Meski gugup, Luna berusaha untuk tetap tenang. "S-saya ...."
"Alexa," panggil seorang wanita yang baru saja muncul dari balik pintu.
Sontak semua mata tertuju pada wanita tersebut.
"Mama," panggil Alexa dengan rengekannya yang cukup menggelikan bagi Luna.
Wanita yang baru saja diketahui merupakan ibu dari Alexa itu segera mendekati putri kesayangannya. Gayanya tampak begitu angkuh, sama persis dengan sang anak.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan, Sayang? Siapa yang berani usik kamu? Biar mama kasih dia pelajaran sekarang," tutur Ratna, ibu dari Alexa.
"Em ... maaf sebelumnya, Bu Ratna. Karena masalah kecil seperti ini harus merepotkan Anda. Sampai Anda harus datang kemari," celetuk Pak Hari.
Kemudian, Pak Hari mulai menjelaskan semua yang terjadi di sana.
Namun, secara tiba-tiba Ratna maju mendekati Luna dan langsung menampar pipi gadis itu. Sontak hal tersebut membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut pun shock. Terkecuali Alexa yang tampak senang melihat aksi ibunya barusan.
"Kurang ajar! Berani sekali kamu menampar anak saya. Kamu tau siapa saya, hah?!" bentak Ratna membela anaknya.
Luna memegangi pipinya yang habis terkena tamparan.
"Luna, kamu—" Baru saja Adel hendak berbicara, tetapi langsung dicegah oleh sang empunya.
"Aku gak papa," ucap Luna menenangkan. Lantas mengalihkan pandangan ke arah Ratna. "Tante, maaf sebelumnya tapi semua ini bukan sepenuhnya salah saya. Semua ini karena—"
"Diam kamu! Kamu pikir kamu siapa, huh?" Ratna kembali membentak Luna dengan nada tinggi. Bahkan jari wanita itu menunjuk-nunjuk di depan wajah Luna.
Semakin angkuh, kini Ratna melipat kedua tangannya di depan d**a. Menatap remeh kepada Luna. "Oh, saya tau. Pantas saja kamu terlihat liar. Saya dengar, kamu yatim piatu, ya? Kelihatan sekali, sangat tidak berpendidikan!"
Mendengar penghinaan yang Ratna lontarkan, membuat Luna sampai mengepalkan tangannya dengan cukup kuat. Ia ingin marah dan membalas cacian wanita itu. Namun, Luna masih berusaha untuk menahan segala emosinya.
"Tante, sebaiknya Tante tanya dulu ke anak tante. Dia yang mulai duluan, Tante. Bukan Luna," sahut Adel membela sahabatnya yang sedari awal memang tidak bersalah.
"Diam kamu. Kamu tidak berhak menasihati saya tentang siapa yang benar dan siapa yang salah di sini. Sudah jelas sekali anak saya ini adalah anak yang lahir dari keluarga terhormat. Tidak mungkin dia sudi berurusan dengan anak-anak seperti kalian, kalau bukan kalian duluan yang menyinggung anak saya!" seru Ratna, masih tetap keukeh untuk menyangkal.
"Bu Ratna, sebaiknya Anda jangan terbawa emosi. Masalah ini, sebaiknya kita selesaikan secara kekeluargaan saja," timpal Pak Hari mencoba menengahi.
Luna hanya diam, karena dia tahu. Kalaupun masalah ini terus berlanjut, maka dirinya yang tetap akan disalahkan. Tidak ada yang bisa membelanya selain Adel. Bahkan kesaksian Adel pun sepertinya juga tidak akan dipercaya oleh semua orang.
"Pak Hari, Anda tau, 'kan, kalau sampai anak saya terkena masalah, maka jangan salahkan saya kalau keluarga Adnan akan berhenti menjadi donatur di kampus ini. Dan saya pastikan kampus ini akan segera hancur," ancam Ratna.
Seketika wajah Pak Hari semakin terlihat panik. "Ah, jangan terburu-buru, Bu Ratna. Masalah ini pasti akan saya selesaikan segera. Saya akan segera memberi hukuman kepada kedua mahasiswi ini."
"Kita lihat, siapa yang berani menyentuh Luna!" Suara seorang pria terdengar dari arah pintu masuk.
Pria itu menerobos masuk, diiringi dengan beberapa pengawal.
Kedua mata Luna terbuka lebar. Begitu pula dengan semua orang di sana yang terkejut melihat kedatangan seorang Dirga Bimantara. Orang yang memegang kekuasaan di seluruh kerajaan bisnis di kota tersebut.
Lebih dikenal sebagai raja iblis di kalangan darah biru. Dirga juga terkenal begitu kejam dan tidak pernah melepaskan mangsanya.
Kini orang itu telah hadir di tengah-tengah mereka secara langsung. Sampai membuat Pak Hari yang sedikit-banyaknya juga mengetahui rumor-rumor yang beredar mengenai sosok Dirga, terkejut setengah mati.
Pria dengan ekspresi datar itu mendekat dan berdiri tepat di hadapan Luna. Sedangkan sang empunya justru tampak bungkam seribu bahasa.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dirga.
Lamunan gadis itu seketika buyar. "A-aku gak apa-apa, kok. Om ngapain ke sini?"
"Pak Dirga? Sungguh kehormatan besar bagi saya, bisa bertemu dengan Anda secara langsung. Saya Hari, dosen di kampus ini," sapa Pak Hari sembari mengulurkan tangan.
Namun, Dirga tak merespon sama sekali.
Terlihat Alexa dan ibunya saling berbisik lirih.
