Bab 4

789 Kata
“Beb, apa tidak berniat untuk berhenti? Kita pindah saja ke bandung, di sana lebih damai dan tenang. Tabungan kita sudah lebih dari cukup. Bahkan kita bisa tidak bekerja jika harus seperti itu.” Addison yang awalnya sudah berada di ambang pintu pun berbalik menatap istrinya. “Rangga Admajaya dan Nathalie, bikan hanya sekedar teman bagiku. Mereka berdua adalah nyawaku! Apa kamu pikir aku bisa meninggalkan nyawaku? Sejak awal aku katakan padamu sayang! Aku tidak bisa menikah saat ini. Tapi dirimu terus memaksa, lalu aku katakan lagi padamu sebuah syarat. Apa jawabanmu saat itu?” Dhenia terdiam dan menunduk, dia tidak bisa menjawab karena dia sadar diri. Dan apa yang dikatakan suaminya adalah kebenaran. “Beb, maafin aku,” ucap Dhenia sambil berjalan mendekati suaminya. Addison mengusap wajah istrinya. “Jangan pernah berkata seperti itu lagi! Aku sudah janji padamu saat kita menikah! Jika mereka tidak membutuhkan aku lagi, kita akan pergi kemana pun yang kamu mau, Beb.” Wanita itu mengangguk sambil mengusap air matanya. Dia sangat takut jika suaminya itu mulai marah, baginya emosi orang diam itu sangat berbeda. “Maaf ya,” ucap Dhenia dengan suara rendah. “Tidak apa-apa, Beb!” jawab Addison mengusap wajah istrinya. Addison beranjak ke meja makan. Dia tidak pernah cerewet untuk apapun yang di masak oleh istrinya. Sekali pun itu racun! “Enak enggak, Beb?” Addison mengangguk! “Ini enak, tapi lebih baik kurangi garamnya,.” jawab Addison sambil tersenyum. Dhenia mengerutkan kening, dengan cepat tangannya menyambar Sop daging itu! Mata wanita itu selalu melotot dan merebut apa yang suaminya makan. “Biar aku goreng telur saja untukmu,” dia berusaha menahan tangisnya. Ini sudah terbiasa terjadi, dan tidak aneh lagi bagi Addison. Tapi bagi Dhenia hal ini begitu memukulnya! Dia bukan tidak pernah ikut kursus memasak! Tapi Rangga Admajaya sangat membuat dirinya kerepotan. Addison berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah istrinya yang sibuk mengocok telur. Tangan pria itu pun melingkar di pinggang istrinya. “Aku mencintaimu,” bisik Addison. Dhenia terdiam sejenak, lalu dia meletakkan apa yang dia kerjakan tadi. “Apa cinta bisa mengurangi rasa asinnya?” tanya Dhenia berbalik sambil mengalungkan tangannya di leher Addison. “Apa ini adalah sebuah kode bagiku?” Wanita itu memincingkan matanya. “Anak kita sudah tidur dan ini hari minggu. Perutmu ini sudah terisi dua sendok nasi! Apa menurut kamu kita bisa melakukannya?” Addison tidak ingin tanya jawab lebih lama lagi dari pada ini. Dengan cepat dia menggendong tubuh istrinya, sampai wanita itu sedikit terpekik. “Kamar yang di sana saja,” tunjuk Dhenia pada suaminya. Wanita itu tidak ingin membuat gempa lokal pada bayi kecil mereka. Oh dia tidak ingin pikiran nakalnya berakhir dengan kecut. Tangan Dhenia mulai meraba tubuh suaminya. Dengan sedikit gerakan memancing, Dhenia memainkan d**a suaminya dengan rematan kecil. Addison tersenyum pada istrinya yang nakal, dengan lembut dia membaringkan sang istri. Pria itu pun tanpa basa-basi langsung membuka pakaiannya. Tubuh dengan otot yang menonjol, di tambah bulu d**a yang nakal. Oh, Dhenia suka sekali bulu-bulu yang tumbuh itu. “Aw Beb, sakit sekali,” teriak Addison saat Dhenia menggigit bulu dadanya dan menarik dengan kuat. Dhenia berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa, dia menikmatinya. Semua ini bukan untuk menjahili Addison, tapi karena dia memang suka. “Aku suka melakukannya! Bahkan ini sudah aku lakukan sejak kita menikah. Kenapa masih terasa sakit?” ucapnya dengan manja. “Kau menggodaku, Beb?” bisik Addison yang sudah menyelipkan tangan besarnya di antara rambut wanita yang sudah mulai b*******h. “Kau seksi, Bebeh,” Dhenia kembali tersenyum sambil meraba bagian sensitif suaminya. “Aku b*******h, aku basah,.” jawab wanita yang kini sudah menggeliat karena gigitan kecil di telinganya. Mereka berdua sudah hanyut saat ini! Bahkan bel yang berkali-kali bunyi pun tidak mereka hiraukan. Sepasang suami istri itu sudah polos tanpa apapun. Dhenia mengerang saat suaminya mulai nakal menyentuh di setiap bagian tubuhnya. Addison sangat lembut, bahkan tangan dan bibirnya terasa begitu indah, hingga wanita itu tidak ingin lepas dari suaminya. “Jangan keluarkan! Aku masih mau Beb,” “Apa kau tidak mendengar bel kita berbunyi?” Addison berkata dengan terbata karena dirinya akan keluar saat ini juga. Dhenia memejamkan matanya, apalagi jika dia mengingat siapa manusia yang selalu brutal menekan bel rumahnya. “Pelan Beb,” wanita itu kembali mengerang dengan kuat. Addison mengerang, dia akan sampai dan tidak lama s****a itu pun masuk memenuhi rahim istrinya. Bel berbunyi dengan kuat, seorang pengurus rumah tangga mendatangi Rangga Admajaya dan menyerahkan pesanan pria tersebut. Ini sudah hampir subuh, tapi gadis yang sejak tadi tergeletak di lantai masih setia di posisi sebelumnya. Aku benar-benar lelah dan butuh tidur, kau tidak boleh pergi begitu saja! Ucap Rangga Admajaya sambil melihat wajah Faranisa. Dia berjalan ke arah pintu dan menguncinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN