"Aku menunggu berita darimu, dan jangan buat aku menunggu terlalu lama. Ini tak adil ," Pria yang berada di seberang sana mulai mendengus kesal dan akhirnya kata. "Terserah kau saja! Beri aku waktu lima belas jam." tambahnya dengan nada kesal dan akan langsung mematikan panggilan tersebut. “Aku menunggu kabar baik yang akan kau berikan, jangan kecewakan aku karena semua sudah cukup membuat diri ini muak! Kau mengerti maksudku, bukan? Aku ingin Rangga Admajaya atau bayi ini aku bunuh. ”Tit… panggilan berakhir dengan umpatan muak. Pagi menjelang, seolah mimpi Rangga Admajaya melihat bayi mereka kini sudah mulai tersenyum padanya. “Dia… Lea tersenyum padaku… pagi Anak gadis papi…” Faranisa tersenyum melihat Rangga Admajaya yang terlihat berbeda. Dia tak memenuhi wajah kesal atau playboy.