"Ma, aku denger, Pak Dirga itu orang hebat. Selain kaya raya, dia juga terkenal orang paling kejam. Kayanya dia kenal deh sama si jalang itu," bisik Alexa. Dirinya mulai merasa ketakutan.
"Mama juga pernah denger soal rumor tentang dia. Tapi mama gak yakin kalau dia ada hubungan sama si jalang kecil itu. Soalnya banyak yang bilang kalau Pak Dirga itu gak suka wanita," balas Ratna.
"Tapi kalau mereka beneran saling kenal gimana, Ma? Bisa abis kita di sini, Ma."
"Kamu tenang aja, Sayang. Mama bakalan tetap belain kamu."
Meski ragu. Alexa tetap mengangguk patuh. Berusaha untuk tetap percaya dengan kemampuan ibunya.
"Saya dengar, ada orang yang menindas Luna. Apa kabar itu benar?" tanya Dirga langsung pada intinya.
"Benar, Pak. Dia!" tunjuk Adel ke arah Alexa. "Dia dan antek-anteknya yang udah nyerang kita. Mereka bertiga udah mukulin Luna sampai muka Luna memar."
"Lo jangan asal ngomong, ya. Jelas-jelas Luna yang nampar gue duluan," protes Alexa membela diri.
"Itu karena kamu yang duluan ngehina orang tuanya Luna. Jadi wajar kalau Luna marah," balas Adel masih tak ingin kalah.
"Sudah diam anak-anak! Diam kalian semua!" perintah Pak Hari. Berusaha menghentikan pertikaian yang terjadi.
"Saya beri waktu kurang dari dua puluh empat jam. Jika besok saya masih melihat mereka semua di kampus ini, maka kalian semua akan tanggung sendiri akibatnya. Terutama Anda," tunjuk Dirga ke arah Pak Hari.
"B-baik, Pak Dirga," jawab Pak Hari dengan terbata-bata.
Ini sudah di luar kendali Ratna. Bisa gawat kalau sampai suaminya tahu, putri satu-satunya mereka akan segera dikeluarkan dari sini.
"Eh, gak bisa gitu dong. Pak Hari, ini gak adil. Jelas-jelas anak saya itu korban, Pak!" protes Ratna masih tidak terima dengan keputusan sang dosen.
"Niko, kau urus mereka!" perintah Dirga.
"Baik, Tuan."
Tatapan mata Dirga beralih ke arah Luna. Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Luna merasa tubuhnya melayang di udara.
Tubuh mungil itu kini telah berada di gendongan Dirga. Alhasil, mereka semua yang menyaksikan pun dibuat sangat shock sampai tidak bisa berkata-kata.
Luna segera dibawa pergi oleh Dirga. Diikuti oleh Adel dari belakang. Saat melewati Alexa dan kedua temannya, Adel menyempatkan diri untuk mengejek mereka, dengan menjulurkan lidahnya.
Ketiga gadis tersebut hampir terprovokasi sampai ingin menerkam Adel. Namun, harus mereka tahan, karena urusannya dengan Pak Hari belum selesai.
Di tempat lain, Luna memaksa agar Dirga segera menurunkannya dari gendongan pria itu. Semua mata menatap ke arah mereka, sehingga membuatnya merasa kurang nyaman.
Alhasil, Dirga tetap menurut dan melepaskan Luna. Gadis itu merapikan kembali pakaiannya yang sedikit berantakan.
Tatapan Luna beralih ke arah Adel yang masih mengikuti dirinya dan Dirga. Berbisik lirih, supaya suaranya tidak ikut didengar oleh pria di sampingnya itu.
"Kau berhutang penjelasan padaku," ujar Luna.
Adel memilin jemarinya sendiri. "Aku terpaksa, Luna. Kalau aku gak panggil om kamu, si trio macan itu gak akan mau ngelepasin kita."
Luna berdecak kesal. Sebenarnya yang Adel katakan barusan memang ada benarnya. Jika hari ini Dirga tidak datang untuk menolongnya, maka mungkin saja mereka berdua yang akan dikeluarkan dari kampus ini sekarang.
Masalah belum mereda, tanpa diduga seorang laki-laki datang menghampiri mereka berempat.
"Luna, aku dengar kau terkena masalah lagi dengan Alexa. Apa kau baik-baik saja?" tanya laki-laki itu, yang tak lain adalah Bimo. Orang yang diperebutkan oleh Alexa. Sampai-sampai membuat Luna terseret dalam masalah cukup besar.
Namun, Luna harus tetap memaksakan senyumnya di depan Bimo. Walau bagaimanapun, semua ini bukan sepenuhnya salah laki-laki itu. Hanya saja, nasibnya yang begitu sial, karena disukai oleh gadis seperti Alexa.
"Aku ... gak apa-apa, kok," jawab Luna lantas tersenyum.
Di sisi lain, tatapan Dirga tampak begitu tajam kepada Bimo. Memperlihatkan ketidak sukaannya terhadap laki-laki di hadapannya tersebut. Sedangkan Niko mulai menyadari gelagat aneh dari bosnya itu. Namun memilih untuk tetap diam.
"Baguslah kalau gitu. Aku bawakan air minum untukmu." Bimo menyodorkan sebotol air untuk Luna, yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Saat tangan gadis itu hendak meraihnya, justru Dirga-lah yang mengambil botol air minum tersebut terlebih dahulu. Membuat Luna maupun Bimo terheran-heran.
"Saya haus. Terima kasih atas minumannya," celetuk Dirga dengan nada cuek. Kemudian langsung meminumnya hingga hampir habis.
Luna hendak mencegah. Akan tetapi diurungkannya kembali. Alhasil, dirinya hanya bisa tersenyum kikuk di hadapan Bimo.