bc

I love you, Mrs.

book_age18+
57
IKUTI
1K
BACA
goodgirl
powerful
self-improved
confident
inspirational
genius
victorian
virgin
love at the first sight
husband
like
intro-logo
Uraian

Menjadi guru di sebuah sekolah menengah atas yang di mana ada satu kelas seluruh muridnya termasuk kategori super bandel dan nyeleneh. Membutuhkan mental dan fisik yang kuat, itu yang aku persiapkan.

Menggantikan kakakku cuti hamil, aku harus siap menjadi wali kelas dari anak-anak bandel itu.

Ini sebuah tantangan yang baru untukku. Bisakah aku merubah kelas yang di cap buruk oleh penghuni di sekolah tersebut, atau aku akan pulang tanpa bisa merubah para murid di sekolah menengah atas itu?

Ikuti kisahnya di kisah, I love you Mrs ya ...

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog.
Teng! Teng! Teng. Suara bel masuk sekolah berbunyi nyaring. Semua murid yang hadir di sekolah, mereka bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing. Ada yang masuk ke kelas satu, ada yang masuk ke kelas dua, dan ada yang masuk ke kelas tiga. Pun dengan diriku, aku mulai memasuki sekolah baru. Kumulai babak baru dalam dunia belajar mengajar. Menggantikan kakak perempuanku yang memang harus cuti empat bulan penuh, karena harus melahirkan anak ke empatnya. Dan aku yang menggantikan dirinya mengajar di kelas yang sudah di tentukan oleh kepala sekolah. Awal yang rumit memang, secara aku ini adalah mahasiswi lulusan akademik bahasa sastra dan bahasa Indonesia. Seharusnya aku mengajar di jurusan bahasa, namun kali ini aku di tugaskan menjadi wali kelas di sekolah baru. Ini bukan tugas yang mudah. Mengatur siswa siswi yang notabenenya itu terdiri dari beberapa anak yang manut, bandel dan terlampau bandel. Ini sebuah tantangan buatku. Sebagai seorang guru dan juga wali kelas. *** Jam di dinding menunjukkan pukul 07.30 saat aku memasuki langkah pertamaku di kelas 2 bahasa. Sebuah kelas terekstrim di sekolah itu. Semua guru bahkan kepala sekolah pun terkesan masa bodoh dengan kondisi di kelas itu. Siswa-siswanya terlalu bandel dan susah di atur. Mereka bertindak sesuka hati tanpa ada perlawanan dari pihak sekolah. Benar-benar harus memutar otak, bagaimana aku harus mendidik para murid di kelas dua bahasa itu. " Selamat pagi anak-anak ...." pagi itu aku memasuki kelas dua bahasa. Lalu menyapa murid-murid yang ada di dalamnya. Betapa terkejutnya aku, ternyata jumlah murid laki-laki di kelas ini lebih banyak jumlahnya ketimbang jumlah murid perempuan. " Selamat pagi, Mrs." Mereka menyahut sapaanku saat aku berdiri tegap di depan kelas. " Perkenalkan, nama saya Anastasya Pranata. Saya adalah guru baru di sekolah ini. Yang akan menjadi guru sekaligus wali kelas di kelas dua bahasa ini. Menggantikan bu Afifah yang sedang cuti melahirkan." kataku, menahan kegugupan. Melihat para murid laki-laki menatapku dengan tatapan mata entah apa namanya. Antara takjub, dan m***m, aku tidak tahu. Hanya mereka yang tahu. " Masih single gak nih," sahut murid laki-laki. Di iringi gelak tawa yang menggelegar seantero jagat raya. Gaya bicaranya yang terkesan bergurau namun tidak pas terdengar di telingaku. Kuhela nafasku, menghembuskannya kasar lalu menatap murid yang berkata nyeleneh padaku tadi. " Nama kamu siapa?" tanyaku tajam. Kucoba menatap tajam matanya. Menatap tak suka akan tingkah lakunya. Yang di tanya bukannya diam dan malu, ia malah terkesan menyepelekan pertanyaanku padanya. Sungguh membuatku geram. " Jiaaah, nih guru songong banget deh," celetuk murid itu. Dengan kaki yang di angkat ke atas meja. Kedua mataku enggan menatap lama tingkah lakunya. Murid laki-laki ini harus di beri pelajaran yang berharga. Oke, ini sebuah tantangan buatku. " Turunkan kakimu! Dan bicara yang sopan jika gurumu bertanya!" Aku berkata lantang padanya. Mungkin akan membuatnya jera dan menjadi lebih hormat pada guru. " Yaelah ... Nih guru baru, nantangin rupanya," Katanya, masih dengan nada nyeleneh. Ia turunkan kedua kakinya dan berdiri menatap wajahku. " Namaku Kenzo. Lebih tepatnya Kenzo Adiputera. Putera pemilik perusahaan ternama. Dan sekaligus pendonor dana di sekolah ini, paham Mrs." Sambung murid laki-laki itu. Ia memperkenalkan namanya padaku. Sebuah nama yang cukup bagus. Aku suka nama itu. Mengingatkanku pada mantan suamiku yang bernama Kenichi. Pria yang pertama kalinya membuatku jatuh cinta, lalu mencampakkan aku begitu saja karena seorang wanita yang lebih baik dari diriku. Eeh, kok curhat? Kubuat diriku tenang dengan kedua tangan terlipat di belakang. Lalu kami berdua saling pandang, sama-sama tidak menyukai tatapan mata. " Tolong, lebih sopanlah pada guru. Itu akan lebih baik untuk nilaimu ke depannya." Kataku, sambil menatap tajam matanya. Matanya indah. Eeh, kok aku memuji bola matanya? " Coba saja Anda rubah tingkah lakuku dan tingkah laku kami, guru baru songong! Jika berhasil, aku akan menuruti semua yang kamu sarankan padaku!" ucapnya sombong. ' Astaghfirullahaladzim... ' batinku bergumam. Nih anak sepertinya tidak pernah di perhatiin oleh ibu bapaknya. Atau mungkin dia memang begitu? " Duduk! Dan sopanlah jika berkata dengan guru!" Aku menggertak. Murid laki-laki itu hanya tersenyum padaku. Sepertinya ini akan jadi langkah awal pertarunganku dengannya. Ia pun menuruti perintahku. Kemudian duduk di kursinya. Lalu menyeringai seperti akan menerkamku hidup-hidup. " Baiklah, itu tugas yang mudah untukku. Jika berhasil, lakukan apa yang aku perintahkan tanpa ada masalah yang menghambat, paham!" ancamanku mudah-mudahan berhasil. Murid laki-laki bernama Kenzo itu tersenyum menyeringai, ia menatap tubuhku dari atas sampai bawah. Lalu dia mendekatiku dan berbisik, " Dadamu indah, Mrs." Astaga! Benar-benar gila ini bocah. Dia berbicara tanpa memikirkan akibatnya pada lawan bicara. Ini tidak akan aku biarkan. Plak! Aku melayangkan tamparan pada pipinya saat ini. Semua mata tertuju padaku. Hampir dari mereka berdiri tegak saat tangan kananku menampar wajah Kenzo. Mereka mendelik sinis padaku. Namun, sikap tenang Kenzo membuyarkan rasa dendam mereka padaku. Ia menyuruh teman-temannya untuk tetap tenang dan duduk kembali ke kursi masing-masing. " Aku suka caramu, Mrs. Lain kali kita lanjutkan lagi di waktu yang tepat," katanya, sambil tersenyum menyeringai padaku. Glek! ' Kakak ... Aku mau bebas dari sini ...! ' pekikku dalam hati. *** Awal mula yang menyeramkan buatku. mengajar di kelas yang terkenal angker. Bukan karena ada makhluk halus, akan tetapi makhluk berjenis kelamin laki-laki yang siap menyerang guru baru yang tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan. Dan parahnya lagi, siswi yang jumlahnya tidak lebih dari delapan itu hanya bisa pasrah dan menerima apapun yang dilakukan teman sekelasnya itu. Intinya semua sama. Inilah awal karierku dan akhir dari karierku. Apakah aku harus bertahan ataukah mundur? Semoga saja aku bisa bertahan dari mereka yang akan menyingkirkanku mengajar di kelas dua bahasa. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

BRAVE HEART (Indonesia)

read
92.8K
bc

Mrs. Fashionable vs Mr. Farmer

read
440.9K
bc

Om Bule Suamiku

read
8.9M
bc

INFANTEM

read
44.1K
bc

The Perfect You

read
298.0K
bc

Sekretarisku Canduku

read
6.6M
bc

Marriage Not Dating

read
561.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook