Bab 4

1360 Kata
"Luna!" Merasa namanya terpanggil, Luna menoleh ke sumber suara. Terlihat Adel yang sepertinya sedang menunggunya di kejauhan sana. Adel segera berlari mendekat. "Hey," sapa gadis itu dengan wajah ceria. Seperti biasanya. Luna tersenyum. "Hay. Udah lama nunggu, ya?" Sang empunya menggeleng. "Enggak, kok. Aku juga barusan sampai. Yuk, jalan ke kelas." Luna mengangguk setuju. Kedua gadis itu berjalan bersama. Namun, baru saja mereka melewati koridor kampus, tiba-tiba langkah keduanya dicegat oleh tiga orang gadis. Baik Luna maupun Adel sama-sama mengenali mereka bertiga. Ya. Ketiganya bisa disebut dengan para diva di kampus tersebut. Nama mereka bertiga cukup popular di kalangan anak-anak kampus tersebut. Sudah lama ketiga gadis itu mengusik kehidupan Luna. Kali ini, entah apa lagi yang mereka inginkan dari dirinya. "Wah, ternyata si pembawa sial ini nyalinya besar juga, ya." Sindir salah satu dari mereka yang bernama Fara. "Kalo gue sih malu, ya. Secara kan, dia pembawa sial," imbuh Yuri. Sengaja mengejek. "Kata gue mah, mending pulang. Terus merenungi nasib di kamar," imbuh Fara semakin mengompori. Sedangkan Alexa hanya diam menyimak. Sebagai pemimpin dari kedua dayangnya, ia tak perlu membuka mulutnya sendiri. Membiarkan dua gadis di sampingnya berbicara seenaknya, untuk mewakili dirinya. Orang-orang di sekeliling mereka hanya diam menatap kejadian tersebut. Tidak ada yang berani ikut campur. Sebab, selain ketiga gadis itu cukup popular, orang tua dari Alexa juga merupakan salah satu donatur terbesar di kampus tempat mereka belajar. Adel mendekatkan kepalanya, hendak membisikkan sesuatu ke telinga Luna. "Jangan didengerin. Kita pergi aja, yuk!" Luna melirik sekilas ke arah Adel sebelum pandangannya kembali ke ketiga gadis di hadapannya. Sudah cukup selama ini dirinya menghindar dan mengalah. Kini tidak lagi. Meskipun sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa membelanya, setelah seluruh anggota keluarganya pergi. "Mau apa kalian?" tanya Luna. Ekspresi wajahnya begitu datar, sehingga membuatnya terlihat dingin. "uh ... lihatlah si bodoh ini. Berani-beraninya dia melotot sama kita," ucap Yuri, lantas tertawa mengejek. Alexa menyeringai. Maju satu langkah sehingga kini jarak antara dirinya dan Luna semakin dekat. Kini keduanya benar-benar saling berhadapan. Sama sekali tak ada raut ketakutan di wajah Luna, ketika dirinya berhadapan langsung dengan sang rival. "Sepertinya orang tua lo itu nasibnya sial banget ya, karena telah melahirkan pembawa sial kaya lo. Bahkan sampai mereka matipun, mereka gak mau bawa lo ikut sama mereka," ejek Alexa. Tangan Luna terkepal kuat. Sepersekian detik selanjutnya, tangan kanan gadis itu melayang dan mendaratkan satu tamparan keras ke wajah Alexa. "Jaga mulut kamu, Alexa!" seru Luna. Sontak beberapa orang yang menyaksikan hal tersebut pun menjadi riuh. Mereka semua saling berbisik, karena baru kali ini ada orang lain yang berani melawan ketiga diva tersebut. "Berani ya lo nampar gue!" bentak Alexa sembari memegangi pipinya yang baru saja kena tampar. "Itu balasan, karena kamu udah berani ngehina keluargaku," sahut Luna. "Lun, udah, Lun. Kita pergi aja, yuk!" ajak Adel. Khawatir karena suasana yang semakin memanas. Kali ini Luna menolak ajakan dari sahabatnya tersebut. Ia tidak akan menerima hinaan apapun dan dari siapapun yang mengarah kepada orang tuanya. "Mau sok jagoan lo sekarang, hah?!" Alexa memberi kode kepada kedua temannya. Kemudian, Yuri dan juga Fara langsung bergerak maju. Mereka berdua mendorong tubuh Adel, hingga sang empunya hampir terjatuh. Lantas memegangi lengan Luna di kedua sisi. "Eh, apa yang kalian lakukan? Lepasin Luna!" pinta Adel. Namun, tubuhnya kembali didorong, ketika dirinya hendak menolong Luna. Meski Luna berusaha untuk memberontak, tetapi tenaganya masih tetap kalah jika dibandingkan dengan Fara dan Yuri. Plak! "Aww," ringis Luna, saat Alexa membalas tamparannya tadi. "Ini karena lo udah berani nampar gue," ucap Alexa. Plak! "Ini karena lo kurang ajar ke gue!" Plak! "Dan ini, karena lo selalu caper sama Bimo. Lo rebut dia dari gue, dasar sialan!" bentak Alexa. Mereka tertawa puas, seolah puas melihat Luna yang tak berdaya di tangan mereka bertiga. Di sisi lain, Adel tampak panik melihat sahabatnya yang dirundung oleh Alexa dan para antek-anteknya. Tidak ada pilihan lain lagi. Adel segera menghubungi asisten pribadi Dirga, agar pria itu bisa menolong Luna. "Ya? Ada keperluan apa?" Terdengar suara Niko dari seberang telepon. "S-saya perlu bicara sama Pak Dirga." "Beliau sedang sibuk. Tidak bisa diganggu." Adel melirik ke