko hanya mengantar Dirga sampai ke kantor, lalu pergi untuk mengurus hal lainnya.
Begitu tiba, pria itu langsung memasuki kantornya. Hari ini mungkin dirinya akan pulang sedikit larut. Ada banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Sampai pada saat dirinya memasuki area lobi, telinga pria itu mendengar beberapa orang yang saling berbisik satu sama lain.
Mata elang pria itu langsung menatap tajam ke arah mereka.
"Apa kalian sudah bosan bekerja?" tegur Dirga.
Seketika orang-orang itupun diam ketakutan. Mereka menundukkan kepala, tak berani menatap ke arah bosnya.
"Maaf, Tuan."
Mereka semua segera pergi dari sana. Takut jika Dirga akan memecatnya.