Luna kembali diseret oleh Dirga, sampai gadis itu masuk ke kamar.
"Jangan menguji kesabaranku, Luna. Atau aku tidak akan segan-segan untuk menghukummu!" Ancam Dirga bernada dingin.
"Om gak berhak buat atur hidupku kaya gini. Aku—"
Perkataan Luna seketika terhenti, saat Dirga secara tiba-tiba mendekatkan dirinya, hingga jarak mereka berdua hanya terpaut beberapa centimeter saja.
Luna bisa merasakan embusan napas Dirga dari jarak sedekat ini. Membuat jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.
"Jangan mengujiku, gadis kecil. Atau aku benar-benar tidak akan bisa menahannya. Apa kau mengerti?"
Dua pasang mata itu saling beradu pandang. Waktu seolah berhenti sejenak.
Entah apa yang ada di kepala Luna. Akan tetapi, mulutnya seolah terkunci dan tak bisa mengatakan apa-apa di hadapan Dirga.
"Jadilah anak baik. Aku akan pergi sebentar. Kau istirahatlah dan jangan membuat masalah lagi," tutur Dirga memperingatkan lagi.
Pria itu melangkah pergi. Kembali menutup rapat pintu kamar. Kali ini, Dirga akan mengawasi Luna dengan lebih ketat lagi.
Sementara di sisi lain, Luna meraba dadanya. Mencoba merasakan debaran jantungnya sendiri. Ada desiran aneh, saat dirinya berdekatan dengan Dirga beberapa menit yang lalu.
"Argh ...! Sadarlah, Luna. Apa yang kau pikirkan?"
Gadis itu menggigit kecil kukunya sendiri.
"Om Dirga benar-benar berbahaya. Selain seram, dia juga punya sesuatu yang bisa bikin orang lain terhipnotis. Kayanya aku harus lebih hati-hati lagi sama dia."
****
Sementara itu, Dirga pergi bersama beberapa pengawal. Menuju ke sebuah tempat karaoke. Namun, tujuan utamanya datang kemari bukanlah untuk bersenang-senang. Melainkan untuk menginterogasi seseorang.
Dirga duduk dengan angkuh. Sedangkan di hadapannya sudah terdapat seorang pria yang berlutut, dengan kondisi wajahnya yang sudah babak belur.
"T-tuan, tolong lepaskan saya. Saya benar-benar tidak tau apa-apa. Bukan saya yang melakukan semua itu, Tuan," tutur pria bernama Sunandar tersebut.
Bukan hanya tak peduli dengan ucapan Sunandar barusan, Dirga justru dengan tenang mematik api dan menyulut sebatang rokok. Menghisapnya perlahan, kemudian mengeluarkan kepulan asap melalui mulutnya.
"Katakan, apa hubunganmu dengan para b******n itu?" tanya Dirga. Kali ini, nada suaranya masih begitu rendah.
"S-saya benar-benar tidak mengenal mereka, Tuan. Saat bertemu, mereka semua menggunakan topeng."
Sunandar tampak gugup. Sampai-sampai seluruh tubuhnya tampak gemetar.
Dirga bangkit dari kursi. Melangkah mendekati Sunandar dengan tatapan mengintimidasi.
Tangannya meraih salah satu botol di atas meja. Memukulkannya dengan keras ke pinggiran meja, sehingga botol tersebut pun hancur berkeping-keping.
"Hua!" pekik Sunandar saat ujung botol yang tampak tajam itu disodorkan padanya.
"Katakan semua yang kau tau tentang mereka. Jika berbohong, maka ujung botol ini akan langsung menusuk lehermu!" ucap Dirga dengan bringas.
Keringat dingin mengucur deras di tubuh Sunandar. Sepertinya bahkan nyawanya pun akan segera berakhir di sini.
"Mereka sedang bersembunyi di perbatasan kota. Saya tidak tau pasti, Tuan. Saat mereka membawa saya ke sana, saya hanya melihat beberapa orang saja," jelas Sunandar seadanya.
Dirga melirik ke belakang. Di mana Niko berdiri.
"Kalau saya tidak salah ingat, ada sebuah jalan alternatif yang jarang diketahui oleh orang-orang, Tuan. Jalur itu hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja. Apa menurut Anda, kita harus mencoba pergi ke sana?" tanya Niko.
Tatapan Dirga kembali beralih pada pria di hadapannya.
"Sepertinya kali ini nyawamu masih berguna untukku," ucap Dirga, lantas sedikit menyeringai.
Ia bangkit berdiri. Memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengamankan Sunandar. Sementara waktu, pria itu harus tetap hidup. Sebagai alat pancingan, agar para musuh bisa keluar dari tempat persembunyiannya.
Dirga memainkan jarinya. Memberi kode supaya Niko mendekat.
Sang empunya langsung menuruti perintah bosnya tersebut.
Dikeluarkannya sebuah foto dari dalam saku jas pria itu. Lantas menyodorkannya ke arah Niko.
"Cari tau, apa hubungan Bram Sucipto dengan orang di foto itu!" perintah Dirga.
Niko memperhatikan pria paruh baya yang ada di dalam foto tersebut. "Baik, Tuan. Saya akan mengirimkan detailnya kepada Anda sesegera mungkin."
"Hm."
"Lalu, soal Nona Luna. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan? Apa Tuan akan tetap menahannya?" tanya Niko dengan hati-hati.
Dirga membuang puntung rokoknya ke dalam asbak. Memastikan sisa api di benda tersebut benar-benar padam.
"Biarkan saja. Untuk sementara ini, akan lebih baik jika dia tidak tau apa-apa. Pastikan dia tetap dalam kendali kita," jawab pria itu.
Niko mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya akan mengatur semuanya."
Setelah selesai berdiskusi dengan Dirga, Niko segera memberi perintah kepada bawahannya. sembari menyerahkan foto pemberian dari Dirga untuk segera diselidiki.
"Kau pergilah ke kantor. Semua dokumen yang saya minta kemarin harus sudah siap hari ini juga," pinta Dirga.
"Siap, Tuan. Saya akan meminta mereka untuk mengantarkan Anda pulang."
"Hm." Pria itu hanya bergumam sebagai jawaban.
Niko menggunakan isyarat mata kepada bawahannya. Agar mereka mengawal Dirga saat pria itu pulang nanti. Sementara dia akan pergi menuju ke kantor bosnya, untuk melaksanakan perintah yang diberikan kepadanya.
Ponsel Dirga berbunyi. Nama Luna tertera di layar benda persegi tersebut.
"Ada apa?"
"Om, s-sakit."
Mendengar rintihan dari Luna, seketika membuat raut wajah Dirga menjadi panik. Pria itu sampai otomatis berdiri dari posisi duduknya.
"Apa yang terjadi? Kau kenapa, huh?"
"S-sakit."
"Tunggu sebentar. Aku pulang sekarang."
Pria itu segera mematikan sambungan telepon. Lantas mengajak anak buahnya untuk segera kembali ke rumahnya. Ia takut terjadi sesuatu kepada Luna.
Entah hal apa lagi yang dilakukan gadis itu sekarang.
Mobil Dirga melesat dengan cepat. Membelah jalanan kota yang tampak ramai dengan mobil-mobil lain.
Beberapa menit kemudian, akhirnya ia sampai di rumahnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, pria itu segera memasuki rumah. Berlari menuju lantai atas, di mana kamar Luna berada.
Dibukanya pintu kamar Luna dengan terburu-buru. Namun, setelah pintu tersebut terbuka, ia tak menemukan gadis itu di sana.
"Luna," panggil Dirga begitu cemas.
Mata pria itu terus bergerak mencari keberadaan Luna.
"Luna!"
Dirga menaikkan volume suaranya. Sampai langkahnya menuju pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Diketuknya pintu tersebut. Memastikan apakah gadis yang ia cari berada di dalam sana atau tidak.
"Luna, kau di dalam?"
"Om, tolong!" Suara lirih Luna terdengar samar dari dalam kamar mandi.
Sontak hal itu membuat Dirga semakin panik. Pria itu berusaha membuka pintu. Namun, nihil. Pintunya terkunci dari dalam. Terpaksa dirinya mendobrak pintu di hadapannya itu, hingga terbuka.
Seketika mata Dirga tertuju pada gadis yang sudah terduduk di lantai, dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya.
Dengan sigap ia segera mendekat. Berjongkok di hadapan Luna.
"Kakiku sakit, Om," rintih gadis itu.
Sejenak, Dirga justru terpaku melihat handuk Luna yang sedikit tersingkap ke atas. Hingga memperlihatkan pangkal paha gadis itu. Membuat sang empu menelan ludah dengan susah payah.
"Om, tolong bantu aku keluar," lirih Luna. Menyadarkan Dirga dari lamunannya.
"Ah, iya. Baiklah."
Pria itu segera menggendong tubuh Luna. Membawanya keluar dari kamar mandi. Lantas merebahkan tubuh gadis itu dengan perlahan ke atas tempat tidur. Tak lupa ia juga menutupi sebagian tubuh Luna dengan selimut.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan di sana?" tanya Dirga.
"Om pikir aku main jetski? Ya mandilah!" jawab Luna dengan nada sewot.
Sontak hal tersebut membuat Dirga menghela napas kasar.
"Mana yang sakit?"
Luna menunjuk ke arah kakinya menggunakan isyarat dagu. "Itu."
Mata Dirga mengikuti arah pandang Luna. Kemudian menyingkap sedikit selimut yang menutupi pergelangan kaki Luna. Untuk memastikan kondisi kaki gadis itu.
Memang terlihat agak memar dan sedikit bengkak. Sepertinya terkilir.
Dirga segera duduk di pinggir tempat tidur. Hendak memijat kaki Luna.
Baru saja tangan pria itu menyentuh kaki Luna. Sang empunya langsung mencengkram kuat pergelangan tangan Dirga. Membuat kedua pasang mata mereka saling bertemu pandang.
"Diamlah. Aku hanya akan memeriksanya," ucap Dirga. Seolah tahu apa yang ada di pikiran Luna saat ini.
Perlahan Luna melepaskan cengkramannya. Mencoba untuk percaya kepada Dirga.
Namun, beberapa saat kemudian Luna mulai kesakitan. Hingga kedua tangannya mencengkram kuat spray di kedua sisinya.
Melihat ekspresi Luna yang sepertinya sedang menahan sakit, Dirga menyudahi pemeriksaannya. Pria itu kembali bangkit, lalu membenarkan lagi selimut yang ia singkap tersebut.
"Akan ku panggilkan dokter untukmu. Tunggu di sini dan jangan bergerak ke mana-mana," tutur Dirga, lantas pergi menjauh dari Luna untuk menghubungi dokter.
Sementara Luna hanya menatap punggung Dirga yang semakin menjauh.
Sungguh. Ini merupakan peristiwa yang sangat memalukan bagi dirinya. Luna benar-benar merutuki dirinya sendiri, yang terlihat sangat ceroboh di hadapan Dirga.