belakang, di mana saat ini Alexa dan kawan-kawannya masih merundung Luna. Bahkan sekarang mereka mulai menjambak rambut sahabatnya tersebut. Membuat Adel semakin panik. "Tolong, Pak. Sebentar aja. Ini penting, soal Luna." "Baiklah, sebentar." Beberapa saat kemudian, ponsel Niko telah berpindah tangan ke tangan Dirga. "Katakan, apa yang terjadi dengan Luna? Apa ada masalah?" "Luna sedang dalam masalah. Sebaiknya Pak Dirga dateng langsung ke kampus kita sekarang juga." "Oke, saya segera ke sana sekarang." Sambungan telepon terputus. Sekarang, Adel harus memikirkan cara supaya Alexa berhenti menyiksa Luna. Sang empunya segera berlari pergi, untuk melaporkan kejadian tersebut ke salah satu dosen di sana. Sementara itu, Alexa dan kedua temannya berusaha untuk membuat Luna bersujud di hadapan gadis itu. Namun, Luna menolak dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Menahan tubuhnya sendiri, agar tidak terjatuh ke lantai. "Dasar gadis jalang. Apa sih yang Bimo liat dari lo, hah? Cantikan juga gue," ucap Alexa penuh percaya diri. Luna hanya diam sembari menatap tajam gadis di depannya. "Atau jangan-jangan, lo udah ngasih tubuh kotor lo itu ke Bimo," lanjut Alexa masih mencemooh. "Terserah kamu mikir apa tentang aku. Tapi yang jelas, aku gak pernah ngelakuin hal sepicik kamu, cuma buat dapetin apa yang kamu mau!" sahut Luna dengan tegas. Plak! Alexa kembali menampar pipi Luna dengan keras. "Berani-beraninya lo ngehina gue. Lo itu cuma sampah di mata Bimo. Jadi lo gak pantes buat deket-deket sama dia. Ngerti lo?!" celoteh Alexa, jarinya pun ikut menunjuk-nunjuk tepat di wajah Luna. "Asal kamu tau, aku gak pernah ngejar-ngejar Bimo. Tapi dia sendiri yang dateng ngedeketin aku. Kalo kamu gak percaya, kamu tanya aja langsung ke orangnya," balas Luna. "Heh! Jangan sok cantik deh lo. Bocah udik kaya lo gini tuh gak usah sok kecantikan. jijik tau gak?!" sahut Yuri membela Alexa. "Iya. Lagian, Bima itu seleranya tinggi. Gak mungkin kalo dia sampai ngejar-ngejar lo. Jangan mimpi, deh," imbuh Fara ikut mengompori. Bukannya takut, Luna justru tertawa pelan. Hal tersebut semakin memancing amarah Alexa. "Lo—" "Ada apa ini ribut-ribut?" Perkataan Alexa terhenti seketika, saat mendengar suara dari Pak Hari, salah satu dosen yang dibawa oleh Adel untuk menghentikan aksi mereka bertiga. Melihat Pak Hari yang berjalan mendekat, sontak saja Yuri dan juga Fara segera melepaskan tangan Luna. Tubuh sang empunya sempat oleng. Untunglah Adel sigap menopangnya. "Kamu gak papa?" tanya Adel merasa khawatir. Luna tersenyum tipis sembari menggeleng pelan. "Aku gak papa. Makasih, ya." Meski penampilan Luna yang sudah sangat berantakan, serta kedua pipi yang memerah bekas tamparan Alexa. Akan tetapi, ia tetap berusaha agar terlihat baik-baik saja. Supaya Adel tidak merasa cemas. "Kalian ini, pagi-pagi sudah bikin ribut saja. Sekarang, kalian semua ikut ke ruangan saya!" Perintah Pak Hari dengan tegas. "Tapi, Pak—" "Tidak ada tapi-tapian. Cepat ke ruangan saya, sekarang!" Potong Pak Hari, saat Fara hendak protes. Sebelum pergi, Alexa dan kedua temannya kompak menatap tajam ke arah Luna dan juga Adel. Seolah memberi peringatan untuk masalah ini. Terutama Adel, karena dialah yang sudah berani melapor kepada dosen. Diikuti dengan mereka berdua yang juga harus pergi ke ruang dosen. Adel senantiasa menggandeng Luna yang tampak lemas. Sesampainya di ruangan yang dimaksud, mereka berlima berdiri saling berjejeran. "Pak, saya dan teman-teman saya ini gak salah. Mereka duluan yang nantangin kita," ucap Alexa berdalih. "Bener, Pak. Harusnya Bapak hukum mereka, bukan kita," imbuh Yuri. Mendengar hal itu, Adel merasa tidak terima. Jelas-jelas mereka bertiga yang mencari gara-gara terlebih dahulu. Bisa-bisanya malah menyalahkan orang lain. "Bohong, Pak. Bapak liat sendiri, kan, tadi. Mereka mukulin Luna, Pak. Mereka main keroyokan," tutur Adel sebagai wujud pembelaan diri. "Sudah, sudah. Diam kalian semua," pinta Pak Hari, "dan kau Alexa. Meskipun orang tuamu adalah donatur di kampus ini, tetapi kami akan tetap memanggil mereka sebagai perwalian." Alexa hendak menolak. "Pak, tapi—" "Bapak belum selesai bicara, Alexa!" Lagi-lagi Pak Hari memotong perkataan Alexa. Membuat Adel diam-diam tersenyum senang menyaksikan hal tersebut. Pandangan Pak Hari beralih kepada Luna yang hanya tertunduk diam. Seolah siap menerima hukuman apapun yang akan diberikan kepadanya nanti. "Luna, Bapak dengar seluruh keluargamu baru saja meninggal. Jadi, siapa yang akan mewalikanmu untuk datang ke sini sekarang?" tanya Pak. Hari. "S-saya ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN