Bab 6

805 Kata

Faranisa terdiam, tapi dia tidak berpikir jernih. Sejak awal, dia hanya berpikir, mungkin ibunya akan luluh ketika berhadapan di depan mata. Banyak orang bilang, bahkan pepatah juga mengatakan. Kasah sayang ibu sepanjang masa. Ibunya tidak mungkin melakukan hal jahat, jika dia sudah melihat dirinya. Faranisa pun berdiri dari duduknya, lalu dengan tubuh polos dia berjalan ke arah kamar mandi. Rangga Admajaya yang berdiri tepat di depan Faranisa sempat terdiam, menelan saliva. Tubuh gadis itu sangat indah, dia tidak seperti anak berumur belasan tahun. Belum lagi kulit putih mulusnya sangat menggairahkan. Sial! Bisa-bisanya dia begitu indah, hooh! Belum lagi, ugh, lembut dan besar dengan ujung yang ranum! Ucapnya sambil tersenyum melihat kedua telapak tangan yang setengah jam yang lalu meny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN