Bab 5

797 Kata
Selamat subuh, aku harus tidur Nona, Rangga Admajaya menarik selimut dan memejamkan matanya. Menjelang pagi, Faranisa yang baru sadar dari kubur pun mengucek mata dan melihat di sekelilingnya. Dia sedikit heran dan mengucek matanya berkali-kali. Dimana aku? Tanya gadis itu dalam hatinya. Dia mencoba berdiri, tapi tubuhnya sungguh lemas. Matanya pun menatap sebuah piring yang terisi makanan. Lapar! Dia hanya menggumam dan berjalan ke arah nakas. Arghh ini enak sekali, manis! Faranisa berkata sambil mengunyah. Dia tidak sadar ada seorang pria yang menompah kepala sambil menatap ke arahnya dengan tatapan dingin. Faranisa yang semula berjongkok pun meluruskan kakinya, “Ugh,” Gadis itu tersedak. “Ugh,” Gadis itu mengambil cepat botol air mineral yang di berikan seseorang, “Ah, leganya,” ucap gadis itu. Faranisa yang belum sadar pun terdiam sejenak ketika bibirnya yang masih basah oleh air di sapu seseorang dengan jari. Faranisa mematung, dan Rangga Admajaya yang melihat itu tersenyum, menyambar bibir Faranisa hingga gadis itu tersadar karena lidahnya sudah memasuki seluruh rongga. Napas Faranisa sesak, ini adalah ciuman pertamanya. Lagipula, dia tidak kenal siapa pria yang ada di hadapannya saat ini. Dengan sekuat tenaga, Faranisa memukul d**a Rangga Admajaya. Dia mengerang, sesekali mencari sela untuk melepaskan diri. Rangga Admajaya tersenyum dalam lumatannya, mata mereka berdua bertemu, tapi Rangga Admajaya tidak juga ingin memberi kebebasan. Pria itu suka wajah Faranisa yang bodoh karena sentuhan bibir yang dia lakukan. Pria itu memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, dia tampak menikmati sekali permainannya. “Kau seksi,” bisik Rangga Admajaya yang semakin menekan bibir gadis itu agar dia bisa merasakannya lebih dalam. Faranisa mengerang, dia tidak bertenaga lagi. Dia tidak sanggup melawan pria bertubuh atletis di hadapannya saat ini. Gadis itu berkata dalam hatinya, Dimana aku sebenarnya? Apa aku benar-benar akan di perkosa saat ini? Apa harga diriku akan hancur? Apa ini memang takdirku? Sejuta tanya menyesakkan dadanya. Apalagi saat Rangga Admajaya melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu dan menariknya ke atas ranjang. Lumatan yang tidak teputus dan gerakan tangan besar yang berusaha naik ke atas tubuh Faranisa. Membuat suasana di kamar tersebut semakin panas. Rangga Admajaya bermain dengan gerakannya, tangannya merangkak menyentuh setiap tubuh Faranisa seolah menggoda wanita itu. “Jangan berteriak,” bisik Rangga Admajaya saat dirinya sudah menarik kerah karet yang Faranisa gunakan turun ke bawah. Faranisa memejamkan matanya, dia berusaha menggigit bibirnya sendiri saat Rangga Admajaya dengan b*******h melumat miliknya. Satu persatu pakaian Faranisa di lepasakan dengan ahli, tubuh gadis itu kini sudah polos. Rangga Admajaya mengerang, apalagi saat dirinya merasa melayang dan tidak ingin menghindar. Dia tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini. “Ampun,.” rintih Faranisa saat lumatan Rangga Admajaya yang awalnya lembut, kini mulai bercampur dengan gairah. “Nikmati saja, atau kau akan mati!” Ancam Rangga Admajaya yang kita semua tahu, kalau itu hanyalah kebohongan besar. Memangnya Rangga Admajaya seorang pembunuh? Dia hanya menggertak Faranisa agar mengikuti permainannya. “Ja, jangan,” rintih Faranisa! “Aku belum pernah melakukannya,” lanjutnya lagi sambil menangis. Rangga Admajaya tersenyum, dia sangat ingin memasuki diri gadis di hadapannya. Tapi dirinya bukanlah pria bengis yang tidak memiliki perasaan. Selama ini, wanitalah yang naik ke ranjangnya. Rangga Admajaya mengusap rambut Faranisa, lalu mengecup keningnya lembut. Gadis itu sempat ternganga, sampai dirinya berakhir dengan sebuah wajah bodoh. Rangga Admajaya senang melihat wajah bodoh itu! Pria itu berdiri dari duduknya, lalu dengan santai memakai celananya dan mengambil botol wine yang berdiri indah di rak sebelah jendela besar. “Jadi kau anak Riyanti?” Tanya Rangga Admajaya dengan suara datar. Faranisa mengangguk, dan Rangga Admajaya melihatnya dari pantulan jendela. “Ayah meninggal dunia, dan aku kemari mencari Ibu. Rumah, tanah, perkebunan, semuanya di ambil oleh adik tiri ayah. Aku tidak punya tempat kembali.” jawab Faranisa jujur. “Ck, Sial!” Rangga Admajaya mengumpat sambil membalik tubuhnya menatap Faranisa. “Jadi kau datang kemari karena tidak punya uang?” Dia mengangguk, “Iya, seperti itu!” jawabnya. “Aku harus sekolah, karena itu cita-cita ayah. Aku harus masuk perguruan tinggi!” “Jadi kau menemui ibumu agar dia mau membiayai kuliahmu?” Faranisa lagi-lagi mengangguk. “Iya,.” Rangga Admajaya benar-benar kesal mendengarnya. Dia seperti gadis matre yang biasa dia temui. Wajah polos yang ada pada gadis di hadapannya sangat tidak cocok dengan kepribadian gadis tersebut. “Ternyata hanya wajahmu saja yang polos! Tapi hatimu sama dengan wanita gila itu,” “A, apa maksud kamu,” Rangga Admajaya terkekeh, “Ibumu, wanita gila yang haus harta! Dia pembantu di rumah ini, tapi dia memberi racun pada Ibuku dan merangkak menjadi Nyonya. Wanita gila harta,” umpatnya “Jangan sembarangan bicara! Ibuku tidak seperti itu,” Rangga Admajaya menarik napasnya, lalu dia melempar bungkusan plastik yang di pesan oleh Dhenia. “Mandi, dan pakai itu, kita akan lihat, seberapa peduli ibumu itu pada anaknya!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN