Selesai memeriksa, dokter yang Dirga panggil untuk mengobati kaki Luna pun berpamitan pulang.
Kini, kaki gadis itu harus dipasang gips. Supaya tulang yang terkilir bisa kembali lagi pulih seperti semula.
"Lain kali jangan mandi sendirian," celetuk Dirga secara tiba-tiba.
Mendengar hal itu, sontak mata Luna melotot ke arah pria tersebut.
"Apa?!"
"Maksudku, selama kakimu belum sembuh, sebaiknya kau harus ditemani oleh seseorang jika ingin ke kamar mandi." Dirga buru-buru mengklarifikasi maksud perkataannya.
Luna mendengus kesal. "Kakiku hanya kesleo. Bukan patah!"
"Sudah berapa kali masalah yang kau buat? Apa semua ini belum cukup untuk membuatmu mengerti?"
Luna kembali menatap Dirga dengan tajam. "Aku tidak memintamu untuk menjagaku, 'kan? Bukannya Om sendiri yang dengan sukarela mengambil tanggung jawab itu?"
"Tolong, demi keselamatan dirimu sendiri, Luna. Jadilah anak yang patuh."
Jangan harap, batin Luna.
Terdengar helaan napas panjang dari mulut Dirga. Menandakan pria itu sedang dalam keadaan yang benar-benar lelah.
"Aku sudah meminta pengawal untuk membawakan salah satu temanmu, agar kau tidak kesepian di sini," tutur Dirga.
"Hah? Serius?" tanya Luna merasa terkejut.
"Hm."
Senyum ceria langsung terbit di bibir mungil Luna. Begitu girangnya, hingga membuat Dirga menggelengkan kepalanya pelan.
"Terus sekarang dia di mana?"
Belum sempat Dirga menjawab pertanyaan dari Luna, seseorang pun muncul dari balik pintu kamar gadis itu.
"Luna," panggil seorang gadis di belakang Dirga.
Seketika arah pandangan keduanya pun beralih ke arah gadis di dekat pintu yang membelakangi Dirga.
"Adel!" seru Luna kegirangan.
Mereka sama-sama memekik senang. Adel berlari kecil penuh semangat, untuk segera mendekati Luna. Sang empunya langsung mengambil posisi duduk di pinggir tempat tidur. Berhadapan dengan Luna.
"Akhirnya kita bisa ketemu. Kamu ke mana aja? Aku neleponin kamu beberapa kali, tapi gak kamu angkat," oceh Adel, tanpa mempedulikan keberadaan Dirga di ruangan tersebut.
"Seperti yang kamu liat sekarang. Aku dipenjara," jawab Luna berbisik lirih di akhir kalimat.
"Apa?"
Luna memberikan kode melalui mata. Melirik ke arah Dirga. Diikuti oleh Adel. Seketika Adel langsung mengerti dengan maksud dari perkataan Luna kepadanya barusan.
"Dia menahanmu?" tebak Adel sembari berbisik pelan.
"Iya."
"Ekhem! Aku keluar dulu. Kalian mengobrol saja dulu di sini," celetuk Dirga.
Pria itu langsung berlalu pergi, tanpa menunggu persetujuan dari kedua gadis tersebut.
Kali ini, Dirga memberikan sedikit kelonggaran waktu, supaya Luna bisa dengan puas mengobrol bersama sahabatnya.
Namun, di balik itu semua tidak ada yang cuma-cuma.
"Selidiki latar belakang gadis bernama Adel itu. Laporkan padaku segera!" perintah Dirga kepada Niko.
"Maksud Tuan Dirga, Adelia Tarigan?"
"Hm."
Niko mengernyitkan keningnya. "Tapi, kali ini untuk apa, Tuan?"
"Saya hanya ingin memastikan,siapapun yang menjalin hubungan pertemanan dengan Luna harus bersih."
"Baik, Tuan. Saya akan laksanakan sesuai perintah."
Tugas Niko bertambah lagi. Setelah kemarin Dirga juga meminta untuk melakukan penyelidikan secara rahasia. Kini pria itu masih ingin menyelidiki orang lain lagi.
"Lalu, bagaimana dengan tugasmu kemarin?" tanya Dirga, sembari mengeluarkan sebatang rokok untuk dihisap.
"Kami sudah menyelidiki semuanya, Tuan. Mari ikut ke ruangan Anda sekarang," ajak Niko. Hendak menunjukkan hasil kerjanya kemarin.
"Oke."
Mereka berdua berjalan menuju ruang kerja Dirga.
Sementara di sisi lain, Luna bersama dengan Adel masih asyik berbincang.
"Dia beneran om kamu, Lun?" tanya Adel.
"Iya, tapi bukan om kandung," jawab Luna sembari memakan apel yang dikupaskan Adel untuk mereka berdua.
"Orangnya ganteng juga. Awas naksir."
"Uhuk! Uhuk!"
Sontak Luna langsung tersedak, begitu mendengar penuturan Adel yang tidak masuk akal barusan.
"Kamu kenapa? Nih, minum dulu."
Adel segera menyodorkan segelas air putih untuk Luna. Sang empu langsung menerima gelas tersebut dan buru-buru meminum airnya. Agar meredakan tenggorokannya yang terasa tercekat.
"Ya ampun, Lun. Kamu kenapa, sih?" tanya Adel, saat dirasa Luna sudah kembali tenang.
"Kamu gila, ya?"
"Lah, kok, jadi aku?" balas Adel yang justru terlihat kebingungan.
"Pikiran kamu itu kejauhan, Del. Lagian gak mungkin aku bisa suka sama Om Dirga. Kamu kan tau, selama ini aku sukanya sama siapa," celoteh Luna.
"Iya juga, sih. Lagian aku cuma becanda kali, Lun. Kalo kamu gak mau juga gak papa. Buat aku aja kalo gitu," ucap Adel dengan maksud bercanda.
"Ya udah, kalo mau ambil aja sana."
Adel pun seketika tertawa terbahak-bahak.
Tidak dipungkiri, sosok Dirga sendiri memang begitu mempesona. Meski jarak umur mereka cukup jauh, yang mana Dirga merupakan pria dewasa. Sedangkan Luna dan Adel masih remaja tanggung.
Namun, daya tarik Dirga begitu kuat. Hanya saja, pria itu begitu dingin dan terkenal sangat kejam. Rumor yang beredar di luaran sana mengatakan bahwa Dirga tidak tertarik kepada lawan jenis.
Sebab, sudah bertahun-tahun lamanya pria itu tidak pernah menjamah wanita manapun. Bahkan hingga saat ini Dirga juga belum menikah.
Setiap wanita yang datang bahkan rela merangkak di atas ranjang Dirga. Namun, mereka semua berakhir dengan tragis di tangan pria itu. Hingga tidak ada lagi yang berani menggodanya sampai saat ini.
****
Hari berlalu. Kaki Luna tampaknya sudah mulai pulih. Gips yang terpasang di kakinya pun juga sudah dilepas.
Gadis itu bersiap-siap untuk pergi ke salah satu universitas ternama di kota tempatnya tinggal. Hari ini dirinya pertama kali masuk kembali, setelah beberapa hari cuti.
Saat dirinya hendak berangkat, Luna baru teringat jikalau semua kartu bank-nya sudah dibekukan dan tidak bisa dipakai kembali.
"Apa aku minta aja ke Om Dirga, ya?" gumam Luna.
Sepersekian detik kemudian, gadis itu menggeleng kuat. "Enggak. Aku gak boleh bergantung sama siapapun. Terutama sama dia."
Tapi kali ini aku butuh banget, batin Luna merasa bimbang.
Setelah sekian lama berpikir, akhirnya Luna memantapkan diri untuk meminta sedikit uang kepada Dirga. Lebih tepatnya hanya meminjam sementara.
Nanti, dirinya akan mencari pekerjaan di luar sana, untuk mengembalikan uang tersebut.
Sampai di depan pintu ruang kerja Dirga. Berkali-kali Luna kembali meyakinkan diri untuk mengetuk pintu di hadapannya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Mendengar suara Dirga dari dalam, Luna pun memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut.
Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah.
Pandangan pertama saat pintu terbuka ialah sosok Dirga. Pria itu terlihat sedang sibuk berkutat dengan laptop di hadapannya. Raut wajah pria tersebut tampak begitu serius.
Melihat kedatangan Luna, Dirga pun menghentikan aktifitasnya sejenak. Tangannya memberi isyarat agar Luna mendekat.
Dengan langkah penuh keraguan, mau tidak mau Luna patuh. Mendekat ke arah Dirga dengan kepala tertunduk.
"Ada apa?" tanya Dirga.
"Hari ini aku mau pergi kuliah. Bisakah kau pinjamkan aku uang?" cicit Luna.
Sebelah alis Dirga terangkat ke atas. Membuat dahi pria itu sedikit mengkerut. "Pinjam?"
Luna mengangguk. "Aku butuh uang. Nanti aku juga akan mencari pekerjaan. Setelah uangnya terkumpul, aku janji akan mengembalikannya padamu."
Kini giliran sudut bibir Dirga yang terangkat. Pria itu segera menarik tangan Luna. Sehingga tubuh gadis itu limbung dan jatuh terduduk di pangkuan Dirga.
"Eh?" pekik Luna terkejut.
Saat dirinya hendak bangkit berdiri, tangan Dirga melingkari pinggangnya. Membuat pergerakan Luna semakin terbatas.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Luna mulai merasa sedikit takut.
Dirga membuka laci meja kerjanya. Mengeluarkan salah satu kartu bank miliknya. Lantas menyerahkan benda tersebut kepada Luna.
Meski Luna masih merasa bingung, tetapi dirinya tetap menerima benda persegi itu.
"Pakailah, habiskan. Kau tidak perlu meminjamnya dariku. Hartaku juga milikmu, Luna."
"Tapi—"
Belum sempat Luna menyelesaikan kalimatnya, Dirga lebih dulu mencium bibir gadis itu.
Sontak hal tersebut membuat Luna terkejut. Sayangnya, saat Luna hendak menarik diri, tengkuknya justru ditahan oleh tangan Dirga. membuatnya tidak bisa berkutik.
Pria itu baru melepaskan ciumannya saat bibirnya digigit oleh Luna hingga berdarah.
Napas keduanya sampai terengah-engah.
Luna segera menjauh dari Dirga.
"A-aku akan kembalikan uang ini secepatnya. Permisi." Pamit gadis itu dan langsung melenggang pergi.
Sementara Dirga tersenyum. Menyeka darah di bibirnya, bekas gigitan Luna.
Entah apa yang merasuki pria itu, hingga dirinya bisa kehilangan kendali di hadapan Luna. Gadis kecil yang ditinggal pergi oleh seluruh anggota keluarganya dan belum lama ini tinggal bersamanya di sini.
Untuk pertama kalinya Dirga mencium seorang wanita.
Begitu pula yang dirasakan oleh Luna. Gadis itu meraba bibirnya sendiri. Ciuman pertamanya diambil paksa oleh pamannya sendiri.
"Enggak! Ini sama sekali gak bener!" gumam Luna merutuki dirinya sendiri.
Hingga tanpa sadar dirinya sudah masuk ke mobil Dirga, yang siap mengantarkan gadis itu kuliah.
Di sisi lain, Dirga menatap mobil yang perlahan mulai menjauh dari pekarangan rumah melalui jendela ruang kerjanya.
Adegan ciuman keduanya terus terngiang di pikiran pria itu. Hingga tanpa disadari, sebuah senyuman kembali terukir di bibir Dirga. Dan hal tersebut terjadi karena seorang gadis bernama Luna.